Menakar Borok Fiskal Metro; Pengamat Sebut Kota Ini Alami “Obesitas Birokrasi” di Tengah Reruntuhan Infrastruktur

hayat

- Redaksi

Senin, 5 Januari 2026 - 05:03 WIB

50529 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

​METRO, 4 JANUARI 2026 – Pengamat Kebijakan Publik, Hendra Apriyanes (Anes), melontarkan kritik keras terhadap arah pembangunan Pemerintah Kota Metro yang dinilai kian menjauh dari kepentingan publik. Anes menyebut Metro saat ini sedang mengidap penyakit “Krisis Manajerial Akut”, di mana anggaran daerah habis tersedot untuk membiayai kenyamanan birokrasi, sementara hak rakyat atas infrastruktur yang layak terabaikan.

​Anes membedah tiga “dosa fiskal” yang menurutnya harus segera diamputasi:

​1. Tragedi Infrastruktur: 25% Jalan Kota Bopeng, Drainase Lumpuh

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Anes menyodorkan data memprihatinkan terkait kondisi fisik kota. Dari sekitar 560-600 kilometer total panjang jalan di Metro, lebih dari 25% dalam kondisi rusak dan terbiarkan.

“Ini bukan sekadar angka, ini adalah hambatan ekonomi warga. Lebih ironis lagi, 60% sistem drainase kita hanya jadi pajangan karena tidak terintegrasi, memicu genangan abadi setiap hujan turun. Pemerintah seolah-olah buta bahwa wajah kota yang ‘bopeng’ ini adalah cermin kegagalan prioritas pembangunan,” tegas Anes.

​2. Paradoks Anggaran: Memanjakan Pegawai, Memiskinkan Pembangunan

​Kritik paling tajam diarahkan Anes pada porsi Belanja Pegawai yang menembus angka 40-45% dari APBD. Anes menilai besarnya biaya untuk menggaji ASN dan tenaga honorer tidak berbanding lurus dengan produktivitas daerah.

Baca Juga :  SINYAL AWAL KRISIS TATA KELOLA RSUD METRO: KETIKA REGULASI DAERAH BERPOTENSI MENYIMPANG DARI HUKUM NASIONAL DAN PENGAWASAN KEUANGAN PUBLIK TERANCAM

“Rakyat dipaksa membayar mahal untuk membiayai mesin birokrasi yang lamban. Mestinya, belanja pegawai yang ‘gendut’ itu jadi mesin pencetak PAD. Faktanya? PAD kita loyo, retribusi bocor di mana-mana, dan pelayanan publik masih berbelit. Ini adalah bentuk ketidakadilan fiskal: Birokrasi kenyang, pembangunan kerontang,” cetusnya.

​3. Ironi Gagal Bayar: Rezim Janji di Atas Keringat Rekanan

​Anes juga mengungkap tabir gelap manajemen kas daerah terkait pekerjaan fisik yang sudah selesai namun belum dibayarkan. Menurutnya, ini adalah bukti nyata bahwa pemerintah tidak mampu mengelola arus kas (cash flow).

“Sangat dzolim ketika keringat pekerja dan modal rekanan sudah berubah jadi aspal dan beton yang dinikmati rakyat, tapi pemerintah justru berdalih tak ada uang untuk membayar. Bagaimana mungkin gaji dan tunjangan pejabat lancar keluar, tapi hak pihak ketiga ditunda? Ini preseden buruk yang menghancurkan kepercayaan dunia usaha terhadap Pemkot Metro,” ujar Anes dengan nada geram.

Baca Juga :  MATTA Institute Nilai Gagal Bayar di Kota Metro Langgar Prinsip Pengelolaan Keuangan Negara

​4. Ancaman Ekosistem: Sawah Menanti Ajal

​Anes juga memperingatkan bahwa 41% lahan sawah di Metro sedang di ambang kepunahan akibat minimnya investasi infrastruktur pertanian. “Jika jalan usaha tani hancur dan irigasi mampet, jangan salahkan petani jika mereka menjual sawah ke pengembang. Metro sedang menggali lubang kuburannya sendiri sebagai kota jasa yang berbasis agraris,” tambahnya.

​Rekomendasi Radikal dari Anes:

​Evaluasi Total Tenaga Non-ASN: Amputasi jumlah honorer yang tidak kompeten demi menyelamatkan ruang fiskal untuk perbaikan jalan.

​KPI Berbasis Pendapatan: Copot pimpinan OPD yang gagal mencapai target PAD namun terus meminta tambahan anggaran rutin.

​Moratorium Belanja Seremonial: Hentikan semua proyek estetik, perjalanan dinas, dan rapat hotel selama utang pekerjaan kepada rekanan belum lunas.

​”Pemimpin Metro jangan hanya pandai bersolek di media sosial dengan pencapaian semu. Rakyat tidak butuh seremoni, rakyat butuh jalan yang mulus dan kepastian hukum dalam berusaha. Segera reresik (bersih-bersih) birokrasi atau kota ini akan terus jalan di tempat!” . ( Hayat) )

Berita Terkait

Pemkot Metro Rotasi 34 Pejabat, Sejumlah Posisi Strategis Berganti
Pengelolaan TPA Karangrejo Berproses, Masyarakat dan Pemerhati Dorong Anggaran 2027 Penanganan Berkelanjutan.
PNS di Metro Meninggal Dunia Ditembak Usai Cekcok Soal Utang, Pelaku Diburu Polisi
GIAT SABUK KAMTIBMAS (sambang,budaya,kemanan dan ketertiban kota metro) polres kota metro bersama ormas grib jaya
MENODAI SEJARAH DEMOKRASI KOTA METRO: UPAYA PEMBUNGKAMAN PARTISIPASI PUBLIK DI TENGAH PROSES PENGUJIAN OMBUDSMAN RI
Pernyataan Resmi Indomedia Network terkait Hak Jawab Berita dan Perlawanan Segala Bentuk Kriminalisasi dan Intervensi Pekerja pers
Gerobak Cadang Sapi Lawang : Dispungsi Birokrasi, Distori Kekuasaan, Dan Manuver Depensip Di Kota Metro
Tekap 308 sat reskrim polres metro tangkap asisten rumah tangga yang nekat curi perhiasan majikan

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Ribuan Jamaah Padati Haul Akbar di Sabak Auh, Kapolsek Pimpin Pengamanan

Rabu, 30 September 2026 - 17:58 WIB

Polsek Sabak Auh Cek Lahan Jagung Dukung Swasembada Pangan 2026

Senin, 28 September 2026 - 18:26 WIB

Cek Kebun Jagung di Sabak Auh, Polisi Pastikan Tumbuh Subur

Rabu, 23 September 2026 - 20:06 WIB

Meriahkan MTQ Ke-XX, Ribuan Warga Ikuti Pawai Ta’aruf di Sabak Auh

Senin, 21 September 2026 - 14:40 WIB

Bhabinkamtibmas Belading Bersama Petani Rawat Jagung Pipil 0,5 Hektare

Sabtu, 19 September 2026 - 19:04 WIB

Jagung Usia 23 Hari di Sabak Auh Tumbuh Subur, Polsek Cek Langsung

Sabtu, 12 September 2026 - 18:18 WIB

Polsek Sabak Auh Cek Tanaman Jagung Dukung Swasembada Pangan

Kamis, 3 September 2026 - 19:18 WIB

Usai Tanam Kemarin, Polsek Sabak Auh Cek Lahan Jagung di Belading

Berita Terbaru