Kualitas udara berbahaya, AKPERSI soroti penanganan karhutla Sumsel.
PALEMBANG, waspadaindonesia.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali pekat menyelimuti Kota Palembang pada Minggu (4/10/2026) sore. Jarak pandang menurun dan aktivitas warga terganggu.
Data kualitas udara mencatat konsentrasi PM2.5 sempat menyentuh angka 903,6 mikrogram per meter kubik, masuk kategori sangat berbahaya bagi kesehatan.
Dampak kesehatan pun meluas. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan mencatat 40.555 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang September 2026. Palembang menjadi wilayah tertinggi dengan 10.965 kasus.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Umum DPP Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI) Rino Triyono mendesak langkah luar biasa dari pemerintah pusat dan daerah.
Menurut Rino, persoalan tidak cukup diselesaikan dengan pembagian masker dan pengobatan gratis. Pemerintah, kata dia, harus memastikan pencegahan berjalan dan sumber kebakaran ditangani tuntas.
“Empat puluh ribu lebih kasus ISPA dalam satu bulan adalah alarm. Jangan biarkan Sumsel menghadapi persoalan ini sendirian,” ujarnya melalui siaran pers.
Ia juga menyoroti terganggunya kegiatan belajar mengajar akibat kabut asap. Sejumlah sekolah terpaksa menyesuaikan pembelajaran demi melindungi siswa.
DPP AKPERSI meminta Kementerian Kesehatan turun langsung, BNPB memperkuat operasi pemadaman, serta aparat penegak hukum mengusut tuntas setiap dugaan pembakaran lahan secara profesional.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Pemprov Sumsel terkait desakan tersebut.
Penulis: DPP AKPERSI
Editor: Rosbinner Hutagaol
Reporter: Tim
Sumber: Siaran Pers DPP AKPERSI


































