Prof. Dr. Sutan Nasomal Minta Presiden Perintahkan Polri–TNI Ungkap Berbagai Kasus Burem di Indonesia Ada Sinyalemen Dugaan Negara Gagal Lindungi Suara Kebenaran, Rakyat Dipaksa Diam

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Kamis, 2 Oktober 2025 - 22:32 WIB

50316 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – 2 Oktober 2025 | Indonesia tengah menghadapi krisis moral dan hukum yang menggerogoti fondasi demokrasi. Dalam waktu hampir bersamaan, dua jenis kekerasan terhadap suara-suara kebenaran terjadi: wartawan dipukul hingga buta, sementara pejuang rakyat dikriminalisasi dan dijebloskan ke penjara.

Dua cerita berbeda, namun benang merahnya sama: negara lamban, hukum tunduk, dan kekuasaan diam-diam berpihak pada yang kuat.

Kasus Pertama: Wartawan Dianiaya, Polisi Diam
Diri Ambarita, wartawan di Bekasi, dipukuli dengan brutal hingga mengalami kebutaan di mata kiri dan luka serius lainnya. Pelakunya belum ditangkap. Bahkan, belum ada kepastian dari aparat mengenai perkembangan kasus ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu di Sumatra Utara, wartawan Tahan Purba menjadi korban pengeroyokan oleh empat pria. Tapi bukannya mendapat keadilan, ia justru dilaporkan balik oleh pelaku dan kini menjadi terlapor. Sebuah ironi keadilan yang menyakitkan.

“Ini adalah bentuk pembungkaman terhadap fungsi kontrol pers,” ujar Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, pakar hukum dan pengamat demokrasi. “Jika negara tidak segera bertindak, maka pesan yang dikirim ke publik adalah: jangan bicara kebenaran, atau kamu akan dibungkam.”

Kasus Kedua: Tanah Dirampas, Suara Dibungkam
Sementara di ujung barat Indonesia, tepatnya di Aceh Singkil, seorang aktivis agraria bernama Yakarim Munir Lembong kini ditahan di penjara atas laporan pidana dari perusahaan sawit PT Delima Makmur.

Baca Juga :  Empat Kendaraan Terlibat Kecelakaan di Tol Pulomas Arah Tanjung Priok

Penahanan ini terjadi di tengah proses gugatan perdata yang sedang berlangsung antara Yakarim dan perusahaan tersebut. Diduga kuat, ini adalah upaya pembungkaman terhadap suara kritis yang selama ini menuntut transparansi dan keadilan agraria di daerahnya.

Dalam sebuah surat terbuka dari balik jeruji, Yakarim menyampaikan jeritan perlawanan:
“Para pejuang yang tak pernah mati, justru sedang diadili oleh konspirasi titipan para oligarki. Kami korban dari sistem yang ingin membungkam perjuangan.”

Surat tersebut ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto, tokoh masyarakat, media, dan seluruh rakyat Indonesia.

Surat kepada Presiden: Jangan Tutup Mata, Pak Prabowo
Yakarim menulis secara langsung kepada Presiden:
“Saya mohon kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk tidak menutup mata atas apa yang terjadi. Perusahaan ini telah merampas tanah rakyat dan menjadikan hukum sebagai alat untuk membungkam kami.”

Kuasa hukumnya, Zahrul, SH, menegaskan:
“Ini murni sengketa perdata. Tidak ada alasan hukum untuk memenjarakan Yakarim. Penahanan ini adalah bentuk nyata kriminalisasi terhadap pembela hak rakyat.”

Satu Tujuan: Membungkam Kebenaran
Kedua kasus ini – wartawan yang dipukuli dan aktivis yang dikriminalisasi – menggambarkan wajah buram demokrasi Indonesia hari ini. Ketika rakyat bersuara, mereka dipukul. Ketika rakyat menggugat, mereka dipenjara.

“Bangkitlah wahai rakyat! Bila hukum telah menjadi alat kekuasaan, dan keadilan telah dijual, maka kita tak bisa tinggal diam,” tulis Yakarim dalam seruan perlawanan dari balik penjara.

Baca Juga :  BUKA RAKERNIS DENSUS 88, KAPOLRI KUNJUNGI STAND USAHA MILIK EKS NAPI TERORIS

Redaksi Berpendapat: Ini Bukan Sekadar Kasus Hukum, Ini Darurat Demokrasi
Kita tidak sedang bicara soal dua kasus terpisah. Kita sedang menyaksikan pola pembungkaman yang sistemik. Wartawan dibungkam, pejuang rakyat dipenjara, dan negara memilih menjadi penonton.

Di mana Dewan Pers? Di mana Komnas HAM? Di mana suara elite politik yang dulu lantang bicara demokrasi?

Kita butuh lebih dari sekadar kutukan moral. Kita butuh gerakan sosial. Kita butuh solidaritas rakyat. Kita butuh hukum yang benar-benar bekerja untuk rakyat, bukan untuk oligarki.

Tentang Yakarim Munir Lembong
Yakarim bukan kriminal. Ia adalah anak dari Hj. Rafi’ Barus, seorang perempuan pejuang yang pernah dibuang secara politik. Tumbuh di pinggir Sungai Leu Cinendang, Aceh Singkil, Yakarim menjadi simbol perjuangan akar rumput yang menolak tunduk pada korporasi rakus dan negara yang abai.

Ini Ujian Kita Bersama
Demokrasi mati bukan hanya ketika tank masuk ke jalanan, tapi juga ketika suara-suara kecil tak lagi didengar, dan kebenaran menjadi alasan untuk dipenjarakan.

Hari ini, Diri Ambarita tidak bisa melihat. Tahan Purba dilaporkan balik. Yakarim dipenjara. Besok bisa jadi giliran kita semua.

Nara Sumber:
Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH – Pakar Hukum Internasional, Ekonom, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Jenderal Kompii, serta Pengasuh Ponpes Ass Saqwa Plus Jakarta.

Berita Terkait

PHK Sepihak Eks Manajer PT NHM, PA-Malut Desak Perusahaan Bayar Hak Pekerja Rp 14,7 Miliar
Apresiasi Langkah Tegas Menteri Imipas Agus Andrianto, Nonaktifkan Kalapas Cibinong Bukti Imipas Benahi Jajaran
Waspada Akun Online tiktok Diduga Menawarkan Video Call Berujung Permintaan Uang, Warga Diminta Tidak Mudah Terpancing
Prof DR Sutan Nasomal : Di Masa Pimpinan Prabowo, Carut Marut Hukum Dibalik Banyak Pejabat Dipenjarakan Dengan Rompi Orange
Lahan Warga Karangsia Sungai Menang, AKPERSI Dorong Verifikasi Menyeluruh
Rakerwil I PW GP Al Washliyah DKI Jakarta Resmi Digelar, Siap Bersinergi untuk Jakarta dan Indonesia
VIRAL! Bedah Buku Internasional UI: Karya Mahasiswa S2 Gizi FKM USU Ditetapkan Sebagai Referensi Akademik Banyak Terima Hadiah Atas Prestasinya
GRAKI Soroti Sumber Dana dan Kepemilikan PT Genba Multi Mineral

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 19:49 WIB

Kapolsek Teluk Meranti Hadir di Malam Akrab Polres Pelalawan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:49 WIB

Apresiasi Kapolda Riau Camat Teluk Meranti Sukseskan Ekspedisi Merah Putih

Sabtu, 11 Juli 2026 - 18:08 WIB

Wujudkan Sekolah Ramah Anak, Bhabinkamtibmas Teluk Meranti dan Mahasiswa KKN UNRI Beri Edukasi di SDN 015

Selasa, 7 Juli 2026 - 07:27 WIB

Bhabinkamtibmas Polsek Teluk Meranti Cek Lahan Cabai Warga Dukung Ketahanan Pangan

Minggu, 5 Juli 2026 - 23:31 WIB

Syukuran HUT Bhayangkara & Kenaikan Pangkat 3 Personel Polsek Teluk Meranti Meriah

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:42 WIB

Jabat Erat Tangan Kapolres, 3 Personel Teluk Meranti Resmi Sandang Pangkat Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 - 13:00 WIB

Bhabinkamtibmas Polsek Teluk Meranti Kawal Lahan Warga Menuju Swasembada Pangan

Sabtu, 13 Juni 2026 - 21:40 WIB

Bhabinkamtibmas Teluk Meranti Dukung Swasembada Pangan Petani

Berita Terbaru

SIAK

Jagung 0,5 Ha di Sabak Auh Tumbuh Subur, Usia 40 Hari

Selasa, 6 Okt 2026 - 18:45 WIB