Aroma Amis Dana BTT Aceh Tenggara: 700 Juta Ludes dalam 14 Hari, Hak Pekerja Lapangan Diduga Malah Dikebiri

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Sabtu, 10 Januari 2026 - 20:54 WIB

50313 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

​Aceh Tenggara – WASPADA INDONESIA -Musibah banjir yang meluluhlantakkan pemukiman dan perkebunan di Aceh Tenggara seharusnya menjadi momentum solidaritas. Namun, di balik lumpur sisa bencana, aroma tak sedap justru tercium dari pengelolaan dana Belanja Tidak Terduga (BTT). Dana yang dikucurkan untuk kemanusiaan diduga kuat menjadi ajang “bancakan” oknum tertentu.

​Kecepatan Kilat Menghabiskan Anggaran
​Hanya dalam rentang 14 hari masa tanggap darurat (27 November – 10 Desember 2025), BPBD Aceh Tenggara dilaporkan telah “melahap” anggaran BTT tahap pertama sebesar Rp 700 juta. Secara matematis, instansi ini

menghabiskan rata-rata Rp 50 juta per hari hanya untuk biaya operasional dan honorarium tim.
​Kecepatan penyerapan anggaran ini berbanding terbalik dengan fakta di lapangan. Alih-alih kesejahteraan tim yang diutamakan, jeritan justru datang dari para pejuang garis depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Hak Pekerja: Dipangkas Saat Lelah Memuncak
​Informasi yang dihimpun dari internal BPBD mengungkap tabir gelap. Staf yang bertaruh nyawa di lokasi bencana mengeluh karena honor yang mereka terima tidak sesuai dengan plafon yang dijanjikan.

​”Kami yang bekerja, kami yang berlumur lumpur, tapi honor kami justru dipangkas. Ini bukan soal jumlah, tapi soal hak yang dicuri di tengah musibah,” ungkap salah satu sumber staf BPBD dengan nada kecewa.
​Budaya bungkam pun coba ditanamkan. Para pegawai mengaku dihantui ancaman sanksi jika berani bersuara. Ketakutan ini menjadi indikasi kuat bahwa ada yang “tidak beres” dalam dapur administrasi keuangan BPBD di bawah komando Kalaksa Mohd Asbi.,ST.

Baca Juga :  Momen Halal Bihalal di Pendopo Bupati, Warga Empat Kecamatan di Aceh Tenggara Suarakan Desakan Berantas Narkoba

​BTT Rp 3,2 Miliar: Penyelamat Rakyat atau Lahan Jarahan?
​Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara sebenarnya telah merealisasikan total dana BTT sebesar Rp 3,2 Miliar dari APBK 2025. Dana jumbo ini disebar ke 17 dinas dan instansi. Namun, posisi BPBD sebagai pemegang kendali utama tahap pertama senilai Rp 1,7 Miliar (di mana Rp 700 juta sudah ludes) kini berada di bawah mikroskop publik.

​Kecurigaan mencuat bahwa dana kedaruratan sering dijadikan “bajakan” oleh oknum pejabat untuk meraup keuntungan pribadi maupun kelompok dengan memanfaatkan celah administrasi yang serba cepat di masa bencana.
​Ke Mana Kalaksa dan Bendahara?

​Hingga berita ini diturunkan, Kalaksa BPBD Aceh Tenggara, Mohd Asbi.,ST, dikabarkan sedang berada di Banda Aceh dan belum dapat memberikan klarifikasi resmi. Ketidakhadiran pimpinan di saat isu pemotongan honor memanas semakin memperkeruh suasana.
​Publik kini menunggu keberanian Inspektorat Aceh Tenggara dan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk masuk dan mengaudit setiap rupiah dari Rp 700 juta tersebut. Jangan sampai dana bencana habis di meja birokrasi, sementara hak mereka yang berkeringat di lapangan justru dikebiri.

Baca Juga :  Sekda Agara Polisikan Akun Facebook Amar Handal Atas Pencemaran Nama Baik

​Rekomendasi Langkah Selanjutnya untuk Anda:
​Cek Daftar Honor: Coba cari tahu berapa standar honor harian (SBU) untuk petugas lapangan menurut SK Bupati, lalu bandingkan dengan yang mereka terima.
​Konfirmasi Pihak Ketiga: Tanyakan kepada PDAM atau Dinas Lingkungan Hidup (yang juga menerima dana) apakah mereka mengalami kendala serupa.

​Wawancara Inspektorat: Karena Inspektorat masuk dalam daftar penerima dana nomor 16, tanyakan bagaimana mereka menjamin objektivitas pengawasan jika mereka sendiri adalah pengguna anggaran.
​Apakah Anda ingin saya membuatkan Daftar Pertanyaan Wawancara khusus untuk mencecar pihak BPBD saat mereka kembali dari Banda Aceh? ****

Berita Terkait

Ngaku Senang Buron Ketemu, Kalapas Kutacane Sebut Sudah Siapkan Ambulans, Ical Malah Meninggal di RSUD
Relawan Prabowo Ikut Menanggung Malu, Jalan Nasional Kutacane–Medan Berulang Kali Terendam, Jembatan Kuning I Didesak Dibongkar
Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Dua Pria di Ketambe, 10 Paket Sabu Disita
18 Alat Berat Bantuan Pusat untuk Aceh Tenggara Rusak, Bupati Ngamuk: Jalan Baru Ditimbun Sudah Amblas Lagi
Banjir Kembali Rendam Desa Kuning I, Tanggul Menipis Warga Khawatir Gagal Panen dan Rumah Terendam
Tak Hujan Pun Banjir, Warga Desa Kuning 1 Kecewa Berat ke Pemerintah Aceh dan Titip Harapan ke Gubernur Jawa Barat KDM
Dari Persembunyian di Desa Simpang Semadam Hingga Meninggal di Rumah Sakit, Ada Apa Dalam 24 Jam Terakhir Hidupnya Ical
Buron 19 Bulan, Narapidana Lapas Kutacane Ditangkap di Rumahnya di Simpang Semadam

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 23:39 WIB

Prof DR Sutan Nasomal : Jangan Tidak Peka Presiden RI Dengan Air Mata Rakyat Akibat Di Bakarnya Hutan

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Rakerwil GPA Sultra Perkuat Kaderisasi, Gerakan Sosial, Dan Kemandirian Ekonomi Pemuda Konawe Utara

Jumat, 23 Oktober 2026 - 00:47 WIB

Prof. Dr. Sutan Nasomal Bela Pemkab Siak di Tengah Tekanan APBD: Jangan Terburu-buru Salahkan Bupati Afni, Rakyat Harus Tetap Jadi Prioritas!

Jumat, 23 Oktober 2026 - 00:27 WIB

Petugas Rutan Jakarta Pusat Gagalkan Upaya Penyelundupan Barang Terlarang Dduga ETOMIDATE

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Suryadi Djamil Apresiasi Kapolri Suyudi Ario Seto, Minta Sikat Narkoba hingga ke Pabrik

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:59 WIB

PPD: Pentingnya Pemerataan Kualitas Pendidikan di Berbagai wilayah Indonesia

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Dari Energi Air ke Pasar Dunia, Inalum Perkenalkan Low Carbon Aluminium Indonesia

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:44 WIB

Ketum Golkar Segera Pecat Ahmad Doli Kurnia dan PAW Dari Senayan

Berita Terbaru