Agus Suryadi Maju sebagai Calon Geuchik Batu Sumbang dengan Visi Sosial dan Komitmen Perubahan Desa

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Senin, 28 Juli 2025 - 22:47 WIB

50561 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Timur – Dari sebuah desa di hulu Kecamatan Simpang Jernih, suara perubahan perlahan-lahan mulai terdengar. Desa Batu Sumbang, yang selama ini nyaris luput dari perhatian media dan kebijakan besar kabupaten, kini tengah bersiap menyambut momentum enam tahunan: pemilihan Geuchik. Dalam hiruk pikuk pesta demokrasi lokal itu, satu nama mengemuka—Agus Suryadi. Bukan sekadar kandidat, tetapi pembawa gagasan yang mencoba mendefinisikan ulang peran seorang kepala desa di tengah realitas sosial yang kompleks.

Agus bukan figur asing bagi masyarakat Batu Sumbang. Ia tumbuh bersama denyut kehidupan desa yang masih kerap bergulat dengan keterbatasan infrastruktur, akses pelayanan publik, dan dinamika ekonomi yang stagnan. Namun perjalanan hidup membawanya pada profesi yang mempertemukannya dengan banyak wajah ketimpangan dan harapan: jurnalis. Bertahun-tahun ia menyusuri daerah-daerah pedalaman sebagai pekerja pers, menuliskan kisah-kisah kecil yang sering tak tersentuh kebijakan besar.

Kini, dengan pengalaman itu, ia kembali ke desa, membawa pandangan baru tentang apa yang semestinya menjadi prioritas. Bukan janji, katanya, tapi strategi. Bukan pembangunan yang elitis, tapi pelayanan yang menyentuh kehidupan warga dari dekat—dan dari dalam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari 14 program yang ia susun, sembilan di antaranya adalah program yang langsung menyentuh kebutuhan harian masyarakat. “Saya tidak bicara proyek besar. Saya bicara tentang ibu yang ingin melahirkan tapi khawatir tidak ada biaya. Tentang bapak yang meninggal dan keluarga tak tahu bagaimana urus jenazah. Tentang anak yang pintar tapi tidak tahu ke mana harus cari biaya kuliah,” ujarnya dalam sebuah pertemuan terbuka bersama warga di meunasah desa.

Baca Juga :  Sekjen DPW Fanst Respon Counter Polri Nusantara Aceh: Polres Aceh Timur Tunjukkan Komitmen Jaga Rasa Aman Lewat Penanganan Cepat

Program-program Agus dirancang menyasar titik-titik vital: pengadaan ambulans desa, beasiswa bagi pelajar dari keluarga kurang mampu, fasilitasi pengurusan administrasi kependudukan (Adminduk), santunan untuk warga yang mengalami musibah atau wafat, bantuan bagi ibu hamil yang akan melahirkan, serta akses pengobatan gratis dalam kondisi darurat.

Di luar itu, ia juga menggarisbawahi persoalan yang selama ini tabu disinggung dalam forum resmi desa: narkoba. “Batu Sumbang tidak boleh menjadi koridor gelap peredaran narkotika. Ini bukan isu kota, ini juga soal desa. Kita tidak akan kompromi,” tegasnya. Salah satu visinya adalah menjadikan Batu Sumbang sebagai Gampong Bebas Narkoba, bukan hanya sebagai slogan, tapi dengan mekanisme deteksi, pendampingan, dan edukasi lintas usia.

Yang menarik, Agus tidak bicara sendirian. Ia mengajak warga membedah setiap programnya, membuka diskusi soal anggaran, skema gotong royong, dan koneksi eksternal yang bisa digunakan. Ia mengklaim memiliki akses ke jejaring sosial yang lebih luas, mulai dari organisasi sosial, media, hingga lembaga pemerintah. “Kita tidak bisa hanya menunggu dana desa. Kepala desa hari ini harus mampu membawa program ke desa, bukan menunggu program datang,” ucapnya.

Salah satu proposalnya yang menjadi sorotan adalah pengadaan mesin RO mini—sebuah teknologi penyaring air yang akan digunakan untuk menjamin ketersediaan air bersih. Di desa yang airnya sering keruh dan tidak layak konsumsi, usulan ini mendapat banyak sambutan. Namun di sisi lain, tantangan teknis dan pembiayaan masih menjadi pertanyaan.

Para pendukung Agus melihatnya sebagai pemimpin baru yang tidak sekadar hadir karena garis keturunan atau popularitas keluarga. Ia membawa ruang dialog dalam politik desa yang selama ini sering dibungkam oleh kompromi-konpromi tertutup. Ia datang dengan catatan, bukan catatan prestise, tapi catatan masalah dan solusi yang dikumpulkannya sendiri dari cerita warga.

Baca Juga :  Pengacara Kondang Turun Gunung Bantu Saksi di Lapangan

Namun jalan menuju perubahan tidak selalu mudah. Lawannya dalam kontestasi juga memiliki pendukung loyal. Ada suara-suara yang menyangsikan kemampuan Agus dalam mengelola birokrasi desa, karena latar belakangnya yang bukan dari pemerintahan. Tapi Agus menjawab dengan sederhana: “Saya tidak ingin menjadi birokrat. Saya ingin menjadi pelayan.”

Apa yang diperjuangkan Agus bukan sekadar kemenangan di kotak suara. Tapi semacam mandat moral untuk memulihkan kepercayaan warga pada pemimpin desa. Ia menawarkan pendekatan yang lebih manusiawi dalam pemerintahan lokal: pengelolaan terbuka, aspiratif, dan responsif terhadap kebutuhan nyata.

Masyarakat Batu Sumbang kini berada di persimpangan penting. Apakah mereka akan tetap berjalan pada jalur lama yang penuh kompromi, atau memilih untuk mengambil risiko dengan memberi kepercayaan pada wajah baru—yang datang dengan semangat, rencana, dan keberanian untuk menantang kemapanan desa.

Dalam dinamika yang sunyi namun bergelora itu, suara perubahan sedang mengalir. Bukan dari megafon partai atau baliho besar. Tapi dari percakapan kecil di warung kopi, dari obrolan di meunasah, dari kekhawatiran para ibu, dari semangat anak-anak muda yang ingin pulang ke desa dengan bangga.

Dan dari sana, nama Agus Suryadi mulai dikenal. Bukan karena janjinya, tapi karena niatnya. Bukan karena gelarnya, tapi karena keberaniannya untuk mencoba merobek diam yang terlalu lama menyelimuti Batu Sumbang. (RED)

Berita Terkait

Respons Cepat Aksi Siswa, Kacabdin Aceh Timur Akan Tunjuk Plh Kepala SMAN 1 Simpang Ulim Demi Kelancaran KBM.
Desakan Audit Dana Desa Alue Kul Menguat, Warga Minta Pemeriksaan Menyeluruh
Kapolres Aceh Timur Ngopi Bareng Bersama Elemen Masyarakat Peudawa, Bahas Narkoba Hingga Tertib Berlalu Lintas
Subuh Keliling, Langkah Kapolres Aceh Timur Merawat Harkamtibmas
Proyek Rp7,25 Miliar Jalan Kuta Binjei–Alue Ie Mirah Disorot: Baru Diresmikan, Saluran 200 Meter Retak
SMP Swasta IT Samudera Pasai Mulia Ucapkan Terimakasih Kepada Presiden atas Program Makan Gratis dan Siap Menampung 1000 Santri
Desakan Penyelidikan Dana Sapi Meugang Rp7,5 Miliar Menguat, Kaperwil Mitrapolisi Aceh Minta APH Bertindak
Kadis ESDM Aceh Taufik Pimpin Aksi Bersih-Bersih Pasar Ikan Idi Rayeuk, Pemerintah Hadir Pulihkan Ekonomi Warga Pasca Banjir

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 22:14 WIB

Sambut Hari Listrik Nasional, PLN Berikan Kemudahan Tambah Daya Listrik bagi Pelanggan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:58 WIB

Respons Cepat Kericuhan Mapolda Ketum AKPERSI Apresiasi Kapolrestabes Palembang

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:10 WIB

HOAX! Kalapas Labuhan Ruku Tegaskan Isu RZ Kelola Narkoba di Dalam Lapas Tidak Benar, Lapas Labuhan Ruku Zero Narkoba

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:37 WIB

LPM Kota Pekanbaru Bagikan 5000 Masker untuk Warga Terdampak Asap

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Kantor Hukum Togar Albert dan Rekan, Berikan Penjelasan Resmi Terkait Kepemilikan Lahan Kliennya di Meranti Pandak Rumbai

Jumat, 23 Oktober 2026 - 00:16 WIB

PPWI Ogan Ilir Kecam Akun Ladusing T, Diduga Sebarkan Tudingan Tanpa Bukti

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:45 WIB

Karhutla Berulang, Hutan Terbakar atau Sengaja Dibakar?

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:22 WIB

“Fitnah Rp5 Juta Muncul Saat Uang Ditolak!” Prof. Dr. Sutan Nasomal Desak Polres Mamasa Jangan Diam!

Berita Terbaru