KUTACANE | Memasuki hari ke-16 pascabanjir bandang yang melanda Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, akses utama Jalan Nasional yang menghubungkan wilayah ini dengan Kabupaten Gayo Lues masih lumpuh total hingga Jumat (12/12/2025). Badan jalan yang berada di kawasan Desa Simpur Jaya, Ketambe, rusak berat akibat diterjang derasnya aliran Sungai Alas yang meluap saat banjir bandang terjadi pada akhir November lalu. Hingga hari ini, tidak ada satu pun kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, yang dapat melintasi jalur tersebut.
Jalan nasional tersebut merupakan akses vital bagi masyarakat di dua kabupaten pedalaman Aceh, baik untuk keperluan ekonomi, sosial, distribusi barang, hingga pendistribusian bantuan ke lokasi-lokasi terdampak bencana. Lumpuhnya jalur ini menyebabkan pengiriman logistik terhambat, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok melambung tinggi, dan sejumlah desa mengalami keterisoliran karena tidak tersambung dengan pusat pemerintahan dan wilayah lainnya.
Kondisi tersebut mendorong banyak pihak untuk mendesak percepatan penanganan ruas jalan yang putus tersebut. Bupati LSM LIRA Indonesia Aceh Tenggara, Fazriansyah, meminta Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh dan Balai Wilayah Sungai Sumatera I (BWSS I) agar bekerja maksimal dan segera menurunkan lebih banyak alat berat untuk memperbaiki kerusakan jalan. Ia menilai bahwa lambatnya perbaikan jalan tersebut tidak sebanding dengan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat luas. Menurutnya, panjang jalan yang terputus di titik Sungai Alas tersebut hanya puluhan meter, sehingga semestinya dapat segera ditangani jika alat berat yang dikerahkan lebih banyak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fazriansyah menyarankan agar BPJN menyewa hingga 20 unit excavator untuk mempercepat proses pengerjaan. Ia menekankan pentingnya mendatangkan alat berat jenis excavator CAT, yang dinilai lebih mampu menjangkau medan berat di lokasi banjir. Dari informasi yang dia peroleh dari PPK 35 BPJN Aceh, Jaya Yuliadi, saat ini terdapat tujuh excavator di lokasi terdampak banjir. Namun, dari jumlah tersebut, hanya tiga unit yang dalam kondisi baik, sementara empat unit lainnya mengalami kerusakan.
Di lapangan, organisasi kemasyarakatan seperti LSM LIRA juga turut membantu warga terdampak dengan menyalurkan bantuan dan membantu proses evakuasi secara manual. Mereka harus berjalan kaki melewati perbukitan yang terjal dan jalur bekas longsor yang licin karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan dilalui kendaraan. Perjuangan mereka mendistribusikan bantuan dilakukan di tengah keterbatasan logistik dan akses yang rusak.
Hal serupa diungkapkan oleh Husaimi Amin, seorang aparatur sipil negara yang bertugas di Kantor Camat Ketambe. Ia turut meninjau kondisi masyarakat di Desa Simpur Jaya dan menyaksikan langsung berbagai kesulitan yang dialami warga dalam memenuhi kebutuhan pokok. Husaimi menyatakan bahwa hingga siang hari, belum ada aktivitas perbaikan berlangsung meskipun alat berat telah ada di lokasi. Masyarakat setempat, kata dia, terpaksa membawa barang-barang kebutuhan harian dengan berjalan kaki sepanjang jalur yang rusak dan terjal, karena tidak ada kendaraan yang bisa digunakan.
Koordinasi antara pihak terkait seperti BPJN, BWSS I, dan pemerintah daerah diharapkan menjadi kunci percepatan pemulihan akses yang sangat dinantikan masyarakat. Ketersediaan alat berat dan kehadiran petugas teknis yang aktif di lapangan menjadi harapan besar agar jalur utama Aceh Tenggara–Gayo Lues dapat segera dilewati kembali. Hingga berita ini dirilis, pihak BPJN melalui PPK 35 Jaya Yuliadi belum memberikan pernyataan resmi terkait kendala teknis maupun estimasi waktu penyelesaian perbaikan jalan.
Ketergantungan masyarakat terhadap jalur nasional ini tidak hanya sekadar soal transportasi, tetapi juga menyangkut kelangsungan aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan perputaran logistik secara umum. Ketiadaan alternatif jalur darat membuat perbaikan ruas ini menjadi prioritas mutlak. Warga di kedua kabupaten kini menunggu kehadiran nyata pemerintah pusat melalui instansi teknis agar penderitaan mereka tidak semakin berkepanjangan di tengah masa sulit pascabanjir bandang yang telah menghancurkan banyak sendi kehidupan di wilayah ini.
Laporan : Salihan Beruh

































