Bukittinggi-Sumbar, waspadaindonesia.com – Pepatah Minangkabau menyebut, saciok bak ayam, sadanciang bak basi. Rasa itulah yang dibawa para perantau Ikatan Keluarga Luhak Agam Rumah Gadang Sakato (IKLA RGS) Riau saat kembali menjejakkan kaki di ranah, menyapa kampung halaman yang tengah dilanda bencana hidrometeorologi. Sabtu (10/01/2026).
Sebanyak 47 orang perwakilan IKLA Riau hadir membawa amanah dari rantau, bukan sekadar bantuan materi, tetapi juga titipan rindu, empati, dan ikatan batin yang indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh antara perantau dan kampung asal. Di rumah dinas Bupati Agam Belakang Balok.
Rombongan disambut langsung oleh Bupati Agam Benni Warlis Dt. Tan Batuah, didampingi Asisten I Setda Agam Yunilson, Camat Palupuh Nong Rianto, Camat Palembayan Sabirun, Sekcam Malalak Edwar, serta dua orang wali nagari dari Kecamatan Palupuh, yakni Wali Nagari Nan Limo dan Wali Nagari Pasia Laweh.
Dalam sambutannya, Bupati Agam menyampaikan rasa haru dan terima kasih atas kepedulian para perantau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menegaskan bahwa di tengah cobaan alam, kehadiran dunsanak dari rantau menjadi penguat moral dan penopang semangat masyarakat yang terdampak.
Kok kampuang ditimpo musibah, rantau dipanggia rasonyo.
Ketua IKLA Riau, Yosrizal, mengungkapkan bahwa IKLA merupakan payuang panji bagi seluruh organisasi perantau Luhak Agam di Riau, yang di dalamnya berhimpun berbagai ikatan keluarga seperti IKEDA, IKTR, dan IKK.
“Kami datang bukan sebagai tamu, tapi sebagai keluarga yang pulang melihat kampuang nan sedang taluko,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan bahwa sebelumnya sejumlah organisasi perantau, seperti IKABA dan IKEDA, telah lebih dahulu menyalurkan bantuan sebagai wujud kepedulian bersama, menandakan bahwa perantau Minangkabau tetap sapakat jo saiyo sakato ketika ranah ditimpa bencana.
Bantuan yang diserahkan IKLA Riau berjumlah Rp112 juta, dilengkapi beras, mi instan, serta pakaian layak pakai.
Seluruhnya merupakan hasil urang basamo mangko basamo, cerminan falsafah barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.
Sementara itu, AKBP Darien, selaku Ketua Pengumpulan Dana, menegaskan bahwa dana tersebut merupakan amanah adat jo amanah batin.
“Bantuan ini sepenuhnya untuk dunsanak kami yang tertimpa bencana. Berdosa rasanya jika terpakai untuk ongkos perjalanan. Ini titipan hati dari rantau,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ia menambahkan, meski jarak memisahkan, batin perantau Minangkabau tetap berpaut pada kampung halaman.
“Kami boleh jauh di rantau, tapi raso kami tetap di ranah. Dunsanak sakik, kami turut maraso. Dunsanak susah, kami terpanggil,” tuturnya.
Adapun penyaluran bantuan dana dilakukan ke empat kecamatan terdampak, yaitu:
Kecamatan Palembayan sebesar Rp.43 juta
Kecamatan Tanjung Raya sebesar Rp.34 juta
Kecamatan Malalak sebesar Rp.23 juta
Kecamatan Palupuh sebesar Rp.12 juta.
Di tengah deru bencana, langkah para perantau ini menjadi bukti bahwa hubungan antara rantau dan ranah bukan sekadar ikatan geografis, melainkan ikatan batin yang diwariskan adat:
ka ateh indak bapucuak, ka bawah indak baurek, tapi bak sabatang pisang, patah tumbuah, hilang baganti.
Ardy BM
(Idam Lanun)


































