KUTACANE , WASPADA INDONESIA | Perjalanan hidup Rita Wati menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang keluarga bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Terlahir dari keluarga petani di Desa Kuta Lang-Lang, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, perempuan kelahiran 4 April 1979 ini tumbuh dengan semangat membara untuk mengubah nasib melalui pendidikan. Di tengah kesibukan keluarganya mengurus sawah dan kebun, Rita kecil mulai menanamkan harapan untuk menjadi seorang guru—suatu cita-cita yang pada masa itu terasa begitu jauh dari jangkauan.
Kenyataan hidup tak lantas sejalan dengan mimpinya. Sempat kehilangan asa untuk melanjutkan pendidikan, Rita memutuskan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia dengan satu niat: mengumpulkan modal untuk bisa kembali menempuh pendidikan. Dua tahun di negeri jiran bukan waktu yang sebentar, namun tekad kuat membawanya pulang ke kampung halaman dan kembali mengejar mimpi yang sempat tertunda.
Usaha dan doanya tidak sia-sia. Tahun 2009 menjadi tonggak penting dalam hidupnya saat ia berhasil meraih gelar sarjana (S1). Tak lama berselang, pengabdian pada dunia pendidikan mulai menampakkan hasil. Ia diberi amanah untuk menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Negeri Lawe Pinis pada tahun 2015. Tahun berikutnya, ia kembali dipercaya menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Negeri Mbarung, Kecamatan Babussalam. Kariernya terus merangkak naik, dan pada tahun 2017, ia dilantik sebagai Kepala SD Negeri Pulo Latong, sebuah jabatan yang ia emban hingga tahun 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dedikasi terhadap dunia pendidikan tak membuat Rita puas diri. Di tengah tugas sebagai kepala sekolah, ia tetap meluangkan waktu untuk melanjutkan studi. Ia menempuh pendidikan magister di Fakultas Al Muslim, dan keberhasilannya meraih gelar S2 pada tahun 2025 membuktikan bahwa perubahan hanya bisa diraih oleh mereka yang tak lelah untuk terus belajar.
Pada Jumat, 13 Februari 2026, sekitar pukul 16.25 WIB, Rita Wati S.Pd., M.Pd., kembali menorehkan sejarah dalam perjalanan kariernya. Ia resmi dilantik sebagai Kepala Sekolah SD Negeri Percontohan Aceh Tenggara oleh Bupati setempat dalam acara yang digelar di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten. Pelantikan ini sekaligus menandai babak baru pengabdiannya dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kali ini di sekolah percontohan yang menjadi rujukan di wilayah tersebut.

Usai pelantikan, Rita menyampaikan rasa syukur dan harapan yang begitu dalam. Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda dari latar keluarga sederhana, agar tidak pernah merasa rendah diri. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa kesuksesan bukan milik mereka yang lahir dari kemewahan, melainkan milik siapa pun yang memiliki kemauan kuat dan niat baik untuk berjuang.
Rita juga menuturkan rasa syukurnya atas doa dan dukungan sang ibunda yang hingga kini masih selalu hadir dalam setiap langkahnya, meski sang ayah telah tiada. Penuh haru, ia mengucapkan terima kasih kepada keluarga kecilnya, terutama suami dan anak-anak yang tak pernah lelah memberi dukungan di setiap suka duka perjalanannya.
Apresiasi terhadap sosok Rita juga datang dari berbagai kalangan. Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Penjara Provinsi Aceh memberikan ucapan selamat atas pelantikan tersebut. Ia menilai bahwa rekam jejak Rita sebagai tenaga pendidik menunjukkan kapabilitasnya dalam memimpin sekolah. Harapan besar disematkan agar SDN Percontohan di bawah kepemimpinan Rita bisa berkembang menjadi sekolah unggulan dan inspiratif di Kabupaten Aceh Tenggara.
Kisah hidup Rita Wati adalah kisah tentang tekad yang tak patah oleh waktu, tentang perjuangan dalam diam, dan tentang mimpi yang terus dihidupkan meski sempat mati suri. Dari sawah kecil di pelosok desa, ia menapak sampai ke ruang-ruang kelas berstandar tinggi di sekolah percontohan. Ia bukan hanya kepala sekolah dengan gelar akademik, tapi juga sosok inspiratif bagi siapa saja yang percaya bahwa keterbatasan bukan akhir, melainkan awal dari segala kemungkinan.
Laporan : Salihan Beruh


































