Waspadaindonesia.com Aceh — Gelombang opini publik di Aceh kembali bergejolak. Bukan karena politik anggaran, bukan pula karena tarik-menarik kekuasaan, tetapi karena kabar pernikahan Gubernur Aceh yang mencuat di tengah derita rakyat akibat banjir dan longsor.
Secara hukum dan agama, pernikahan adalah perkara sah dan pribadi. Namun di mata masyarakat yang sedang berjuang bertahan di pengungsian, kabar itu terasa seperti tamparan emosional. Bukan poligaminya yang dipersoalkan, tetapi waktunya—dan rasa empati yang dianggap hilang.
Nama Muzakir Manaf, tokoh yang selama ini dipandang sebagai simbol perjuangan rakyat Aceh, mendadak berada di pusaran sinisme. Pertanyaan publik mengalir deras: “Di mana sensitivitas pemimpin ketika rakyat masih meratap kehilangan rumah, harta, bahkan keluarga?” Pertanyaan itu bukan sekadar kritik, tetapi jeritan tentang harapan yang patah. Sebab bagi rakyat Aceh, pemimpin bukan hanya sosok administratif, tetapi simbol keteduhan di masa sulit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
_Di era media sosial, persepsi jauh lebih cepat bergerak dibandingkan fakta. Gestur pemimpin kini menjadi pesan politik yang berdampak langsung. Dalam konteks bencana, publik ingin melihat pemimpinnya hadir secara fisik maupun emosional. Bahwa di tengah rumitnya kerja-kerja birokrasi, pemimpin tidak kehilangan kepekaan pada penderitaan warganya_
Kontroversi ini bukan tentang membenci, bukan pula tentang menolak nilai agama. Ini tentang rasa: rasa kecewa, rasa ditinggalkan, rasa bahwa pemimpin sedang merayakan kebahagiaan pribadi sementara rakyat sibuk menyeka lumpur dari sisa-sisa rumah mereka. Ketika simbol kehadiran pemimpin tidak terasa, yang muncul bukan hanya kritik, tetapi juga luka batin kolektif.
Pada akhirnya, polemik ini menggambarkan satu hal penting: krisis kepercayaan. Rakyat Aceh tidak sedang mengadili pernikahan, tetapi mengadili kepekaan kepemimpinan.
Dalam dunia politik, kehilangan rasa sering kali jauh lebih berbahaya dibanding kehilangan jabatan. Sebab sekali publik merasa diabaikan, retaknya kepercayaan sulit dirajut kembali bahkan oleh pemimpin yang paling kuat sekalipun.

































