ACEH TIMUR – Aktivis asal Aceh Timur, Razali atau yang akrab disapa Nyakli Maop, mendesak pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh untuk segera turun tangan mengatasi carut-marut pengelolaan minyak tradisional di daerahnya.
Ia meminta pemerintah mendatangkan ahli minyak, termasuk dari luar negeri, agar sumber daya alam (SDA) Aceh dapat dikelola secara profesional dan memberikan kesejahteraan nyata bagi masyarakat.
Desakan ini dilatarbelakangi oleh maraknya pengeboran minyak tradisional secara mandiri oleh warga di sejumlah wilayah Aceh Timur.
Alih-alih mendatangkan kemakmuran, potensi minyak melimpah tersebut justru dijual dengan harga murah akibat ketiadaan infrastruktur pengolahan yang memadai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami melihat berlimpah ruahnya minyak mentah yang belum bisa diolah akhirnya terjual dengan harga yang tidak sesuai Untuk saat ini,harga minyak mentah dari pengeboran tradisional ukuran satu drum 200 liter hanya dihargai Rp700.000. Beberapa bulan lalu bahkan sempat anjlok hingga Rp300.000 per drum,” ujar Nyakli.
Selain persoalan harga jual yang jauh dari kata layak, para penambang tradisional juga harus menanggung beban operasional yang berat. Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, para pekerja dihadapkan pada praktik pungutan liar (pungli) yang mencekik kelangsungan usaha mereka.
Di dunga Setiap sumur pengeboran tradisional dilaporkan harus menyetor uang sebesar Rp1.000.000, ditambah Rp100.000 per drum kepada oknum-oknum tertentu yang mengklaim dapat memberikan rasa aman. Praktik ini dinilai semakin memperberat beban masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil bumi tersebut.
keprihatinan mendalam agar kekayaan alam Aceh tidak terus-menerus dieksploitasi tanpa aturan yang jelas. Kehadiran tenaga ahli perminyakan dinilai menjadi solusi mendesak agar tata kelola migas rakyat di Aceh Timur dapat industrialisasi secara legal, transparan, dan berpihak penuh pada kesejahteraan masyarakat lokal. (*)



































