Konflik Lahan Sawit di Subulussalam Memanas, Netap Ginting Klaim Jadi Korban Ancaman Parang

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Rabu, 25 Februari 2026 - 18:38 WIB

50393 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Subulussalam – Konflik sengketa lahan sawit di Kecamatan Longkib, Kota Subulussalam, semakin memanas dengan munculnya tuduhan penganiayaan yang dilaporkan oleh sejumlah warga Desa Lae Saga terhadap Ir. Netap Ginting. Namun, Netap dengan tegas membantah keras tuduhan tersebut dan mengungkapkan bahwa dirinya justru menjadi korban pengancaman dengan senjata tajam. Dalam keterangannya pada Selasa (24/2), Netap menyebut laporan penganiayaan itu sebagai fitnah keji yang tidak berdasar dan merupakan upaya pembunuhan karakter yang sengaja diarahkan untuk memutarbalikkan fakta sebenarnya.Menurut Netap, dirinya tidak pernah melakukan tindakan kekerasan sebagaimana yang dituduhkan. Ia menjelaskan bahwa insiden bermula saat dirinya bersama tim mendatangi lokasi kebun sawit yang dikelola berdasarkan surat kuasa resmi dari 14 pemilik lahan. Saat itu, terjadi perdebatan sengit karena ada pihak yang tetap melakukan pemanenan tanpa izin di lahan tersebut. Dalam situasi yang memanas, seorang pria bernama Mirza tiba-tiba mencabut parang dari sarungnya dan mengancamnya dengan kata-kata, “Ku habisi kau.” Ancaman tersebut membuat Netap merasa ketakutan dan trauma.

“Ini bukan ancaman biasa, tapi intimidasi serius yang membahayakan keselamatan jiwa saya,” ujar Netap. Ia menegaskan bahwa pihaknya adalah korban, bukan pelaku kekerasan. “Mereka masuk ke kebun kami tanpa izin, dan saat kami melarang memanen, saya malah diancam dengan parang,” tambahnya.

Baca Juga :  Longsor di Jalan Lintas Aceh - Sumut Sebabkan Lalulintas Terhenti, Polisi Imbau Masyarakat Waspada

Pernyataan Netap diperkuat oleh Muslim, seorang saksi mata yang juga menjabat sebagai PAM Swakarsa di wilayah tersebut. Muslim menegaskan bahwa tidak ada penganiayaan yang dilakukan oleh Netap. Justru, ia melihat langsung Mirza menghunus parang saat perdebatan berlangsung. “Saya saksikan sendiri, Pak Netap yang diancam, bukan sebaliknya,” kata Muslim.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Netap juga menjelaskan bahwa pengelolaan lahan sawit tersebut didasarkan pada surat kuasa resmi dari 14 pemilik lahan yang memiliki 75 Akta Jual Beli (AJB) yang diterbitkan pada tahun 2012 oleh Notaris Surya Darma. Selain itu, terdapat akta notaris terbaru yang dikeluarkan oleh Notaris Aldi Subhan Lubis, SH., M.Kn dengan nomor 72/PDPSDBTAL-NOT/II/2026 sebagai penguatan kuasa pengelolaan lahan. Lahan yang berada di Desa Lae Saga dan Desa Belukur Makmur tersebut telah dibayar lunas sejak 2012 dan telah ditanami sawit serta diberi parit batas yang dikenal dengan parit gajah.

“Kenapa kami yang punya legalitas jelas justru dituduh mencuri di lahan yang sawitnya kami tanam sendiri sejak 2012? Ini sangat tidak masuk akal,” tegas Netap.

Baca Juga :  Berebut Pokirkah DPRK Subulussalam Atas Keterlambatan Pembahasan APBK Merugikan Rakyat

Lebih lanjut, Netap mengungkapkan bahwa pihaknya telah lebih dulu melaporkan dugaan pencurian hasil panen dan pengancaman tersebut ke Polres Subulussalam. Ia berharap aparat penegak hukum dapat bekerja secara profesional dan objektif tanpa terpengaruh oleh opini liar yang berkembang di masyarakat. “Akibat pengancaman dengan parang itu, saya mengalami ketakutan dan trauma. Saya berharap kepolisian segera menindaklanjuti agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.

Netap dan timnya juga mengecam keras tindakan oknum-oknum yang dianggap sengaja membuat laporan fitnah demi menjatuhkan nama baiknya. Mereka menilai praktik tersebut tidak hanya merusak reputasi seseorang, tetapi juga berpotensi memecah belah masyarakat dan memicu konflik sosial yang lebih luas di Kecamatan Longkib. “Jangan jadikan hukum sebagai alat untuk menyerang dan memfitnah. Jika memang merasa benar, buktikan dengan data dan dokumen yang sah, bukan dengan narasi sesat,” tegas Netap.

Kasus ini kini menjadi perhatian publik yang menanti kepastian hukum dari aparat penegak hukum. Masyarakat berharap agar proses penyelidikan dan penegakan hukum berjalan transparan dan adil sehingga konflik berkepanjangan di wilayah tersebut dapat segera diselesaikan secara damai dan berdasarkan aturan yang berlaku. (TIM)

Berita Terkait

Pemerintah Aceh Serahkan Bantuan Alat Bantu Disabilitas di Hari Jadi Kota Subulussalam
Tokoh Masyarakat Aceh Singkil Haloan Sadri Minta MBG Diperkuat, Jangan Menambah Mata Rantai Baru yang Sulit Diawasi
Haji Abdul Hamid Padang Minta Pelibatan Kantin Sekolah dalam MBG Dikaji Matang, SPPG Dinilai Perlu Dibenahi
TR. Aceh Terumon Soroti Wacana Pelibatan Kantin Sekolah dalam Program MBG, SPPG Dinilai Lebih Penting Dievaluasi dan Diperkuat Pengawasannya
Putusan NO Tak Menghapus Jejak Dokumen dalam Sengketa Lae Saga
Kasus Pemalsuan Tanda Tangan: Jejak AJB Bermasalah dan Dugaan Penguasaan Lahan Warga Lae Saga, Penyidik Diuji
Pilkam Gunung Bakti Memanas, Dokumen Pindah Datang Nasti Bertanggal Lima Desember Dua Ribu Dua Puluh Empat Jadi Sorotan Dua Kandidat
Polemik Lahan Singgersing: Warga Minta Musyawarah, Jangan Sampai Konflik Meledak di Tengah Masyarakat

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:38 WIB

Celoteh Sandi FW: Kebakaran Atau KeKaburan Hutan?

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:47 WIB

Satreskrim Polres Tanggamus Amankan Pria Diduga Jual Solar Subsidi, 200 Liter BBM Disita

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:27 WIB

Kades Pematang Baru Ditahan, Dugaan Korupsi APBDes 2024 Rugikan Negara Rp585 Juta

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 07:14 WIB

Celoteh Sandi FW: “BBM Langka, Salah Siapa?

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:21 WIB

Tim Dosen Unila Bantu Pemetaan Aset dan Infrastruktur Desa Sukanegara Berbasis GIS

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Operasi Antik Krakatau 2026, Polres Tanggamus Ungkap 25 Kasus Narkotika dan Amankan 27 Tersangka

Rabu, 30 September 2026 - 18:24 WIB

KEJAKSAAN NEGERI PRINGSEWU MUSNAHKAN BARANG BUKTI TINDAK PIDANA YANG TELAH BERKEKUATAN HUKUM TETAP (INKRACHT)

Rabu, 30 September 2026 - 18:15 WIB

Kejaksaan Negeri Pringsewu Hentikan Penuntutan Perkara Pencurian Melalui Pendekatan Keadilan Restoratif

Berita Terbaru