Fenomena Narasi Di Media Sosial:Tantangan Ketahanan Kognitif Indonesia

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Minggu, 12 Juli 2026 - 15:51 WIB

50124 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Letjen TNI (Purn) Bambang Darmono

JAKARTA | Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik Indonesia dipenuhi narasi spekulasi tentang adanya kompetisi pengaruh di antara elite negara, seperti Kejaksaan versus Kepolisian yang dimulai oleh penangkapan Brigjen Pol Lalu Mohamad Irwan pada 1 Juli 2026 serta penggeledahan caffee dan rumah Jampidsus Febri Adiansyah pada 8-9 Juli 2026 yang berujung pada penetapan tersangka terhadap Febrie Adriyansah.

Sesungguhnya, berbagai peristiwa, seperti penanganan kasus-kasus korupsi besar, dinamika antar lembaga penegak hukum, hingga hubungan antara tokoh-tokoh politik nasional, telah melahirkan beragam interpretasi di media sosial maupun media arus utama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penting ditegaskan, bahwa sebagian narasi tersebut masih berada pada ranah persepsi dan spekulasi. Belum terdapat bukti yang cukup kuat untuk menyimpulkan adanya pembelahan kekuatan sebagaimana digambarkan di ruang publik. Akan tetapi, dalam perspektif keamanan nasional bukan hanya benar atau salah spekulasi, tetapi bagaimana persepsi berkembang memengaruhi perilaku masyarakat, kepercayaan kepada pemerintah, dan berujung pada ketahanan nasional.

Media sosial telah mengubah cara masyarakat memahami politik, jika sebelumnya masyarakat memperoleh informasi terutama dari media arus utama dan pernyataan resmi pemerintah, kini informasi bergerak melalui ribuan akun, kanal digital, influencer, dan kominitas daring yang saling memperkuat narasi tertentu.

Dalam situasi seperti ini, sebuah peristiwa tidak lagi dipandang hanya sebagai fakta, tetapi segera ditempatkan kedalam cerita yang lebih besar. Setiap kelompok cenderung menghubungkan berbagai kejadian menjadi satu rangkaian yang dianggap saling menjelaskan.

Akibatnya, satu fakta akan melahirkan banyak interpretasi. Pemberantasan korupsi dapat dipandang sebagai upaya penegakan hukum oleh satu kelompok, tetapi kelompok lain dapat memaknainya sebagai bagian dari kontestasi politik. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa yang sedang diperebutkan bukan hanya kekuasaan, melainkan juga cara masyarakat memahami realitas.

Baca Juga :  OC Kongres PWI 2025: Terima Kasih atas Dukungan Peserta, Aparat, dan Mitra Strategis

Apabila dicermati, benang merah yang menghubungkan seluruh spekulasi tersebut adalah persoalan kepercayaan publik (trust). Ketika tingkat kepercayaan terhadap institusi negara tinggi, masyarakat cenderung menerima penjelasan resmi dan menilai satu kebijakan berdasarkan substansinya. Sebaliknya, ketika kepercayaan melemah, fokus masyarakat bergeser dari pertanyaan “apa yang terjadi”, menjadi “siapa yang berada di balik peristiwa ini”.

Dalam kondisi demikian, ruang kosong informasi dengan cepat diisi oleh spekulasi. Masyarakat mulai membangun sendiri hubungan sebab dan akibat yang belum tentu dapat dibuktikan. Fenomena ini diperkuat oleh algoritma media sosial yang cenderung memperlihatkan informasi yang sesuai dengan keyakinan pengguna, sehingga membentuk echo chamber dan memperkuat confirmation bias.

Dalam perspektif ketahanan nasional, hubungan antara kepercayaan publik dapat dipahami melalui empat tahapan, sebagai berikut:

Pertama, kepercayaan merupakan fondasi hubungan antara negara dan masyarakat (trust);

Kedua, kepercayaan yang tinggi akan memperkuat legitimasi institusi negara. Sebaliknya, apabila kepercayaan menurun, legitimasi institusi mulai dipertanyakan (legitimasi);

Ketiga, kepatuhan legitimasi yang kuat akan mendorong masyarakat untuk mematuhi kebijakan negara, sedangkan legitimasi yang melemah memunculkan resistensi, sinisme bahkan apatisme (compliance);

Keempat, ketika kepatuhan sosial menurun secara terus menerus stabilitas nasional menjadi rentan terhadap guncangan politik, ekonomi, maupun sosial (stabilitas).

Dengan demikian, ancaman terhadap keamanan nasional tidak selalu diawali oleh konflik fisik. Ia dapat bermula dari menurunnya kepercayaan publik.

Realitas sosial menunjukkan, perkembangan teknologi informasi telah melahirkan bentuk kompetisi baru yang sering disebut sebagai cognitive warfare atau perang kognitif. Berbeda dengan propaganda konvensional, perang kognitif tidak selalu dilakukan dengan menggunakan informasi palsu, tetapi justru dengan memilih fakta tertentu, menonjolkannya, menghubungkannya dengan peristiwa lain, lalu membiarkan masyarakat menyusun sendiri kesimpulannya. Tujuan akhirnya bukan semata-mata mengubah pilihan politik masyarakat, tetapi mengubah cara masyarakat berpikir, menilai institusi, dan memandang negara.

Baca Juga :  Dari Borobudur, Indonesia dan Prancis Luncurkan Kerja Sama Sektor Ekonomi Kreatif

Dalam konteks ini, keberhasilan upaya penanggulangan dapat diukur dari menurunnya jumlah berita bohong dan berkurangnya polarisasi di media sosial, atau disebut ketahanan kognitif masyarakat meningkat.

Apabila kompetisi narasi terus berkembang tanpa komunikasi publik yang efektif, risiko strategis dapat muncul sbb:

Pertama, meningkatnya polarisasi;

Kedua, melemahnya legitimasi;

Ketiga, menurunnya kepercayaan terhadap proses penegakan hukum;

Keempat, semakin terbukanya berbagai ruang bagi aktor domestik maupun asing untuk memanfaatkan situasi melalui operasi informasi.

Hal yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai institusi negara tidak lagi dipersepsi sebagai alat negara, melainkan sebagai representasi kelompok politik tertentu. Apabila persepesi ini berkembang luas akan menggerus kohesi nasional.

Menghadapi realitas tantangan ini, diperlukan kondisi ketahanan kognitif nasional sebagai bagian dari penguatan ketahanan nasional. Membangun ketahanan kognitif bangsa, bukan berarti harus membatasi kritik atau mengendalikan opini publik. Sebaliknya harus bertujuan memperkuat kemampuan masyarakat untuk membedakan fakta, opini dan spekulasi; meningkatkan literasi digital; mendorong komunikasi publik yang transparan; serta memperkuat kepercayaan melalui tata kelola pemerintah yang akuntabel.

Dalam era informasi saat ini, ketahanan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, militer, atau politik, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga kualitas berpikir dan mempertahankan kepercayaan terhadap institusi negara.

Perdebatan mengenai hubungan antar elite politik kemungkinan akan terus menjadi bagian dari dinamika demokrasi Indonesia. Tetapi, pertanyaan penting dalam kaitan ini adalah, apakah fenomena kompetisi narasi tersebut memperkuat atau melemahkan.

Jika kepercayaan publik terus terjaga, maka perdebatan politik akan tetap berada pada koridor demokrasi. Sebaliknya apabila kepercayaan terus terkikis oleh perang persepsi dan perang kognisi serta kompetisi narasi yang tidak terkelola, setiap krisis akan berpotensi berkembang menjadi krisis legitimasi.

Berita Terkait

BNI Hiraukan Perkapolri No 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksana Satuan Pengamanan.
Napi Sering Kabur, Tapi Kanwilnya Tidak Pernah di Copot, Anggota Komisi XIII DPR RI Arisal Aziz Usulkan Copot Kepala Kanwil Pemasyarakatan Riau dan Kalapas Pasir Pangaraian
Soroti Deretan Masalah, KAMAKSI Desak OJK dan KPK Periksa Direksi BCA
Dudung Abdurachman Di Lantik Menko Polkam, Aktivis Nasional : Sosok Figur Terbaik yang Loyal Terhadap Bapak Presiden Prabowo
Pernyataan Jokowi Dipersoalkan, Jerry Massie Klaim Ada Ratusan Pernyataan yang Dinilainya Bermasalah Selama Sepuluh Tahun
Trio Suryono Persembahkan 10 Karya Buku Inspiratif untuk Kemajuan Dunia Korporasi dan Energi di PT PLN.
Prof DR Sutan Nasomal : Korupsi di Bogor Para ASN Bawahannya Ikut Pucuk Pimpinan Semua. Maka Kpk Jangan Basa Basi Harus Tangkap Pucuk Sampai Akarnya
Kemitraan Media Jadi Sorotan, SWI Jabar Minta Mekanisme yang Jelas demi Mewujudkan Informasi Publik Berkualitas

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 19:49 WIB

Kapolsek Teluk Meranti Hadir di Malam Akrab Polres Pelalawan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:49 WIB

Apresiasi Kapolda Riau Camat Teluk Meranti Sukseskan Ekspedisi Merah Putih

Sabtu, 11 Juli 2026 - 18:08 WIB

Wujudkan Sekolah Ramah Anak, Bhabinkamtibmas Teluk Meranti dan Mahasiswa KKN UNRI Beri Edukasi di SDN 015

Selasa, 7 Juli 2026 - 07:27 WIB

Bhabinkamtibmas Polsek Teluk Meranti Cek Lahan Cabai Warga Dukung Ketahanan Pangan

Minggu, 5 Juli 2026 - 23:31 WIB

Syukuran HUT Bhayangkara & Kenaikan Pangkat 3 Personel Polsek Teluk Meranti Meriah

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:42 WIB

Jabat Erat Tangan Kapolres, 3 Personel Teluk Meranti Resmi Sandang Pangkat Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 - 13:00 WIB

Bhabinkamtibmas Polsek Teluk Meranti Kawal Lahan Warga Menuju Swasembada Pangan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 21:40 WIB

Bhabinkamtibmas Teluk Meranti Dukung Swasembada Pangan Petani

Berita Terbaru

SIAK

Jagung 0,5 Ha di Sabak Auh Tumbuh Subur, Usia 40 Hari

Selasa, 6 Okt 2026 - 18:45 WIB