KUTACANE, WASPADAINDONESIA | Menjelang kedatangan bulan suci Ramadhan, masyarakat Aceh Tenggara menghidupkan sebuah tradisi yang telah menjadi warisan leluhur selama ratusan tahun: mandi meugang. Aktivitas ini dilakukan secara massal di sepanjang aliran sungai-sungai yang ada, khususnya di wilayah Desa Bambel Gabungan, Kecamatan Bambel. Dilaksanakan satu hari sebelum bulan puasa Masuk, tradisi ini menjadi momen sakral sekaligus sosial yang mengukuhkan nilai kebersamaan, syukur, dan persiapan spiritual umat Islam.
Setiap tahun, saat waktu petang mulai mendekat di hari yang telah ditentukan, warga dari berbagai usia mulai berkumpul di tepian sungai. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga para tetua berjalan bersama menuju lokasi yang telah dipersiapkan. Di sana, mereka mandi secara bergiliran menggunakan air yang mengalir, sebuah praktik yang diyakini sebagai bentuk pembersihan diri secara utuh. Sebelum mulai mandi, warga biasanya membawa jeruk purut sebagai alat keramas tradisional. Buah ini tidak hanya membersihkan tubuh dari debu dan kotoran, tetapi juga memberikan aroma segar yang mengingatkan pada keaslian adat istiadat setempat.
Tradisi ini tak hanya berhenti pada aktivitas mandi. Setiba di lokasi, warga juga membawa bekal makanan yang sebagian besar berbahan dasar daging. Mereka memasak dan menyantapnya bersama di atas tikar atau lapak sederhana yang tersebar di pinggir sungai. Kegiatan makan bersama ini menjadi simbol persaudaraan dan silaturahmi. “Setiap tahun, keluarga besar kami selalu membawa something yang dapat dibagikan,” ujar Bunga, seorang warga Kota Kutacane, saat ditemui di tepi Sungai Lawe Alas pada Rabu, 18 Februari 2026. Menurutnya, tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Aceh Tenggara sejak zaman Kerajaan Aceh. “Ini warisan leluhur yang wajib dilestarikan. Jika ada yang tidak ikut, orang-orang sekitar akan beranggapan ia kurang serius menyambut Ramadhan,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Suasana di sekitar lokasi mandi meugang selalu penuh kehidupan. Anak-anak bermain di atas kerikil sambil memercikkan air, para perempuan dan lelaki mandi secara bergilir, dan kelompok keluarga duduk bersila menikmati hidangan yang telah disiapkan. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas, ada sebuah keharmonisan yang terasa sangat kental. Tidak ada yang terburu-buru, semua bergerak dengan tenang seolah menghayati setiap detik tradisi ini. Bagi warga, mandi meugang bukan sekadar upacara, melainkan momentum untuk merenungkan diri, mengucapkan syukur atas nikmat yang telah diberikan, dan memperkuat ikatan sosial yang sangat krusial dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi generasi muda, tradisi ini juga menjadi pelajaran tentang kearifan lokal. Meski di era modern ini banyak adat yang mulai pudar, masyarakat Aceh Tenggara berkomitmen untuk menjaga warisan budaya ini tetap hidup. Para tetua secara aktif mengajarkan makna di balik setiap detail, mulai dari penggunaan jeruk purut, pentingnya mandi di air mengalir, hingga kebiasaan makan bersama. “Kami ingin generasi penerus tahu bahwa tradisi ini bukan hanya ritual, tapi juga cermin nilai-nilai luhur seperti kesederhanaan, keberatan, dan kasih sayang,” jelas Bunga.
Di sepanjang aliran Sungai Lawe Alas dan sejumlah wilayah lainnya, pemandangan mandi meugang menjadi simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga identitas budaya. Bau jeruk yang menyengat, suara air yang mengalir, dan tawa riuh anak-anak menciptakan atmosfer yang damai dan penuh makna. Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa dalam menyambut Ramadhan, selain ibadah dan puasa, pentingnya menjaga kesinambungan budaya dan persatuan masyarakat. Dengan demikian, mandi meugang tak hanya menjadi momen bersih-bersih fisik, melainkan juga penguatan terhadap jiwa kolektif yang saling menguatkan di tengah arus modernisasi yang semakin cepat.
Setiap tahun, ketika matahari mulai terbenam dan bulan Ramadhan semakin mendekat, tradisi mandi meugang di Aceh Tenggara kembali menjadi saksi bisu atas ketekunan manusia dalam menjaga warisan leluhur. Ia mengajarkan bahwa persiapan menyambut bulan suci tidak hanya terletak pada doa dan ritual keagamaan semata, melainkan juga pada menjaga kebersamaan, menyemai rasa syukur, dan mempertahankan nilai-nilai budaya yang menjadi pondasi kehidupan bersama. Dengan demikian, tradisi ini terus menjadi warisan tak ternilai yang diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus mengukuhkan identitas unik masyarakat Aceh Tenggara dalam merajut keindahan spiritual dan sosial.
Laporan : Salihan Beruh


































