Waspadaindonesia.com | BANDA ACEH — Di tengah kepungan duka akibat banjir dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Aceh, sosok Anggota DPRA H. Salmawati, S.E., yang akrab disapa Bunda Salma, tampil sebagai simbol ketulusan dan kepedulian tanpa pamrih. Sejak bencana pertama kali menghantam Bumi Serambi Mekkah, langkahnya nyaris tak pernah terhenti untuk menjangkau masyarakat yang terdampak langsung.
Mulai dari Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Tamiang, hingga Bener Meriah dan Aceh Tengah, Bunda Salma hadir menyapa luka, menguatkan yang lemah, dan mengantarkan harapan bagi mereka yang kehilangan segalanya. Siang dan malam dilalui tanpa mengenal lelah, demi memastikan bantuan sampai ke tangan warga yang membutuhkan.
Sejak awal bencana hingga hari ini, berbagai bantuan logistik telah disalurkan Bunda Salma kepada korban banjir. Namun lebih dari sekadar bantuan materi, kehadirannya di tengah-tengah pengungsian menjadi penguat batin bagi masyarakat yang masih berjuang bangkit dari trauma. Ia menyaksikan langsung rumah-rumah yang hanyut diterjang banjir, keluarga yang terpaksa bertahan di pengungsian, hingga anak-anak yang harus putus sekolah karena akses pendidikan terhenti akibat banjir dan longsor.
Pemandangan paling memilukan ia temui di wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah. Di daerah pegunungan itu, korban banjir dan longsor harus berjalan kaki hingga puluhan kilometer demi mengakses jalan dan mengambil bantuan. Di tengah keterbatasan tersebut, para petani cabai tetap berjuang mempertahankan hidup, berupaya menjual hasil panen meski jalur distribusi nyaris terputus.
Tak hanya hadir menyaksikan derita, Bunda Salma memilih bertindak nyata. Ia membeli langsung cabai dari para petani, sebagai bentuk dukungan untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat yang nyaris lumpuh akibat bencana. Langkah sederhana namun bermakna itu menjadi secercah harapan di tengah kesulitan yang membelit wilayah tengah Aceh.
“Bencana boleh merenggut harta dan tempat tinggal, tetapi tidak boleh memadamkan harapan,” menjadi semangat yang terus dipegang Bunda Salma. Di tengah duka dan kepedihan, kehadirannya menjadi bukti bahwa kepedulian dan kemanusiaan masih hidup, menyala, dan terus menyusuri Aceh—mengantar harapan bagi mereka yang paling membutuhkan. [Redaksi]

































