Menjelang Bulan Suci Ramadhan, Warga Aceh Tenggara Padati Sungai Lawe Alas untuk Lestarikan Tradisi Mandi Meugang dan Mempererat Tali Silaturahmi Keluarga

Waspada Indonesia

- Redaksi

Jumat, 20 Februari 2026 - 00:18 WIB

5088 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUTACANE, WASPADAINDONESIA | Menjelang kedatangan bulan suci Ramadhan, masyarakat Aceh Tenggara menghidupkan sebuah tradisi yang telah menjadi warisan leluhur selama ratusan tahun: mandi meugang. Aktivitas ini dilakukan secara massal di sepanjang aliran sungai-sungai yang ada, khususnya di wilayah Desa Bambel Gabungan, Kecamatan Bambel. Dilaksanakan satu hari sebelum bulan puasa Masuk, tradisi ini menjadi momen sakral sekaligus sosial yang mengukuhkan nilai kebersamaan, syukur, dan persiapan spiritual umat Islam.

Setiap tahun, saat waktu petang mulai mendekat di hari yang telah ditentukan, warga dari berbagai usia mulai berkumpul di tepian sungai. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga para tetua berjalan bersama menuju lokasi yang telah dipersiapkan. Di sana, mereka mandi secara bergiliran menggunakan air yang mengalir, sebuah praktik yang diyakini sebagai bentuk pembersihan diri secara utuh. Sebelum mulai mandi, warga biasanya membawa jeruk purut sebagai alat keramas tradisional. Buah ini tidak hanya membersihkan tubuh dari debu dan kotoran, tetapi juga memberikan aroma segar yang mengingatkan pada keaslian adat istiadat setempat.

Tradisi ini tak hanya berhenti pada aktivitas mandi. Setiba di lokasi, warga juga membawa bekal makanan yang sebagian besar berbahan dasar daging. Mereka memasak dan menyantapnya bersama di atas tikar atau lapak sederhana yang tersebar di pinggir sungai. Kegiatan makan bersama ini menjadi simbol persaudaraan dan silaturahmi. “Setiap tahun, keluarga besar kami selalu membawa something yang dapat dibagikan,” ujar Bunga, seorang warga Kota Kutacane, saat ditemui di tepi Sungai Lawe Alas pada Rabu, 18 Februari 2026. Menurutnya, tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Aceh Tenggara sejak zaman Kerajaan Aceh. “Ini warisan leluhur yang wajib dilestarikan. Jika ada yang tidak ikut, orang-orang sekitar akan beranggapan ia kurang serius menyambut Ramadhan,” tambahnya.

Baca Juga :  KIP Agara Sewa GOR Kutacane Rp 196 Juta Untuk Gudang Logistik Pemilu

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Suasana di sekitar lokasi mandi meugang selalu penuh kehidupan. Anak-anak bermain di atas kerikil sambil memercikkan air, para perempuan dan lelaki mandi secara bergilir, dan kelompok keluarga duduk bersila menikmati hidangan yang telah disiapkan. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas, ada sebuah keharmonisan yang terasa sangat kental. Tidak ada yang terburu-buru, semua bergerak dengan tenang seolah menghayati setiap detik tradisi ini. Bagi warga, mandi meugang bukan sekadar upacara, melainkan momentum untuk merenungkan diri, mengucapkan syukur atas nikmat yang telah diberikan, dan memperkuat ikatan sosial yang sangat krusial dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi generasi muda, tradisi ini juga menjadi pelajaran tentang kearifan lokal. Meski di era modern ini banyak adat yang mulai pudar, masyarakat Aceh Tenggara berkomitmen untuk menjaga warisan budaya ini tetap hidup. Para tetua secara aktif mengajarkan makna di balik setiap detail, mulai dari penggunaan jeruk purut, pentingnya mandi di air mengalir, hingga kebiasaan makan bersama. “Kami ingin generasi penerus tahu bahwa tradisi ini bukan hanya ritual, tapi juga cermin nilai-nilai luhur seperti kesederhanaan, keberatan, dan kasih sayang,” jelas Bunga.

Baca Juga :  Hampir 100% Aparatur Negara Pusat di Wilayah Kerja KPPN Kutacane telah Menerima Tunjangan Hari Raya atas Beban APBN di Rekening Masing-masing Pegawai

Di sepanjang aliran Sungai Lawe Alas dan sejumlah wilayah lainnya, pemandangan mandi meugang menjadi simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga identitas budaya. Bau jeruk yang menyengat, suara air yang mengalir, dan tawa riuh anak-anak menciptakan atmosfer yang damai dan penuh makna. Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa dalam menyambut Ramadhan, selain ibadah dan puasa, pentingnya menjaga kesinambungan budaya dan persatuan masyarakat. Dengan demikian, mandi meugang tak hanya menjadi momen bersih-bersih fisik, melainkan juga penguatan terhadap jiwa kolektif yang saling menguatkan di tengah arus modernisasi yang semakin cepat.

Setiap tahun, ketika matahari mulai terbenam dan bulan Ramadhan semakin mendekat, tradisi mandi meugang di Aceh Tenggara kembali menjadi saksi bisu atas ketekunan manusia dalam menjaga warisan leluhur. Ia mengajarkan bahwa persiapan menyambut bulan suci tidak hanya terletak pada doa dan ritual keagamaan semata, melainkan juga pada menjaga kebersamaan, menyemai rasa syukur, dan mempertahankan nilai-nilai budaya yang menjadi pondasi kehidupan bersama. Dengan demikian, tradisi ini terus menjadi warisan tak ternilai yang diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus mengukuhkan identitas unik masyarakat Aceh Tenggara dalam merajut keindahan spiritual dan sosial.

Laporan :  Salihan Beruh

Berita Terkait

Mayat Pria Ditemukan di Pinggir Sungai Alas, Polisi Lakukan Penyelidikan
Menjelang Bulan Suci Ramadan, Polres Aceh Tenggara Berbagi Daging Meugang sebagai Wujud Kepedulian Sosial
Proyek Rehabilitasi Irigasi Lawe Harum Diduga Langgar K3 dan Pemanfaatan BBM Bersubsidi, Aktivis Soroti Prosedur Keselamatan Pekerja
Raih Gelar S2 dan Pimpin SD Percontohan, Perjalanan Hidup Rita Wati dari Anak Petani Menuju Dunia Pendidikan Aceh Tenggara
Seorang ASN Dipolisikan, Polres Agara Didesak Tuntaskan Kasus Pencemaran Nama Baik UUITE
Kabar Gembira dari Leuser: Dinas Pertanahan dan BPN Targetkan 1.000 Sertifikat dalam Program PTSL 2026
Pemeliharaan Trafo Daya, PLN Kutacane Lakukan Pemadaman Listrik Sembilan Jam di Seluruh Wilayah Aceh Tenggara Sabtu Ini
Flower Aceh Kawal Proses Hukum Kasus Penganiayaan Anak di Aceh Tengah

Berita Terkait

Kamis, 19 Februari 2026 - 18:47 WIB

Camat Kuala Resmi Terima Surat Jonerman Mengundurkan diri Dari Kades Purworejo

Kamis, 19 Februari 2026 - 17:32 WIB

Camat Kuala Koko Fenna Loza Resmi Terima Surat Jonerman Mengundurkandiri Dari Kades Purworejo

Kamis, 19 Februari 2026 - 15:21 WIB

Kadistanak Nagan Raya Tuntaskan Penyumbatan Irigasi Persawahan Atas Tindaklanjuti Perintah Bupati TRK

Kamis, 19 Februari 2026 - 08:29 WIB

Bupati Karo : Pengendalian Inflasi Harus Memberikan Makna Bagi Kesejahteraan Masyarakat

Rabu, 18 Februari 2026 - 22:06 WIB

Pemkab Nagan Raya Terapkan Gaji Aparatur Gampong Non Tunai. Tidak Boleh Lagi cash

Selasa, 17 Februari 2026 - 22:41 WIB

Menyambut Bulan Suci Ramadhan Brimob Batalyon C Pelopor Gelar Tradisi Meugang Bersama Puluhan Anak Yatim

Selasa, 17 Februari 2026 - 22:31 WIB

Pemkab Nagan Raya Apresiasi Kinerja Yonif Teritorial Pembangunan TP 856 /SBS Panen Padi Raya

Selasa, 17 Februari 2026 - 16:47 WIB

Marzuki Baru Satu Minggu Jabat Kadistanak Nagan Raya Lansung Tangapi Keluhan Petani

Berita Terbaru