Kesepakatan 1992 Soal Empat Pulau: Janji yang Masih Berlaku, Sumut Harus Menghormati!

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Minggu, 15 Juni 2025 - 09:51 WIB

50454 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Singkil – Sengketa soal empat pulau antara Provinsi Aceh dan Sumatera Utara kembali mencuat ke permukaan. Namun sebelum kontroversi ini dibelokkan ke ranah opini atau politisasi, masyarakat perlu kembali membuka lembaran sejarah: pada tahun 1992 telah diteken sebuah Surat Kesepakatan Resmi antara Gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan, dan Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar, untuk menyelesaikan konflik batas wilayah secara damai dan final.

Konflik ini bermula pada rentang tahun 1990 hingga 1992, ketika terjadi ketegangan antara dua provinsi bertetangga terkait klaim atas empat pulau strategis di perairan Singkil, yaitu Pulau Panjang, Pulau Mangkir Gadang, Pulau Mangkir Ketek, dan Pulau Lipan. Perselisihan ini sempat menimbulkan ketidakstabilan di wilayah perbatasan, termasuk sengketa soal hak penangkapan ikan, pengelolaan potensi pariwisata, dan kontrol sumber daya laut lainnya.

Melihat eskalasi yang terjadi, Menteri Dalam Negeri saat itu, Rudini, turun tangan sebagai mediator. Hasilnya, pada tahun 1992, Gubernur Aceh dan Gubernur Sumut menandatangani sebuah kesepakatan resmi yang tidak hanya meredam konflik kala itu, tetapi juga mengikat secara administratif dan hukum hingga hari ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesepakatan itu memuat beberapa butir penting. Pertama, dinyatakan secara tegas bahwa keempat pulau tersebut masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh. Kedua, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tidak boleh lagi mengklaim kedaulatan ataupun mengeluarkan izin usaha atas wilayah tersebut. Ketiga, pengelolaan sumber daya laut dan potensi ekonomi yang ada menjadi hak penuh Aceh, sementara kerja sama teknis seperti konservasi lintas batas masih bisa dibahas secara bersama-sama. Kesepakatan ini disahkan di Jakarta dan disaksikan langsung oleh Mendagri Rudini, yang menegaskan bahwa perjanjian ini bersifat final dan mengikat.

Baca Juga :  Ini Alasan Pasangan Mualem-Aminullah Sangat Ideal untuk Memimpin Aceh

Secara hukum, kesepakatan ini tetap memiliki kekuatan hingga kini. Pasal 246 dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh menegaskan bahwa batas wilayah Aceh mengacu pada ketetapan dan peraturan sebelumnya, termasuk kesepakatan 1992 tersebut. Tak hanya itu, Mahkamah Agung RI juga telah menguatkannya lewat Putusan No. 01.P/HUM/2013 yang menolak gugatan Sumatera Utara terhadap pengakuan wilayah atas pulau-pulau tersebut. Arsip nasional dari Kementerian Dalam Negeri turut mencatat kesepakatan 1992 sebagai dokumen sah penyelesaian sengketa batas wilayah.

Namun yang mengejutkan, di era pemerintahan sekarang, klaim Sumut kembali mengemuka. Beberapa pejabat, termasuk Wali Kota Medan Bobby Nasution yang kini memiliki pengaruh politik besar di Sumut, mencoba membuka ulang wacana penguasaan atas empat pulau itu. Alasannya tidak jauh dari aspek ekonomi—kekayaan hasil laut, potensi pariwisata bahari, dan kemungkinan ladang migas yang tersembunyi di perairan sekitarnya. Belum lagi dukungan dari pihak-pihak pengusaha yang disebut ingin menanamkan investasi.

Selain itu, ada dugaan kuat bahwa klaim ulang ini turut dilandasi motif politik identitas dan ekspansi pengaruh Sumatera Utara. Namun semua itu tidak mengubah fakta bahwa Aceh masih dan tetap memiliki dasar hukum serta historis yang sah atas wilayah tersebut. Aceh secara konsisten menolak klaim ulang ini, dan sikap mereka jelas: kesepakatan 1992 masih berlaku, UU Pemerintahan Aceh mendukung, dan putusan Mahkamah Agung berpihak pada kebenaran sejarah.

Baca Juga :  Diduga DPO Polres Aceh Singkil Ali Basra bin Nandong Dikeluarkan Penjara

Tak sedikit pihak menyindir upaya Sumut dengan anekdot, “Bobby bawa peta, tapi lupa baca arsip.” Sebuah sindiran tajam yang menyiratkan bahwa keinginan memperluas wilayah tidak bisa menggantikan kekuatan dokumen negara dan warisan hukum.

Pemerintah Aceh sendiri menyatakan bahwa mereka menghormati sejarah, hukum, dan janji nasional yang sudah diteken sejak lama. Bila Sumatera Utara masih memaksakan kehendak, bukan tidak mungkin Aceh akan membawa perkara ini ke level internasional, demi memastikan bahwa satu janji di masa damai tidak dihianati oleh ambisi kekuasaan masa kini.

Kesepakatan 1992 bukan sekadar selembar kertas tua. Ia adalah simbol perdamaian, keadilan wilayah, dan penghormatan terhadap proses penyelesaian konflik yang sah secara hukum. Aceh tidak akan membiarkan sejarah ini dihapus begitu saja. Kini semua pihak harus sadar: pelanggaran atas kesepakatan nasional bukan hanya mencederai Aceh, tapi juga merusak integritas pemerintahan Republik Indonesia sendiri. (Salihan Beruh)

Berita Terkait

Profesor Dr Sutan Nasomal,SH,MH Harapkan Konferensi XXIII PGRI Cabang Pulau Banyak Tahun 2026: Perkuat Solidaritas Guru, Wujudkan Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas
Silvana Bayu: MBG Perlu Dievaluasi Menyeluruh, Kualitas Gizi, Keamanan Pangan dan Pengawasan Harus Jadi Prioritas
Akta Hibah dan Luasan Tanah SMKN 1 Simpang Kanan Diduga Sarat Manipulasi
Uang BUMK Ladang Bisik Raib, Kepala Desa dan Pihak Ketiga Diduga Bermain Mata
Aceh Tercoreng Didugaan Inisial M,SE Telibat Fiktifkan Laporan Keuangan
Murdani Ketua PMI Aceh Titip PMI Aceh Singkil Kepada Hidayat Riadi Manik
Sebut 6 Alasan Pokok, Politisi Muda Partai Aceh Minta Gubernur Segera Lantik Sekda dan Kepala SKPA Defenitif
Mayat Terikat di Pesantren Aceh Singkil: Perampokan Berujung Maut?

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 22:14 WIB

Sambut Hari Listrik Nasional, PLN Berikan Kemudahan Tambah Daya Listrik bagi Pelanggan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:58 WIB

Respons Cepat Kericuhan Mapolda Ketum AKPERSI Apresiasi Kapolrestabes Palembang

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:10 WIB

HOAX! Kalapas Labuhan Ruku Tegaskan Isu RZ Kelola Narkoba di Dalam Lapas Tidak Benar, Lapas Labuhan Ruku Zero Narkoba

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:37 WIB

LPM Kota Pekanbaru Bagikan 5000 Masker untuk Warga Terdampak Asap

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Kantor Hukum Togar Albert dan Rekan, Berikan Penjelasan Resmi Terkait Kepemilikan Lahan Kliennya di Meranti Pandak Rumbai

Jumat, 23 Oktober 2026 - 00:16 WIB

PPWI Ogan Ilir Kecam Akun Ladusing T, Diduga Sebarkan Tudingan Tanpa Bukti

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:45 WIB

Karhutla Berulang, Hutan Terbakar atau Sengaja Dibakar?

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:22 WIB

“Fitnah Rp5 Juta Muncul Saat Uang Ditolak!” Prof. Dr. Sutan Nasomal Desak Polres Mamasa Jangan Diam!

Berita Terbaru