Waspadaindonesia.com | ACEH — Bencana banjir yang terus melanda Aceh tidak hanya merusak lingkungan dan harta benda, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi para korban. Drs. Isa Alima, Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh, menyoroti dampak psikologis banjir yang semakin mengkhawatirkan dan mendesak semua pihak untuk segera melakukan upaya pemulihan psikologis bagi warga yang terdampak.
“Setiap kali hujan datang, kampung halaman berubah menjadi alur sungai yang menakutkan. Trauma dan kecemasan menghantui warga, terutama anak-anak. Kita harus segera bertindak untuk memulihkan psikologi mereka,” ujar Isa Alima dengan nada prihatin.
Trauma yang Menggerogoti: Anak-Anak Paling Rentan
Menurut Isa Alima, dampak psikologis banjir yang paling umum adalah trauma, kecemasan, dan depresi. “Para korban, terutama anak-anak, mengalami mimpi buruk, sulit tidur, dan merasa tidak aman. Mereka membutuhkan pendampingan dan dukungan yang berkelanjutan,” jelas Isa Alima.
Ia menambahkan, perubahan kampung halaman menjadi alur sungai telah merenggut rasa aman dan nyaman yang selama ini dirasakan oleh warga. “Mereka kehilangan tempat yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan dan ketenangan. Ini sangat memengaruhi kesehatan mental mereka,” tegas Isa Alima.
Hunian Sementara dan Ramadan: Ujian Tambahan yang Membutuhkan Perhatian Khusus
Selain itu, Isa Alima juga menyoroti kondisi hunian sementara yang belum memadai dan kekhawatiran menjelang bulan suci Ramadan. “Para korban kini harus tinggal di hunian sementara yang sempit, kurang bersih, dan minim fasilitas. Mereka juga khawatir bagaimana bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang di tengah kondisi yang serba terbatas,” ujarnya.
Ia mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk segera memprioritaskan penyediaan hunian sementara yang layak dan memberikan dukungan psikologis yang memadai kepada para korban, terutama menjelang bulan Ramadan.
Ayo Bergerak Bersama: Pulihkan Psikologi, Bangun Kembali Harapan
Dalam situasi yang sulit ini, mantan Ketua Komisi C DPRK Pidie, mengajak semua pihak untuk bersatu padu membantu para korban banjir. “Mari kita bergerak bersama, ulurkan tangan, dan jadikan solidaritas sebagai jembatan kebaikan untuk meringankan beban saudara-saudara kita. Dengan bersama, kita bisa memulihkan psikologi mereka, membangun kembali kampung halaman mereka, dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus,” pungkas Isa.
Mari kita jadikan momentum ini untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental dan memberikan dukungan yang berkelanjutan kepada para korban banjir. [Redaksi]

































