KUTACANE | Kebakaran hebat yang melanda Desa Bambel Gabungan, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 17.00 WIB, memicu kepanikan dan kemarahan warga. Dalam hitungan menit, kobaran api melahap delapan rumah hingga nyaris rata dengan tanah, sementara satu rumah lainnya turut terdampak. Kepulan asap hitam membumbung tinggi dari permukiman padat, menggambarkan besarnya musibah yang menimpa warga sore hari itu.
Sejumlah warga tampak berlarian sembari berupaya menyelamatkan barang-barang berharga. Panik dan kecemasan menyelimuti suasana, karena api terus merambat dengan cepat ke rumah-rumah sekitar. Para korban nyaris tanpa daya menghadapi laju api yang tidak terkendali, sementara kerumunan masyarakat lain hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.
Kemarahan warga menguat ketika upaya penanganan dianggap tidak maksimal. Protes keras dilontarkan atas dugaan lambannya mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi, serta persoalan utama yang disoroti: armada pemadam disebut tidak membawa air yang cukup dan aliran air sempat tersendat ketika proses pemadaman berlangsung. Situasi ini memperburuk kondisi, sebab api terlanjur membesar sebelum akhirnya bisa dijinakkan.
Hingga kini, penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Pemerintah daerah dan petugas terkait masih mengumpulkan data di lapangan, termasuk upaya memastikan tidak adanya korban jiwa serta menghitung besarnya total kerugian material. Warga berharap pemerintah segera melakukan langkah konkret, mulai dari tanggap darurat bagi para korban hingga evaluasi menyeluruh terhadap kesiapsiagaan petugas di lapangan.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah maupun seluruh jajaran terkait agar lebih sigap dan siap tanggap menghadapi bencana. Masyarakat menanti kepastian dan pertanggungjawaban dari pihak berwenang mengenai penanganan kebakaran, sekaligus menginginkan adanya solusi nyata agar kejadian serupa tidak terulang di masa datang. Sementara itu, kondisi puluhan korban kini masih menunggu bantuan lebih lanjut di tengah suasana duka dan kehilangan.
Laporan : Salihan Beruh



































