KUTACANE | Desakan dan keluhan warga, khususnya kalangan emak-emak di Desa Lawe Penanggalan, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, kembali menggema setelah mereka melakukan aksi blokade jalan nasional ruas Kutacane–Gayo Lues, Senin (10/8/2026). Langkah tersebut diambil sebagai bentuk protes atas lambatnya kepastian realisasi bantuan pascabencana yang hingga kini dinilai tak kunjung terealisasi dari pemerintah daerah.
Aksi yang dilakukan secara spontan melibatkan puluhan emak-emak bersama anggota keluarga lain yang terdampak bencana hidrometeorologi tahun lalu. Mereka meminta kepastian penyelesaian janji terkait pembangunan hunian tetap (Huntap), hunian sementara (Huntara), serta penyaluran bantuan jaminan hidup (jadup) yang sebelumnya dijanjikan pihak pemerintah. Merasa sudah terlalu lama menunggu tanpa kejelasan, warga meminta bupati turun langsung ke lokasi aksi untuk mendengarkan langsung keluhan serta harapan masyarakat.
Dalam suasana penuh emosi, seorang emak-emak peserta aksi menyatakan secara tegas agar pemerintah tidak lagi melontarkan imbauan supaya masyarakat bersabar. Ia menuturkan bahwa korban telah menjalani penderitaan selama setahun lebih, namun belum pernah mendapat kepastian terkait nasib masa depan mereka. “Kalau memang bupati tidak menginginkan kami sebagai rakyat, pindahkan kami ke Gayo Lues. Kami sudah menderita setahun penuh. Kami tidak ingin mendengar kata-kata sabar lagi,” ungkapnya di hadapan petugas dan warga lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi blokade jalan yang dilakukan emak-emak diikuti keluhan soal perlakuan yang dirasa berbeda dengan respon pemerintah terhadap bencana di wilayah lain. Warga menyebut bahwa penanganan bencana banjir di daerah tertentu justru lebih cepat direspons pemerintah, sementara mereka menilai kebutuhan dasar seperti bantuan hunian dan kehidupan sehari-hari masih menjadi pertanyaan.
Mereka menekankan, permintaan warga bukanlah sesuatu yang berlebihan melainkan sebatas hak dasar atas kepastian hunian, bantuan hidup, dan masa depan bagi keluarga yang kehilangan rumah dan anggota keluarganya. “Jangan ada beda kasih, jangan kami dianggap anak tiri,” ujar seorang warga lainnya.
Bagi masyarakat terdampak, kehadiran Bupati Aceh Tenggara dirasa penting sebagai wujud perhatian dan kehadiran negara di tengah kesulitan warga. Mereka berharap dapat segera menerima penjelasan langsung, sekaligus kejelasan jadwal pencairan bantuan dari pemerintah.
Aksi emak-emak di Kecamatan Ketambe diakhiri dengan harapan kuat agar pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata. Warga berharap pemerintah tidak menganggap aksi ini sebagai bentuk perlawanan, namun sebagai jeritan masyarakat yang membutuhkan solusi konkret atas masa depan mereka setelah bencana.
Warga menutup aksi dengan satu pesan utama, yakni permintaan kepastian, bukan lagi imbauan bersabar atas janji yang dinilai sudah terlalu lama dinanti.
Laporan : Salihan Beruh



































