Aceh Jaya — Keberadaan sejumlah warga negara asing (WNA) asal Vietnam yang diduga terlibat dalam aktivitas penambangan emas ilegal di kawasan pedalaman Aceh Jaya kembali menjadi sorotan. Setelah aparat gabungan dari kepolisian dan instansi terkait melakukan penyisiran ke lokasi tambang, hasilnya justru mencengangkan: tidak ditemukan satu pun WNA di lokasi yang sebelumnya ramai diberitakan beroperasi secara ilegal.
Tokoh muda sekaligus aktivis pemerhati lingkungan di Aceh Jaya, Nasri Saputra, merespons tajam operasi yang menurutnya tak ubahnya “drama yang dipertontonkan ke publik tanpa hasil nyata”. Ia menyebutkan bahwa kehadiran aparat justru terjadi setelah para pekerja tambang asal Vietnam meninggalkan lokasi pada malam sebelumnya, sehingga penggerebekan tidak membuahkan hasil.
“Secara resmi, mereka (aparat) sudah mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ditemukan WNA di lokasi. Tapi bagaimana mungkin bisa percaya, jika kedatangan mereka dilakukan setelah pihak yang dicari lebih dulu keluar dengan nyaman? Kesan yang ditimbulkan seperti bermain petak umpet,” tegas Nasri.
Ia menilai bahwa upaya penindakan yang dilakukan tidak disertai dengan keseriusan dalam mengungkap akar persoalan. Padahal, menurutnya, aparat memiliki sumber daya dan kemampuan untuk melacak keberadaan para pelaku lintas negara tersebut, jika memang ada niat tegas dari awal.

“Kalau hanya datang saat mereka sudah tidak ada, lalu disimpulkan tidak ditemukan, bagaimana masyarakat bisa percaya? Jangan-jangan ini cara menutupi sesuatu atau mengaburkan fakta,” ujarnya.
Nasri juga mempertanyakan kemungkinan adanya kelalaian atau bahkan pembiaran yang terjadi dalam waktu cukup lama. Ia mengungkapkan bahwa aktivitas tambang emas ilegal yang diduga melibatkan warga asing bukanlah hal baru, dan telah berlangsung selama beberapa bulan. Fakta ini membuat publik bertanya-tanya mengenai pengawasan dan koordinasi antarinstansi penegak hukum.
“Kalau benar WNA bisa bebas masuk dan melakukan kegiatan ilegal selama berbulan-bulan tanpa terdeteksi, berarti ada sesuatu yang sangat keliru. Apakah mereka lebih cerdas atau jangan-jangan ada potensi lain yang lebih serius, seperti dugaan mereka adalah mata-mata dari negara asing? Ini berbahaya,” tambahnya dengan nada prihatin.
Lebih jauh, Nasri juga menyoroti pernyataan Kasatreskrim Polres Aceh Jaya kepada sejumlah media yang menyatakan tidak ada temuan WNA di lokasi. Pernyataan ini, menurutnya, secara tidak langsung bertentangan dengan pemberitaan sebelumnya yang dimuat oleh salah satu harian ternama di Aceh. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kebenaran informasi yang berkembang di publik.
“Apakah dengan begitu pernyataan resmi aparat secara tidak langsung menyebut berita yang sebelumnya beredar itu hoaks? Ini harus diluruskan. Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan biarkan masyarakat menduga-duga terlalu jauh,” ujar Nasri.
Ia menutup pernyataannya dengan desakan agar aparat penegak hukum melakukan penyelidikan lanjutan secara menyeluruh dan transparan. Nasri menegaskan bahwa publik berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik aktivitas tambang ilegal yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga melemahkan kedaulatan hukum di wilayah perbatasan.
Saat ini, belum ada penjelasan lanjutan dari pihak kepolisian terkait tindak lanjut atas dugaan keberadaan warga asing yang terlibat dalam penambangan emas ilegal. Sementara itu, kecurigaan publik terus berkembang, seiring minimnya jawaban atas pertanyaan yang tersisa dari operasi penyisiran yang terkesan tak membuahkan hasil. (*)

































