KUTACANE | Setahun setelah banjir bandang pada 2025 yang melanda wilayah Aceh Tenggara, masyarakat Tanjung Gabungan kembali menunjukkan semangat gotong royong untuk membangun tanggul darurat di sekitar Jembatan Natam, yang menjadi akses vital bagi warga setempat. Jembatan Natam sendiri putus total akibat terjangan aliran Sungai Kali Alas yang meluap setelah curah hujan tinggi, sehingga volume air yang meningkat drastis mengakibatkan infrastruktur tersebut ambruk dan memutus akses utama di wilayah itu.
Aksi gotong royong yang berlangsung pada Kamis, 22 Oktober 2026, melibatkan puluhan warga, dipimpin langsung oleh para tokoh masyarakat setempat. Cerek, salah satu tokoh masyarakat Darul Hasanah yang berada di lokasi, menyampaikan kepada wartawan bahwa gotong royong ini sepenuhnya merupakan inisiatif dan swadaya warga Tanjung Gabungan. Kehadiran dan kerja keras masyarakat menjadi kunci utama agar mobilitas dan roda perekonomian bisa kembali berjalan normal setelah bencana yang melanda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain tenaga masyarakat, pekerjaan pembangunan tanggul darurat ini juga didukung dengan kehadiran alat berat yang dipinjamkan pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara melalui koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pusat. Bupati M. Salim Fakhry mengupayakan agar bantuan pinjam pakai alat berat ini bisa dimaksimalkan penggunaannya selama 20 hari, khususnya untuk mempercepat perbaikan infrastruktur penting yang rusak akibat banjir bandang di berbagai titik Aceh Tenggara.
Saludin, tokoh masyarakat Tanjung Gabungan lainnya, turut terjun langsung ke lapangan mengarahkan warga dalam pengerjaan tanggul darurat. Ia berharap langkah swadaya masyarakat bersama alat berat yang tersedia dapat membuka kembali akses jalan bagi kendaraan roda dua maupun roda empat. Dengan demikian, aktivitas warga, termasuk distribusi barang kebutuhan pokok, bisa berjalan lebih lancar.
Menurut Saludin, harapan besar diletakkan pada proses normalisasi wilayah terdampak yang selama ini sangat bergantung pada kecepatan penanganan di lapangan dan keterlibatan berbagai pihak. “Keberadaan alat berat dan dump truck di lokasi sangat membantu percepatan normalisasi, membuka kembali jalur yang terputus, dan memulihkan aktivitas harian masyarakat,” tutur Saludin.
Gotong royong kali ini memperlihatkan nilai kebersamaan yang tetap tumbuh kuat di tengah masyarakat Aceh Tenggara. Di saat belum semua infrastruktur pulih sepenuhnya, inisiatif swadaya seperti ini terbukti memberikan manfaat nyata, sekaligus menjadi pelajaran akan pentingnya solidaritas warga dalam menghadapi tantangan pascabencana. Pemerintah daerah diharapkan tetap mengawal, memfasilitasi, serta menghadirkan solusi yang berorientasi pada kebutuhan warga, sehingga pemulihan wilayah terdampak dapat terwujud secara berkelanjutan.
Laporan : Salihan Beruh



































