Menakar Borok Fiskal Metro; Pengamat Sebut Kota Ini Alami “Obesitas Birokrasi” di Tengah Reruntuhan Infrastruktur

hayat

- Redaksi

Senin, 5 Januari 2026 - 05:03 WIB

50493 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

​METRO, 4 JANUARI 2026 – Pengamat Kebijakan Publik, Hendra Apriyanes (Anes), melontarkan kritik keras terhadap arah pembangunan Pemerintah Kota Metro yang dinilai kian menjauh dari kepentingan publik. Anes menyebut Metro saat ini sedang mengidap penyakit “Krisis Manajerial Akut”, di mana anggaran daerah habis tersedot untuk membiayai kenyamanan birokrasi, sementara hak rakyat atas infrastruktur yang layak terabaikan.

​Anes membedah tiga “dosa fiskal” yang menurutnya harus segera diamputasi:

​1. Tragedi Infrastruktur: 25% Jalan Kota Bopeng, Drainase Lumpuh

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Anes menyodorkan data memprihatinkan terkait kondisi fisik kota. Dari sekitar 560-600 kilometer total panjang jalan di Metro, lebih dari 25% dalam kondisi rusak dan terbiarkan.

“Ini bukan sekadar angka, ini adalah hambatan ekonomi warga. Lebih ironis lagi, 60% sistem drainase kita hanya jadi pajangan karena tidak terintegrasi, memicu genangan abadi setiap hujan turun. Pemerintah seolah-olah buta bahwa wajah kota yang ‘bopeng’ ini adalah cermin kegagalan prioritas pembangunan,” tegas Anes.

​2. Paradoks Anggaran: Memanjakan Pegawai, Memiskinkan Pembangunan

​Kritik paling tajam diarahkan Anes pada porsi Belanja Pegawai yang menembus angka 40-45% dari APBD. Anes menilai besarnya biaya untuk menggaji ASN dan tenaga honorer tidak berbanding lurus dengan produktivitas daerah.

Baca Juga :  DPD ASWIN Lampung Soroti Kinerja UPTD PAM Kota Metro: Perbaikan Pipa Jangan Dibebankan ke Konsumen

“Rakyat dipaksa membayar mahal untuk membiayai mesin birokrasi yang lamban. Mestinya, belanja pegawai yang ‘gendut’ itu jadi mesin pencetak PAD. Faktanya? PAD kita loyo, retribusi bocor di mana-mana, dan pelayanan publik masih berbelit. Ini adalah bentuk ketidakadilan fiskal: Birokrasi kenyang, pembangunan kerontang,” cetusnya.

​3. Ironi Gagal Bayar: Rezim Janji di Atas Keringat Rekanan

​Anes juga mengungkap tabir gelap manajemen kas daerah terkait pekerjaan fisik yang sudah selesai namun belum dibayarkan. Menurutnya, ini adalah bukti nyata bahwa pemerintah tidak mampu mengelola arus kas (cash flow).

“Sangat dzolim ketika keringat pekerja dan modal rekanan sudah berubah jadi aspal dan beton yang dinikmati rakyat, tapi pemerintah justru berdalih tak ada uang untuk membayar. Bagaimana mungkin gaji dan tunjangan pejabat lancar keluar, tapi hak pihak ketiga ditunda? Ini preseden buruk yang menghancurkan kepercayaan dunia usaha terhadap Pemkot Metro,” ujar Anes dengan nada geram.

Baca Juga :  Jatah Proyek Ketok Palu" di Kota Metro: Ironi Kebenaran yang Dianggap Asing, Walikota Diduga Gagal Jaga Integritas Sistem

​4. Ancaman Ekosistem: Sawah Menanti Ajal

​Anes juga memperingatkan bahwa 41% lahan sawah di Metro sedang di ambang kepunahan akibat minimnya investasi infrastruktur pertanian. “Jika jalan usaha tani hancur dan irigasi mampet, jangan salahkan petani jika mereka menjual sawah ke pengembang. Metro sedang menggali lubang kuburannya sendiri sebagai kota jasa yang berbasis agraris,” tambahnya.

​Rekomendasi Radikal dari Anes:

​Evaluasi Total Tenaga Non-ASN: Amputasi jumlah honorer yang tidak kompeten demi menyelamatkan ruang fiskal untuk perbaikan jalan.

​KPI Berbasis Pendapatan: Copot pimpinan OPD yang gagal mencapai target PAD namun terus meminta tambahan anggaran rutin.

​Moratorium Belanja Seremonial: Hentikan semua proyek estetik, perjalanan dinas, dan rapat hotel selama utang pekerjaan kepada rekanan belum lunas.

​”Pemimpin Metro jangan hanya pandai bersolek di media sosial dengan pencapaian semu. Rakyat tidak butuh seremoni, rakyat butuh jalan yang mulus dan kepastian hukum dalam berusaha. Segera reresik (bersih-bersih) birokrasi atau kota ini akan terus jalan di tempat!” . ( Hayat) )

Berita Terkait

GIAT SABUK KAMTIBMAS (sambang,budaya,kemanan dan ketertiban kota metro) polres kota metro bersama ormas grib jaya
MENODAI SEJARAH DEMOKRASI KOTA METRO: UPAYA PEMBUNGKAMAN PARTISIPASI PUBLIK DI TENGAH PROSES PENGUJIAN OMBUDSMAN RI
Pernyataan Resmi Indomedia Network terkait Hak Jawab Berita dan Perlawanan Segala Bentuk Kriminalisasi dan Intervensi Pekerja pers
Gerobak Cadang Sapi Lawang : Dispungsi Birokrasi, Distori Kekuasaan, Dan Manuver Depensip Di Kota Metro
Tekap 308 sat reskrim polres metro tangkap asisten rumah tangga yang nekat curi perhiasan majikan
SINYAL AWAL KRISIS TATA KELOLA RSUD METRO: KETIKA REGULASI DAERAH BERPOTENSI MENYIMPANG DARI HUKUM NASIONAL DAN PENGAWASAN KEUANGAN PUBLIK TERANCAM
​BREAKING NEWS: SK Wali Kota Metro Terkait Dewan Pengawas RSUD Ahmad Yani Digugat Warga, Diduga Tabrak Aturan
SUARA KRITIK WARGA DI KOTA METRO MENINGKAT: INDIKATOR KEMATANGAN DEMOKRASI LOKAL ATAU SINYAL KRISIS KEPERCAYAAN?

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 23:19 WIB

LANSIA TEWAS DI RUMBAI, POLISI DALAMI CCTV SEJAK 9 APRIL BURU PELAKU

Jumat, 1 Mei 2026 - 11:54 WIB

Rapat Andalalin Budiman Swalayan Hasilkan 3 Rekomendasi Ditlantas Polda Riau

Rabu, 29 April 2026 - 19:30 WIB

Resmi Jabat Kajati Riau, I Dewa Gede Wirajana Gantikan Sutikno 

Senin, 27 April 2026 - 15:24 WIB

Kapolda Riau: Jangan Tunggu Api Besar, Sinergi Cegah Karhutla Harus Dari Sekarang 

Sabtu, 25 April 2026 - 03:00 WIB

Kanwil Ditjenpas Riau Monitoring WFH, Pastikan Kinerja Pegawai  Tetap Produktif Lewat LOGBOOK STAR-ASN

Sabtu, 25 April 2026 - 02:45 WIB

Semangat Gotong Royong, Ibu-ibu PKK Rintis Unjuk Inovasi di Lomba “AKU HATINYA PKK” 

Kamis, 23 April 2026 - 12:06 WIB

BBPOM PEKANBARU GELAR BIMTEK PENGENDALIAN RESISTANSI ANTIMIKROBA, TEKAN PENJUALAN ANTIBIOTIK TANPA RESEP

Minggu, 19 April 2026 - 18:48 WIB

Silaturahmi Bupati Agam Sampaikan Terima Kasih kepada Kapolda Riau atas Bantuan Penanganan Bencana

Berita Terbaru