Efektivitas Sekolah Lapangan Kakao di Aceh Tenggara Dipertanyakan

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Rabu, 24 Desember 2025 - 00:30 WIB

50549 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH TENGGARA, 23 Desember 2025 — Program Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) untuk komoditas kakao yang digelar Dinas Pertanian Aceh Tenggara menuai sorotan. Kegiatan yang disebut bertujuan mendidik petani dalam pengelolaan hama terpadu ini dinilai belum menjawab persoalan mendasar pengelolaan tanaman kakao yang selama ini menjadi komoditas penting di wilayah tersebut.

Kegiatan SL-PHT budidaya kakao itu terpantau berlangsung di perkebunan milik warga, dengan melibatkan sejumlah petani dari beberapa kecamatan. Dari informasi yang dihimpun, program ini dilaksanakan melalui dua gelombang, masing-masing selama lima hari, dengan jumlah peserta per pertemuan sekitar 35 petani.

Namun, minimnya peserta dan luas jangkauan kegiatan, berbanding kontras dengan besaran anggaran yang dialokasikan melalui belanja daerah. Kegiatan ini tercatat menggunakan anggaran mendekati Rp600 juta. Hal ini memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat dan pemerhati pertanian setempat mengenai efisiensi dan efektivitas penggunaan dana publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala Dinas Pertanian Aceh Tenggara menjelaskan bahwa SL-PHT merupakan bagian dari upaya memulihkan produktivitas kakao yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan akibat serangan hama dan penyakit tanaman. Melalui program ini, para pekebun diberikan pemahaman teknis tentang pengendalian hama terpadu sekaligus strategi peningkatan hasil panen.

Baca Juga :  Personil Polsek dan Pos ramil Babul Makmur Turun Tangan Bersihkan Sekolah Terdampak Banjir

Namun di lapangan, program ini belum menunjukkan dampak yang signifikan. Masih banyak petani yang mengeluhkan tingginya tingkat serangan hama dan lemahnya produktivitas kebun kakao mereka. Kondisi ini membuat sebagian petani mulai beralih ke tanaman lain yang dinilai lebih tahan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman dan memiliki nilai jual stabil.

“Dulu kakao jadi andalan di sini, tapi sekarang banyak yang tebang. Harga turun, hama makin menjadi. Sudah capek kami rawat, hasilnya tidak sebanding,” kata Juanda, petani kakao asal Tenembak Alas.

Penurunan sentra kakao di sejumlah kecamatan menandai adanya pergeseran prioritas komoditas. Beberapa petani bahkan sudah mulai mengganti lahan mereka menjadi tanaman hortikultura dan palawija lain. Sementara itu, belum ada pendekatan sistematis dalam penyelamatan komoditas kakao berbasis kebijakan yang terintegrasi dengan tata niaga dan teknologi pendamping.

Baca Juga :  Bupati Aceh Tenggara Lantik 25 Pejabat, Dorong Penguatan Kinerja Pemerintahan

Pengamat pertanian di daerah ini menilai bahwa program seperti SL-PHT membutuhkan evaluasi ketat, utamanya dalam hal distribusi manfaat program, metoda pelatihan, serta keberlanjutan pascapelatihan. Kegiatan penyuluhan—apalagi dengan biaya besar—diharapkan tak hanya simbolis atau sekadar menggugurkan kewajiban anggaran, tetapi mampu menjadi motor penggerak revitalisasi tanaman kakao di tingkat tapak.

Aceh Tenggara selama ini dikenal sebagai wilayah yang memiliki potensi besar dalam produksi kakao, dengan iklim dan kondisi geografis yang mendukung. Namun ketidakseimbangan antara dukungan teknis, intervensi pasar, serta ketahanan petani menghadapi perubahan, menjadi tantangan utama yang perlu dijawab dengan strategi lebih dari sekadar pelatihan singkat.

Dengan tantangan sektor perkebunan yang semakin kompleks, efektivitas setiap program pembangunan perlu ditakar secara sungguh-sungguh. Tanpa penguatan kelembagaan petani, jaminan harga pasar, serta pengendalian hama yang terintegrasi secara nyata, revitalisasi kakao di Aceh Tenggara dikhawatirkan hanya akan menjadi deretan wacana tanpa hasil konkret.

Laporan : Salihan Beruh

Berita Terkait

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Dua Pria di Ketambe, 10 Paket Sabu Disita
18 Alat Berat Bantuan Pusat untuk Aceh Tenggara Rusak, Bupati Ngamuk: Jalan Baru Ditimbun Sudah Amblas Lagi
Banjir Kembali Rendam Desa Kuning I, Tanggul Menipis Warga Khawatir Gagal Panen dan Rumah Terendam
Tak Hujan Pun Banjir, Warga Desa Kuning 1 Kecewa Berat ke Pemerintah Aceh dan Titip Harapan ke Gubernur Jawa Barat KDM
Dari Persembunyian di Desa Simpang Semadam Hingga Meninggal di Rumah Sakit, Ada Apa Dalam 24 Jam Terakhir Hidupnya Ical
Buron 19 Bulan, Narapidana Lapas Kutacane Ditangkap di Rumahnya di Simpang Semadam
Yahdi Hasan Kawal Langsung Pemulangan Jenazah Warga Asal Aceh Tenggara dari Malaysia hingga Tiba di Kualanamu
Sidang Kedua Dugaan Korupsi Proyek Jembatan Silayakh Jilid II Agara Digelar, Jaksa Agendakan Pemeriksaan Saksi

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Progres Pembangunan Lima Unit RTLH Program TMMD ke-130 di Kodim 0113/Gayo Lues Capai 27 Persen

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:42 WIB

Jalan TMMD, Obat Luka Trauma Para Korban Bencana Alam

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Satgas TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Mulai Sasar Rehab MCK

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:10 WIB

PPPK Paruh Waktu Gayo Lues Sampaikan Dua Tuntutan Utama ke DPRK: Kepastian Mekanisme Peralihan PPPK Penuh Waktu serta Dorongan Kenaikan Gaji 50–100 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria 61 Tahun Bersama 63 Gram Ganja

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:01 WIB

Pembangunan Gorong-gorong Titik 1 Siap 90 Persen

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:38 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria Diduga Kurir Sabu di Durin

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:27 WIB

TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Kebut Pembangunan Jalan Huntara

Berita Terbaru