TEROR TERHADAP WARTAWAN FRN ACEH MAKIN BRUTAL! Agus Suriadi Minta Kapolda Perintahkan Kapolres Subulussalam Ringkus Semua Pelaku, Dari OTK Hingga Dalang Intimidasi di Kantor Desa

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Minggu, 3 Mei 2026 - 23:50 WIB

50143 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH | Kasus teror yang menimpa Syahbudin Padang. Wakil Ketua DPW FRN Fast Respon Counter Polri Nusantara Provinsi Aceh, kini memasuki babak yang semakin memprihatinkan dan mengundang kemarahan publik.

Bukan hanya rumah diteror dan kaca mobil pribadinya dipecahkan oleh Orang Tak Dikenal (OTK), Syahbudin juga diduga mengalami intimidasi brutal saat mengawal dugaan pencurian buah sawit milik warga di Kantor Desa Sikalondang, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam.

Yang lebih mengejutkan, di lokasi tersebut disebut-sebut sempat terlontar kata-kata bernada ancaman:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bunuh Syahbudin Padang!”

“Usir Syahbudin Padang dari sini!”

Ucapan bernada kekerasan itu kini menjadi sorotan serius karena dinilai bukan lagi sekadar ketegangan biasa, melainkan bentuk ancaman terbuka terhadap keselamatan seorang wartawan yang sedang menjalankan fungsi kontrol sosial.

Ketua DPW FRN Aceh Murka, Minta Kapolda Aceh Turun Tangan Menyikapi rentetan kejadian itu, Ketua DPW Fast Respon Counter Polri Nusantara Provinsi Aceh, Agus Suriadi, angkat bicara dengan nada sangat keras.

Ia mendesak Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Alibasyah agar tidak tinggal diam dan segera memerintahkan Kapolres Subulussalam untuk menangkap seluruh pihak yang terlibat dalam aksi teror dan intimidasi terhadap Syahbudin Padang.

“Saya meminta Bapak Kapolda Aceh agar segera memerintahkan Kapolres Subulussalam merangkap, memburu, dan menangkap semua pelaku teror terhadap anggota kami. Bukan hanya pelaku pelempar kaca mobil oleh OTK, tetapi juga seluruh pihak yang melakukan intimidasi, ancaman, dan pengusiran di Kantor Desa Sikalondang,” tegas Agus Suriadi, Minggu (03/05/2026).

Menurut Agus, kejadian yang dialami Syahbudin bukan peristiwa biasa. Ada pola tekanan berulang yang patut diduga terstruktur.Ada Teriakan “Bunuh” dan “Usir”, Kenapa Justru Wartawan yang Diusir?

Baca Juga :  Semangat Hari Pahlawan, Bea Cukai Aceh Kenalkan “Uang Kita” kepada Pelajar Lewat Kemenkeu Mengajar 10

Agus menilai sangat aneh dan janggal ketika Syahbudin Padang yang datang mengawal aspirasi warga justru menjadi pihak yang diusir dari kantor desa.

Padahal secara moral, wartawan memiliki hak melakukan peliputan, pengawasan sosial, dan pendampingan terhadap masyarakat yang mencari keadilan.

“Pertanyaan besarnya, kenapa Syahbudin Padang yang diusir? Apa kapasitas pemerintah desa melakukan pengusiran terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas sosial kontrol? Siapa yang memberi keberanian sampai muncul teriakan bunuh dan usir?” kecam Agus.

Ia menilai tindakan tersebut sudah melewati batas kewenangan pemerintahan desa dan harus diusut dari hulu ke hilir.

Sebab kantor desa adalah ruang pelayanan publik, bukan arena membungkam wartawan atau tempat melahirkan ancaman kekerasan.

Diduga Ada Dalang Besar di Balik Rangkaian Intimidasi FRN Aceh mencurigai rentetan peristiwa yang dialami Syahbudin Padang — mulai dari teror pelemparan kaca mobil, tekanan saat mengawal kasus sawit, hingga pengusiran dan ancaman verbal di Kantor Desa Sikalondang — bukan kejadian yang berdiri sendiri.

Ada dugaan kuat semua ini saling berkaitan.Kami menduga ada dalang besar di balik semua rangkaian ini. Tidak mungkin anggota kami diteror berkali-kali saat sedang aktif mengawal persoalan masyarakat kalau tidak ada pihak yang merasa terusik. Karena itu penyelidikan harus dilakukan secara mendalam sampai terbongkar siapa aktor intelektualnya,” ujar Agus lagi.

Menurutnya, aparat tidak boleh hanya melihat kasus ini sebagai insiden spontan.
Karena jika tidak dibongkar serius, maka akan muncul kesan bahwa ada upaya sistematis untuk menakut-nakuti wartawan agar berhenti membela kepentingan rakyat kecil.

Baca Juga :  Dirresnarkoba Polda Aceh jadi Pemateri Rakor BNNP

Syahbudin: Saya Datang Bela Warga, Kenapa Saya Mau Dibunuh dan Diusir?
Syahbudin Padang sendiri mengaku sangat terpukul dengan peristiwa tersebut.

Ia mengatakan dirinya datang bukan membuat keributan, melainkan menjalankan fungsi wartawan dan sosial kontrol untuk memastikan hak warga korban dugaan pencurian sawit tidak diabaikan.Namun yang diterimanya justru suasana mencekam, intimidasi, hingga teriakan pengusiran.

“Saya datang untuk bela warga yang merasa dirugikan. Tapi kenapa saya yang mau dibunuh, saya yang mau diusir? Ini pertanyaan besar. Ada apa sebenarnya? Siapa yang takut kalau kasus ini terbuka?” ungkap Syahbudi

Ia menegaskan sampai hari ini dirinya masih menunggu kepastian hukum atas seluruh bentuk ancaman yang menimpanya.

Desakan Keras: Kapolres Subulussalam Jangan Diam FRN Aceh menilai Kapolres Subulussalam harus bergerak cepat, serius, dan transparan.

Bukan hanya menyelidiki pelaku lapangan, tetapi juga mendalami semua pihak yang diduga menjadi provokator, penggerak, atau dalang dari intimidasi terhadap Syahbudin.

“Jangan sampai masyarakat menilai hukum hanya tajam ke bawah tetapi tumpul terhadap pihak-pihak yang punya pengaruh. Semua yang terlibat harus dipanggil dan diperiksa,” tegas Agus.

Hari Pers Nasional Berubah Jadi Hari Duka Kebebasan Pers

Di momentum Hari Pers Nasional, tragedi yang dialami Syahbudin Padang menjadi simbol bahwa wartawan di daerah masih jauh dari rasa aman.Teror OTK belum terungkap.Ancaman pembunuhan muncul di kantor desa.Wartawan malah diusir ketika bela warga.

Lalu publik bertanya: masih pantaskah kebebasan pers disebut hidup jika wartawan yang bersuara justru dibungkam dengan ancaman?

Berita Terkait

Harga Semen Tembus Rp110 Ribu per Zak, DPW Tani Merdeka Aceh Minta SBA Bertindak
Promosi Batu Giok Nagan Zedi Trisma Mulia Kades Seunagan Timur Berikan Cendera Mata
Dukung Program Presiden, Pemerintah Aceh Perkuat Pelaksanaan Sekolah Rakyat hingga Wilayah Tengah
UIN Ar-Raniry Seleksi 53 Peserta Internasional dari 12 Negara untuk Penerimaan Mahasiswa Baru
Aceh Bangkit! Rp58,9 Triliun Dikucurkan untuk Rehabilitasi-Rekonstruksi, Safrizal ZA: Kita Bangun Lebih Baik dan Tangguh
248 Kepala Sekolah SMA, SMK, dan SLB se-Aceh Dilantik Langsung oleh Muzakir Manaf
Asosiasi Geologi dan Pertambangan Gayo Lues,Tentang Dugaan Pelanggaran Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas PT GAYO MINERAL RESOURCES
Bahlil Lahadalia Lantik Pengurus Baru Golkar Aceh, Salim Fakhry Tegaskan Komitmen Perkuat Peran Partai

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 01:08 WIB

Aceh Tenggara Mendesak Program Strategis Mitigasi Bencana dan Irigasi untuk Ketahanan Pangan

Senin, 10 Agustus 2026 - 00:57 WIB

Kepala MTsN 1 Aceh Tenggara Diduga Simpan Penyimpangan Dana BOS, Kemenag Tegaskan Siap Proses Hukum

Senin, 10 Agustus 2026 - 00:52 WIB

Usai Kebakaran, Pesantren Darul Mukhlasin Aceh Tenggara Terima Bantuan Pemerintah dan Polri

Senin, 10 Agustus 2026 - 00:51 WIB

Proyek Irigasi P3-TGAI di Aceh Tenggara Diduga Sarat Manipulasi, PPK OP SDA-II BWS Sumatera-I Pilih Bungkam

Senin, 10 Agustus 2026 - 00:49 WIB

Kecamatan Darul Hasanah Promosikan Produk Unggulan di Festival Kakao dan Pasar Tani Aceh Tenggara

Rabu, 5 Agustus 2026 - 00:08 WIB

H. Irmawan Dinilai Mampu Jawab Harapan Publik, Didorong Pimpin Aceh Tenggara 2029

Selasa, 4 Agustus 2026 - 23:22 WIB

Proyek P3-TGAI di Aceh Tenggara Dihantam Isu Jual Beli Proyek dan Dugaan KKN

Selasa, 4 Agustus 2026 - 23:14 WIB

Tingkatkan Kualitas Layanan, Direktur RSUD H. Sahudin Kutacane Tekankan Disiplin dan Etika Medis

Berita Terbaru