JAKARTA | Peningkatan aktivitas vulkanik di sejumlah gunung api di Indonesia kembali memunculkan kekhawatiran publik akan risiko bencana alam besar, seperti tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Peristiwa yang merenggut ratusan ribu korban jiwa itu selama lebih dari dua dekade kerap diseret dalam berbagai teori konspirasi tentang penyebab utamanya. Namun, pakar kebencanaan sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa tsunami Aceh dipicu murni oleh gempa bumi tektonik raksasa di zona megathrust Sumatera–Andaman, dan sama sekali tidak berhubungan dengan ledakan nuklir, uji coba senjata, ataupun rekayasa teknologi manusia.
Pernyataan ini disampaikan Daryono dalam keterangan tertulis pada Rabu (9/9/2026). Ia menegaskan, hasil penelitian dari berbagai bidang—mulai dari seismologi, geologi, geodesi, hingga analisis gelombang tsunami—telah menghasilkan bukti ilmiah yang konsisten, bahwa bencana 2004 adalah akibat rekahan batuan alami di batas pertemuan lempeng tektonik, bukan karena intervensi buatan.
Menurut Daryono, sejumlah faktor kunci yang dapat menjelaskan penyebab gempa 2004 antara lain lokasi dan kedalaman sumber gempa yang berada di bawah Samudera Hindia, di zona subduksi Aceh–Andaman, pada kedalaman puluhan kilometer—tata letak yang mustahil jika dikaitkan dengan ledakan manusia di dasar laut. Tegangan batuan yang telah menumpuk lama pada bidang megathrust tiba-tiba dilepaskan, memicu patahan besar dan pelepasan energi secara masif, sesuai pola gempa subduksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih jauh, proses pelepasan energi pada gempa Aceh 2004 tercermin dari rekahan yang menjalar sepanjang 1.200–1.300 kilometer, mengikuti arah zona subduksi. Tempo pelepasan energi juga berjalan selama beberapa menit, bukan dalam sekejap seperti ledakan senjata, dengan pola rekahan sangat panjang dan terarah, ciri khas gempa megathrust skala besar.
Rekaman seismik dari ratusan alat di seluruh dunia mengkonfirmasi mekanisme patahan naik (thrust) dengan karakteristik double-couple, berbeda dari pola isotropik atau kompresi yang biasanya dihasilkan ledakan nuklir. “Rekaman seismik ini menjadi sidik jari sangat kuat yang menguatkan gempa tektonik sebagai penyebab tsunami Aceh,” jelas Daryono.
Bukti berikutnya, deformasi kerak bumi dan perubahan dasar laut terjadi sesuai model pergeseran megathrust. Sebagian dasar laut terangkat tinggi, sebagian lain menurun, menimbulkan perpindahan massa air laut dalam volume sangat besar—itulah yang memicu tsunami raksasa. Pola pengangkatan dan penurunan permukaan pesisir, menurut Daryono, sejalan sepenuhnya dengan model gempa megathrust, bukan efek gelombang ledakan.
Dari karakteristik gelombang tsunami pun dapat diketahui bahwa peristiwa yang terjadi merupakan konsekuensi runtut dari terangkatnya dasar laut dalam wilayah luas. Pola tsunami yang tercatat dan model penyebarannya di Samudera Hindia cocok dengan sumber gempa megathrust Sumatera–Andaman.
Selain itu, gempa Aceh 2004 didahului aktivitas seismik tinggi pada 2002–2003, yang menurut Daryono merupakan aktivitas pendahuluan sistem tektonik yang memang aktif sejak lama. Setelah gempa utama, tercatat ribuan gempa susulan yang menurun seiring waktu—fenomena sangat lazim dalam gempa tektonik, tapi hampir mustahil terjadi bila bencananya dipicu ledakan tunggal.
Jaringan pemantauan Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organization (CTBTO) juga telah merekam secara detail peristiwa gempa Aceh 2004. Data CTBTO membantah keras adanya indikasi ledakan nuklir. Organisasi dengan tugas utama mendeteksi uji coba senjata nuklir secara global ini justru mencatat rangkaian gempa utama dan susulan yang konsisten dengan aktivitas tektonik alami, bukan aktivitas manusia.
Melihat sejarah geologi, Daryono mengingatkan bahwa zona megathrust Sumatera–Andaman telah memicu gempa dan tsunami besar bahkan sebelum manusia mengenal nuklir. Sejarah mencatat gempa besar di Sumatera pada 1797, 1833, dan 1861, sementara endapan tsunami purba menunjukkan kejadian serupa jauh sebelum abad modern.
Berdasarkan seluruh rangkaian bukti tersebut, Daryono menegaskan, tidak ada bukti ilmiah sedikit pun bahwa peristiwa tsunami Aceh 2004 merupakan hasil rekayasa manusia. Gempa dan tsunami yang terjadi adalah bagian dari siklus tektonik yang sudah berlangsung selama berabad-abad di wilayah Indonesia.
Terkait bencana terbaru, gempa bermagnitudo 7,7 yang melanda Nusa Tenggara Timur beberapa hari lalu kembali mengingatkan pentingnya literasi kebencanaan dan solidaritas antarwarga untuk menghadapi risiko serupa di masa depan. (*)



































