SUKA MAKMUE – Musim panen padi di sejumlah wilayah Kabupaten Nagan Raya, Aceh, membawa kabar menggembirakan bagi para petani. Hasil produksi yang melimpah menjadi harapan meningkatnya pendapatan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Namun, di tengah melimpahnya hasil panen tersebut, sebagian petani di Kecamatan Seunagan Timur dan Kecamatan Seunagan justru menghadapi persoalan dalam memasarkan gabah hasil panen mereka.
Puluhan ton gabah dilaporkan masih tertumpuk di sejumlah lokasi, mulai dari rumah petani hingga di pinggir jalan. Kondisi ini membuat petani berharap adanya langkah cepat dari pihak terkait agar gabah mereka dapat segera terserap dengan harga yang layak.
Salah seorang petani Desa Blang Bayu, Kecamatan Seunagan Timur, Arsyad, kepada media ini, Rabu (23/9/2026), mengatakan hasil panen petani saat ini cukup melimpah. Namun, sebagian petani kesulitan mendapatkan pembeli yang mampu menyerap gabah dalam jumlah besar.
“Gabah hasil panen sudah banyak, tetapi pembelinya belum ada. Sebagian gabah terpaksa kami simpan di rumah, bahkan ada yang ditumpuk di pinggir jalan karena tempat penyimpanan petani terbatas,” ujar Arsyad.
Menurut Arsyad, kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi petani. Gabah yang terlalu lama disimpan berpotensi mengalami penurunan kualitas, terutama apabila kondisi cuaca tidak mendukung.
“Harapan kami Bulog bisa segera turun ke lapangan dan membantu menyerap gabah petani. Kami ingin hasil panen ini segera terjual sehingga petani tidak mengalami kerugian,” harapnya.
Bulog Respon Cepat
Menanggapi keluhan tersebut, Pemimpin Cabang Perum Bulog Meulaboh, M. Hafizuddin, memberikan respons cepat dengan menurunkan tim Jemput Gabah serta kerjasama melalui Mitra Penggilingan Padi saat dihubungi media ini melalui WhatsApp, Rabu (23/9/2026).
Respons tersebut menjadi angin segar bagi para petani yang saat ini sedang membutuhkan kepastian penyerapan hasil panen.
M. Hafizuddin menyampaikan bahwa pihak Bulog akan memperhatikan informasi terkait kondisi gabah petani di wilayah Nagan Raya, khususnya Kecamatan Seunagan Timur dan Kecamatan Seunagan.
Langkah cepat Bulog tersebut diharapkan dapat memberikan solusi bagi petani, terutama dalam menghadapi melimpahnya produksi gabah pada musim panen kali ini.
Petani berharap koordinasi antara pemerintah daerah, Bulog, dan pihak terkait dapat terus diperkuat sehingga gabah hasil panen masyarakat dapat terserap dengan baik dan petani memperoleh kepastian pasar.
Bagi petani, hasil panen bukan sekadar tumpukan gabah. Di balik setiap karung terdapat kerja keras, biaya produksi, tenaga, dan harapan keluarga. Karena itu, kepastian penyerapan menjadi bagian penting untuk menjaga semangat petani agar terus berproduksi.
Dengan adanya respons cepat dari Bulog, petani Nagan Raya berharap persoalan penumpukan gabah dapat segera ditangani dan musim panen kali ini benar-benar menjadi kabar baik bagi kesejahteraan petani.
Produksi Padi Nagan Raya Meningkat
Sementara itu, secara terpisah, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Nagan Raya, Marzuki, S.E., menyampaikan bahwa dari sisi kualitas dan produktivitas, hasil pertanian padi di Kabupaten Nagan Raya saat ini menunjukkan perkembangan yang cukup baik.
Menurut Marzuki, produktivitas padi di sejumlah wilayah Nagan Raya bahkan mampu mencapai rata-rata 7 hingga 8 ton gabah per hektare.
“Dari segi kualitas dan produktivitas sangat bagus dan meningkat. Rata-rata bisa mencapai 7 sampai 8 ton dalam satu hektare di Kabupaten Nagan Raya,” kata Marzuki.
Peningkatan produktivitas tersebut menjadi potensi besar bagi Nagan Raya dalam memperkuat sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Namun, tingginya produksi tentu perlu diikuti dengan ketersediaan pasar dan penyerapan gabah yang memadai, sehingga hasil panen yang melimpah benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi petani.
Petani berharap sinergi antara pemerintah daerah, Bulog, dan para pelaku usaha dapat semakin diperkuat, terutama pada saat musim panen raya.
Dengan begitu, gabah petani tidak hanya berhasil diproduksi dalam jumlah besar, tetapi juga dapat terserap dengan baik dan memberikan nilai ekonomi yang sepadan dengan kerja keras para petani.
Bagi petani, panen bukanlah akhir dari perjuangan. Panen adalah saat ketika kerja keras selama berbulan-bulan harus benar-benar berubah menjadi penghasilan yang dapat menopang kehidupan keluarga dan keberlanjutan usaha tani. (*)


































