Menakar Borok Fiskal Metro; Pengamat Sebut Kota Ini Alami “Obesitas Birokrasi” di Tengah Reruntuhan Infrastruktur

hayat

- Redaksi

Senin, 5 Januari 2026 - 05:03 WIB

50382 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

​METRO, 4 JANUARI 2026 – Pengamat Kebijakan Publik, Hendra Apriyanes (Anes), melontarkan kritik keras terhadap arah pembangunan Pemerintah Kota Metro yang dinilai kian menjauh dari kepentingan publik. Anes menyebut Metro saat ini sedang mengidap penyakit “Krisis Manajerial Akut”, di mana anggaran daerah habis tersedot untuk membiayai kenyamanan birokrasi, sementara hak rakyat atas infrastruktur yang layak terabaikan.

​Anes membedah tiga “dosa fiskal” yang menurutnya harus segera diamputasi:

​1. Tragedi Infrastruktur: 25% Jalan Kota Bopeng, Drainase Lumpuh

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Anes menyodorkan data memprihatinkan terkait kondisi fisik kota. Dari sekitar 560-600 kilometer total panjang jalan di Metro, lebih dari 25% dalam kondisi rusak dan terbiarkan.

“Ini bukan sekadar angka, ini adalah hambatan ekonomi warga. Lebih ironis lagi, 60% sistem drainase kita hanya jadi pajangan karena tidak terintegrasi, memicu genangan abadi setiap hujan turun. Pemerintah seolah-olah buta bahwa wajah kota yang ‘bopeng’ ini adalah cermin kegagalan prioritas pembangunan,” tegas Anes.

​2. Paradoks Anggaran: Memanjakan Pegawai, Memiskinkan Pembangunan

​Kritik paling tajam diarahkan Anes pada porsi Belanja Pegawai yang menembus angka 40-45% dari APBD. Anes menilai besarnya biaya untuk menggaji ASN dan tenaga honorer tidak berbanding lurus dengan produktivitas daerah.

Baca Juga :  Basuki Desak Pemkot Metro Seleksi Pejabat Secara Transparan dengan Rekam Jejak Bersih

“Rakyat dipaksa membayar mahal untuk membiayai mesin birokrasi yang lamban. Mestinya, belanja pegawai yang ‘gendut’ itu jadi mesin pencetak PAD. Faktanya? PAD kita loyo, retribusi bocor di mana-mana, dan pelayanan publik masih berbelit. Ini adalah bentuk ketidakadilan fiskal: Birokrasi kenyang, pembangunan kerontang,” cetusnya.

​3. Ironi Gagal Bayar: Rezim Janji di Atas Keringat Rekanan

​Anes juga mengungkap tabir gelap manajemen kas daerah terkait pekerjaan fisik yang sudah selesai namun belum dibayarkan. Menurutnya, ini adalah bukti nyata bahwa pemerintah tidak mampu mengelola arus kas (cash flow).

“Sangat dzolim ketika keringat pekerja dan modal rekanan sudah berubah jadi aspal dan beton yang dinikmati rakyat, tapi pemerintah justru berdalih tak ada uang untuk membayar. Bagaimana mungkin gaji dan tunjangan pejabat lancar keluar, tapi hak pihak ketiga ditunda? Ini preseden buruk yang menghancurkan kepercayaan dunia usaha terhadap Pemkot Metro,” ujar Anes dengan nada geram.

Baca Juga :  ASWIN Lampung Desak Evaluasi UPT PAM Metro, Ombudsman Diminta Turun Tangan

​4. Ancaman Ekosistem: Sawah Menanti Ajal

​Anes juga memperingatkan bahwa 41% lahan sawah di Metro sedang di ambang kepunahan akibat minimnya investasi infrastruktur pertanian. “Jika jalan usaha tani hancur dan irigasi mampet, jangan salahkan petani jika mereka menjual sawah ke pengembang. Metro sedang menggali lubang kuburannya sendiri sebagai kota jasa yang berbasis agraris,” tambahnya.

​Rekomendasi Radikal dari Anes:

​Evaluasi Total Tenaga Non-ASN: Amputasi jumlah honorer yang tidak kompeten demi menyelamatkan ruang fiskal untuk perbaikan jalan.

​KPI Berbasis Pendapatan: Copot pimpinan OPD yang gagal mencapai target PAD namun terus meminta tambahan anggaran rutin.

​Moratorium Belanja Seremonial: Hentikan semua proyek estetik, perjalanan dinas, dan rapat hotel selama utang pekerjaan kepada rekanan belum lunas.

​”Pemimpin Metro jangan hanya pandai bersolek di media sosial dengan pencapaian semu. Rakyat tidak butuh seremoni, rakyat butuh jalan yang mulus dan kepastian hukum dalam berusaha. Segera reresik (bersih-bersih) birokrasi atau kota ini akan terus jalan di tempat!” . ( Hayat) )

Berita Terkait

Walikota Metro Klarifikasi ‘Drama’ Gagal Bayar Proyek APBD 2025 , Menilai Hal Wajar Serta Berbagai Faktor Penyebab
Menakar “Lubang” APBD Metro 2026: Infrastruktur Terancam Dipangkas 30 Persen, Rakyat Jadi Tumbal Salah Urus Fiskal Masa Lalu
Ungkap Pemicu Gagal Bayar Rekanan, Kas Daerah Kota Metro Menipis di Akhir Tahun
MATTA Institute Nilai Gagal Bayar di Kota Metro Langgar Prinsip Pengelolaan Keuangan Negara
Kas Daerah Kosong, Proyek di Metro Gagal Bayar Raport Merah Tutup Tahun
Skandal Proyek Dinas PUPR Metro: Pernyataan Eks Kadis Mengenai Intervensi ‘Tangan Besi’ Aktor Misterius
Jatah Proyek Ketok Palu” di Kota Metro: Ironi Kebenaran yang Dianggap Asing, Walikota Diduga Gagal Jaga Integritas Sistem
Carut-Marut Penunjukan Langsung PUTR Kota Metro: Indikasi Lemahnya Kendali dan Pengawasan

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 17:54 WIB

Pengurus IWO Batu Bara Audiensi Ke Kejari Batu Bara, Perkuat Sinergi Media dan Penegakan Hukum

Selasa, 13 Januari 2026 - 12:41 WIB

PD IWO Desak Bupati Batu Bara Tunda Rekomendasi Pembaruan HGU PT Socfindo Tanah Gambus

Senin, 12 Januari 2026 - 18:19 WIB

Kapolsek Medang Deras AKP A.H. Sagala, Menyampaikan Imbauan Kepada Masyarakat Untuk Mewaspadai Cuaca Yang Masih Ekstrem

Senin, 12 Januari 2026 - 10:35 WIB

Pria 27 Tahun Ditemukan Tewas Gantung Diri di Rumah Desa Pasar Lapan Kecamatan Air Putih, Polsek Indrapura Olah TKP

Minggu, 11 Januari 2026 - 08:19 WIB

Seorang Pemuda Desa Nanas Siam Wan Fahri, Mengucapkan Terimakasi Kepada Kapolres Batu Bara dan Kapolsek Medang Deras Atas Bantuan Perbaikan Jalan Yang Terputus Akibat Banjir

Sabtu, 10 Januari 2026 - 20:07 WIB

Kanit Reskrim Polsek Medang Deras Galar Patroli Malam Antisipasi 3C dan Gangguan Kamtibmas Lainnya

Jumat, 9 Januari 2026 - 21:54 WIB

Beraksi di Waktu Siang, Maling Elpiji 3 Kg di Desa Titi Payung Tertangkap Basah Oleh Masyarakat

Jumat, 9 Januari 2026 - 01:04 WIB

Warga Kabupaten Simalungun Tewas Terlindas Truk di Depan PKS Sei Suka Kabupaten Batu Bara

Berita Terbaru