Perayaan hari Raya Nyepi Tahun Saka 1946/Tahun 2024 Masehi, Kota Cimahi Diawali dengan Pawai Budaya

Waspada Indonesia

- Redaksi

Minggu, 10 Maret 2024 - 11:28 WIB

50247 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandung – Ketua PH PHDI Provinsi Jawa Barat, Brigjen (Purn) I Made Riawan, S.Psi, M.I.P menghadiri pelaksanaan pawai budaya perayaan hari Raya Nyepi Tahun Saka 1946/Tahun 2024 Masehi di Kota Cimahi, Jawa Barat, Minggu (10 Maret 2024).

Mengawali penjelasannya, Made menyampaikan ucapan selamat merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1946/Tahun 2024 Masehi, kepada umat hindu dimanapun berada.

Pada Kesempatan ini, made menjelaskan sedikit tentang pengertian dari Nyepi, seperti yang kita tahu bahwa kata Nyepi itu sendiri berasal dari kata sepi, sipeng, yang berarti hening, sunyi, sepi dan senyap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sehingga dimaksudkan agar perayaan Nyepi itu dilaksanakan secara hening dan sepi, agar kita belajar introspeksi diri dengan merenung, meditasi dan evaluasi diri dan bertanya tentang diri kita dan kesalahan apa yang telah kita perbuat, serta hal apa yang harus kita perbaiki.

Adapun rangkaian tradisi yang dilakukan pada hari raya nyepi biasanya mulai dari kegiatan Melasti, Tawur/Pecaruan atau pengrupukan, pelaksanaan Catur brata Nyepi, dan diakhiri dengan Ngembak geni.

Melasti ini berasal dari kata mala yang berarti kotor dan asti yang berarti membuang atau memusnahkan.

Ditambahkannya, Melasti ini bertujuan untuk membersihkan segala kotoran badan dan pikiran di Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung. “Jadi, upacara melasti bertujuan untuk memotivasi umat secara ritual dan spiritual untuk melenyapkan penyakit-penyakit sosial, seperti kesenjangan antar kelompok, perumusuhan antar golongan, wabah penyakit yang menimpa masyarakat secara massal, dan lain-lain,” tandas Ketua PH PHDI Provinsi Jawa Barat, Brigjen (Purn) I Made Riawan, S.Psi, M.I.P melalui keterangannya, Minggu (10/3).

Kemudian rangkaian upacara yang selanjutnya adalah Tawur, Tawur berasal dari kata nawur atau membayar utang, Lalu kepada siapa kita membayar utang itu, Kepada para bhuta kala yang mana utang kepada bhuta kala dalam tri rna termasuk dalam utang kepada Dewa Rna.

Dari utang kepada bhuta inilah perlu dilaksanakannya bhuta yadnya yang tujuannya adalah agar energi-energi negatif dari para bhuta kala tidak mengganggu umat manusia di dunia ini. Selain itu juga, fungsi tawur ini agar para bhuta kala disucikan agar bisa menyatu dengan sang hyang tunggal, Filosofi tawur adalah membayar atau mengembalikan, yang dibayar adalah sari-sari yang telah dihisap atau digunakan manusia. Selain itu juga, untuk menyucikan dan menyeimbangkan alam semesta dengan menetralisir kekuatan-kekuatan alam.

Baca Juga :  Neneng Rahmawati diduga di Kriminalisasi, Iwan Samma SH Minta Presiden dan Jaksa Agung Hentikan

Yang diwujudkan dengan pawai ogoh-ogoh yang bertujuan untuk melenyapkan sifat-sifat keraksasaan dan mengembalikan kekuatan positif dari alam.

Kemudian dilanjutkan dengan Nyepi satu malam,Umat Hindu merayakan Nyepi selama 24 jam dari matahari terbit sampai matahari terbit lagi di esok hari. Di hari itu seluruh umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian, yaitu empat larangan atau pantangan yang wajib dilakukan umat Hindu saat melaksanakan Nyepi.

Larangan pantangan tersebut antara lain:
– Pertama adalah Amati Geni atau tidak menyalakan api, yang dimaksud disini bukan api yang kita lihat secara nyata, tetapi mengarah pada sifat atau ego manusia, kita harus selalu mengendalikan amarah, ego, nafsu dan mengendalikan api-api dalam diri kita, baik itu api yang bersifat positif dan api yang bersifat negatif, apabila kita mampu mengelola api dalam diri kita ini, maka kedamaian sedikit-demi sedikit akan tercapai.

– Kedua adalah Amati Lelanguan atau tidak bersenang-senang, maksudnya disini adalah tidak bersenang- senang seperti nonton tv main hp, dsb. Sebab, dalam Brata penyepian dimaksudkan sebagai sarana untuk melakukan Tapa Brata, hendaknya pada waktu itu orang berpuasa dan Samadhi, mengendalikan seluruh indriya dan keinginannya.

– Ketiga adalah Amati Lelungan atau tidak bepergian.
Orang yang melaksanakan Brata penyepian tidak boleh bepergian, tidak bepergian artinya adalah mengendalikan pikiran, harus tetap konsentrasi agar pikiran manusia tetap terkendali, tidak liar dan bisa mengendalikan hal yang negatif.

Karena sesungguhnya pikiran adalah kunci dari segala ucapan dan perbuatan, maka dengan mengendalikan pikiran dan berkonsentrasi pada hal yang baik, maka ucapan dan perbuatan baik akan senantiasa terwujud.
Yang terakhir adalah amati karya atau tidak bekerja, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja yang bertentangan dengan ajaran agama karena salama kita melaksanakan brata penyepian kita hanya merenung dan bermeditasi tentang apa yang telah kita lakukan selama satu tahun.

Setelah pelaksanaan catur brata penyepian, rangkaian terakhir dalam pelaksanaan Nyepi adalah Ngembak Geni.

Makna filosofis yang terkandung dalam pelaksanaan ngembak geni ini adalah untuk mewujudkan keharmonisan dan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat yang ditandai dengan pelaksanaan Dharma Santi.

Inti dari ngembak geni adalah untuk mengimplementasikan kesadaran yang ada dalam diri manusia, kesadaran segalanya, termasuk Kesadaran untuk memaafkan orang lain, melalui proses nyepi melahirkan manusia yang berkarakter, yaitu manusia memiliki perilaku yang bertanggung jawab, rendah hati, peduli, disiplin, menghargai orang lain, sehingga dia akan menjadi manusia memiliki kualitas
Dapat disimpulkan bahwa makna Nyepi itu sendiri adalah manusia diajarkan untuk membersihkan segala kokotoran, hal negative, selalu mawas diri, merenung sejenak dengan apa yang telah kita perbuat di masa lalu, saat ini dan merencanakan yang lebih baik dimasa yang akan datang, sehingga kita dapat menjadi manusia yang berkarakter yang dapat berguna dan bermanfaat bagi sesama, dan tidak lupa selalu bersyukur pada sang pencipta dengan apa yang telah kita peroleh.

Baca Juga :  Lirik Bisnis Nikel di Tanah Air, PT PIL Siapkan Rencana Strategis Jangka Pendek Hingga Panjang

Secara umum, Ketua PH PHDI Provinsi Jawa Barat, Brigjen (Purn) I Made Riawan, S.Psi, M.I.P menyampaikan, pelaksanaan kegiatan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1946/Tahun 2024 M secara umum di beberapa Kota dan Kabupaten se-Jawabarat berjalan lancar sesuai rencana, terkhusus di Kota Bekasi melasti ke pantai Marunda serta Kota cimahi ada beberapa kegiatan yang perdana dilakukan seperti kegiatan melasti ke pantai pelabuhan cirebon dimana sebelumnya kegiatan melasti dilaksanakan ke gunung tangkuban perahu dan ke kampung cirendek, kemudian pada saat kegiatan tawur kesanga di mulai dengan kegiatan pawai budaya dan disertai beberapa ogoh-ogoh, dapat disimpulkan bahwa peserta pawai budaya yang hadir dalam hal ini sebagai wujud dari mempertahankan tradisi budaya dan juga dapat memperkenalkan tradisi budaya di daerah rantau dengan mengedepankan semangat toleransi beragama, suatu perbedaan apabila dikelola dengan baik akan menjadi suatu keindahan.

Made dalam hal ini, mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah memberi dukungan semangat baik moril maupun materiil, atas terselenggaranya kegiatan ini serta kepada panitia penyelenggara yang sudah mempersiapkan secara maksimal.

Hadir pula dalam kegiatan Pawai Budaya ini dan sekaligus memberi sambutan adalah, Bapak Danpussenarhanud dan Bapak Sekda Kota Cimahi. Hadir pada undangan lain: Ketua PHDI dan WHDI Kota Cimahi, FKUB Kota Cimahi, Sesepuh, Muspika Cimahi, Ketua Banjar, Pengurus Pura, Tim Kesenian sunda wiwitan, palembang dan kesenian tari pendet, tari satya brasta, ogoh-ogoh serta umat Hindu Bandung Raya dan sekitarnya. (Red).

Berita Terkait

Minim Papan Proyek dan Akses Informasi, Pekerjaan Rutin Jalan Jabar Diduga Tak Akuntabel
RS Santosa Dituding Tolak Pasien karena BPJS Mati, Pihak Rumah Sakit Bela Diri
Sidang Praperadilan Pertama H. Erwin: Pengacara Kritik Proses Penyidikan Kasus Klien
Akses Vital 4 Desa di Bandung Barat Tak Kunjung Dibangun, Pemkab Diminta Ambil Alih Penyerahan Aset Jalan Perkebunan
Minim Pengawasan? Proyek Jalan Dana Desa Rp36 Juta di Batujajar Timur Cepat Rusak, Pemdes Bungkam
Aliansi Mahasiswa SUCI Bergerak Gelar Refleksi Peringatan Hari HAM Sedunia
BEM REMA UPI Refleksi Peringatan Hari HAM Sedunia
Menggugat HAM Sektoral di Bandung Raya: Ikatan Mahasiswa Angkatan Muda Siliwangi (IMA AMS) Desak Pemerintah Selesaikan Krisis Pendidikan, Lingkungan, dan Kesehatan

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 22:36 WIB

Sosialisasi KUHP Nasional: Lapas llA Pekanbaru Ikuti During

Minggu, 25 Januari 2026 - 23:22 WIB

Pembukaan Kejuaraan Berkuda Car Jumping Fest Dirangkai Green Policing Penanaman Pohon 

Sabtu, 24 Januari 2026 - 15:37 WIB

Merajut Iman di Balik Jeruji, WBP Kristen Lapas Pekanbaru Ikuti Ibadah

Sabtu, 24 Januari 2026 - 01:44 WIB

Lapas llA Pekanbaru Dorong Warga Binaan Hidup Sehat Lewat Senam Pagi

Sabtu, 24 Januari 2026 - 00:55 WIB

Dukung Pendidikan Kesetaraan Bagi Warga Binaan, Lapas Pekanbaru Ikuti Arahan Proksi ke-11 Keminimipas

Jumat, 23 Januari 2026 - 13:05 WIB

Kejati Riau Gelar Senam Bersama dan Penanaman Pohon, Wujudkan Lingkungan Kerja yang Sehat dan Asri

Jumat, 23 Januari 2026 - 11:57 WIB

Bimtek Penggunaan Aplikasi CMS Bank Riau Kepri Syariah untuk SMP Negeri oleh Kabid SMP Pekanbaru

Kamis, 22 Januari 2026 - 19:14 WIB

Polisi Bongkar Jual Beli Satwa Dilindungi di Riau, Owa Dijual Rp 10 Juta

Berita Terbaru

PEKANBARU

Sosialisasi KUHP Nasional: Lapas llA Pekanbaru Ikuti During

Senin, 26 Jan 2026 - 22:36 WIB

HUKUM & KRIMINAL

Kasus Hogi Sleman: Polisi Sebut Noodweer Akses, Tersangka Tak Ditahan

Senin, 26 Jan 2026 - 20:38 WIB

REGIONAL

Polres Kampar Gagalkan Perdagangan Satwa Dilindungi

Senin, 26 Jan 2026 - 20:31 WIB