Nasir Djamil Desak Pemerintah Usut Kelangkaan Semen di Aceh Pasca Bencana

REDAKSI BANDA ACEH

- Redaksi

Minggu, 21 Desember 2025 - 12:44 WIB

50260 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Waspadaindonesia.com | BANDA ACEH — Anggota Komisi III DPR RI daerah pemilihan Aceh, H.M. Nasir Djamil, mendesak kementerian yang membidangi sektor industri segera turun tangan menindaklanjuti informasi kelangkaan semen di Aceh pasca bencana hidrometeorologi yang melanda provinsi tersebut.

Menurut Nasir, kelangkaan semen di tengah situasi darurat bencana merupakan persoalan serius yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ia juga berharap komisi di DPR RI yang membidangi sektor industri ikut mempertanyakan penyebab tersendatnya pasokan barang strategis yang sangat dibutuhkan masyarakat dalam masa pemulihan.

“Saya berharap komisi yang membidangi industri di DPR RI mempertanyakan secara serius penyebab kelangkaan barang yang sangat dibutuhkan masyarakat di tengah duka bencana Aceh,” ujar Nasir Djamil saat dihubungi dari Banda Aceh, Sabtu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menegaskan, peran aktif instansi terkait dan pelaku industri semen menjadi sangat krusial untuk meredam keresahan publik sekaligus mengembalikan kondisi ke situasi normal. Pasalnya, semen merupakan material utama dalam upaya perbaikan dan pembangunan kembali infrastruktur yang rusak akibat bencana.

Baca Juga :  Tak Kenal Lelah di Tengah Derita: Bunda Salma Terus Menyusuri Aceh Antar Harapan bagi Korban Banjir

Ironisnya, Nasir mengungkapkan, Aceh sejatinya memiliki pabrik semen, yakni PT Solusi Bangunan Andalas (SBA) yang berlokasi di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan kelangkaan semen terjadi di Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Saya gusar dan kecewa ketika mendapat informasi semen langka di Banda Aceh dan Aceh Besar, padahal pabriknya ada di Lhoknga. Ini jelas sangat merugikan Aceh, baik secara material maupun immaterial,” tegasnya.

Nasir menyoroti alasan tidak beroperasinya PT SBA yang disebut-sebut akibat terganggunya pasokan listrik dari PT PLN. Menurutnya, alasan tersebut terkesan menempatkan Aceh sebagai wilayah yang tidak dianggap penting, padahal daerah ini sedang berada dalam masa pemulihan pasca bencana.

Ia memahami bahwa bencana hidrometeorologi yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh telah menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur publik, termasuk robohnya sejumlah menara listrik milik PLN yang berdampak pada terganggunya suplai energi. Namun demikian, Nasir menilai perusahaan sebesar PT SBA seharusnya telah memiliki langkah antisipatif.

“Seharusnya PT SBA memiliki genset atau sistem cadangan listrik agar operasional tetap berjalan saat suplai PLN terganggu. Apalagi PT SBA merupakan bagian dari holding Semen Indonesia Grup,” katanya.

Baca Juga :  “Ketika Rasa Hilang dari Kekuasaan” “Pemimpin dan Empati yang Retak” “Kontroversi yang Lahir dari Sunyinya Kepekaan”

Lebih lanjut, Nasir menekankan pentingnya manajemen kebencanaan di tubuh perusahaan, mengingat Aceh merupakan wilayah yang rawan bencana.

“Perusahaan semen sebesar itu semestinya sudah diperkuat dengan manajemen bencana yang matang, karena Aceh adalah daerah bencana,” tambahnya.

Sebelumnya, kelangkaan semen telah dikeluhkan masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar sejak sepekan terakhir. Kondisi tersebut berdampak langsung pada terhentinya berbagai proyek pembangunan, termasuk sektor perumahan.

Seorang pengusaha properti di Banda Aceh, Putra, mengaku terpaksa menghentikan sementara pembangunan rumah akibat sulitnya memperoleh semen di pasaran.

“Saya sudah menghentikan pembangunan rumah. Para pekerja juga saya minta berhenti dulu sampai ada kepastian ketersediaan semen di pasar,” ujarnya.

Kelangkaan semen di tengah upaya pemulihan pasca bencana ini pun diharapkan segera mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat dan seluruh pemangku kepentingan, agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh tidak semakin terhambat. [Redaksi]

Berita Terkait

Ketua L CAPA Provinsi Aceh Minta Konsultan Pengawasan SD Drin Tujoh Nagan Raya Bersama Kita Buktikan Pernyataan Kepsek di Media Online
Surat Wali Kota,Untuk CV.Lae Saga,Dianggap Angin Lalu
“Ketika Rasa Hilang dari Kekuasaan” “Pemimpin dan Empati yang Retak” “Kontroversi yang Lahir dari Sunyinya Kepekaan”
Ketua PWM Aceh A. Malik Musa Berikan Arahan pada Kegiatan Dukungan Psikososial Korban Banjir dan Longsor di SMA Unggul Pidie Jaya
KASAD KIRIM ALAT BERAT, SURYADI DJAMIL ANGKAT SUARA
Diyakini Publik dan Akademisi, Salim Fakhry: Pemimpin yang Hadir di Titik Lelah Rakyat, Bekerja dengan Hati untuk Aceh Tenggara
Ketua DPRK Aceh Singkil Bersilaturahmi dan Ngopi Bareng Pemerhati Sosial Aceh
Kak Na Apresiasi Sumbangsih Relawan Pada Masa Tanggap Darurat Banjir Aceh

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Progres Pembangunan Lima Unit RTLH Program TMMD ke-130 di Kodim 0113/Gayo Lues Capai 27 Persen

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:42 WIB

Jalan TMMD, Obat Luka Trauma Para Korban Bencana Alam

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Satgas TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Mulai Sasar Rehab MCK

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:10 WIB

PPPK Paruh Waktu Gayo Lues Sampaikan Dua Tuntutan Utama ke DPRK: Kepastian Mekanisme Peralihan PPPK Penuh Waktu serta Dorongan Kenaikan Gaji 50–100 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria 61 Tahun Bersama 63 Gram Ganja

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:01 WIB

Pembangunan Gorong-gorong Titik 1 Siap 90 Persen

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:38 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria Diduga Kurir Sabu di Durin

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:27 WIB

TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Kebut Pembangunan Jalan Huntara

Berita Terbaru