Waspadaindonesia.com Pidie Jaya — Duka masih menyelimuti masyarakat Kabupaten Pidie Jaya. Banjir dan longsor yang melanda wilayah ini pada akhir November lalu telah meluluhlantakkan permukiman, memutus akses kehidupan, dan meninggalkan luka mendalam bagi warga yang hingga kini masih berjuang bangkit dari keterpurukan.
Di tengah kondisi tersebut, Pusat Studi Pemuda Aceh (PUSDA) hadir menyapa warga terdampak, membawa secercah harapan di tengah kesedihan. Dengan langkah sederhana namun penuh kepedulian, PUSDA menyalurkan bantuan kebutuhan pokok berupa mi instan, biskuit, beras, serta air minum kepada masyarakat Pidie Jaya yang menjadi korban banjir dan longsor.
Bantuan ini merupakan donasi dari Bank Syariah Indonesia (BSI) yang dipercayakan penyalurannya kepada PUSDA agar dapat disampaikan langsung kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Kehadiran bantuan tersebut disambut haru oleh warga yang selama berhari-hari hidup dalam keterbatasan pascabencana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perwakilan BSI, Maimun, menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat Pidie Jaya.
“Kami turut berduka atas bencana banjir dan longsor ini. Bantuan yang kami salurkan mungkin tidak sebanding dengan kehilangan yang dirasakan masyarakat, namun kami berharap dapat sedikit meringankan beban dan menguatkan semangat warga untuk bertahan dan bangkit kembali,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PUSDA, Heri Safrijal, mengatakan bahwa kehadiran PUSDA di lokasi bencana adalah panggilan nurani pemuda Aceh untuk tidak tinggal diam melihat penderitaan sesama.
“Kami melihat langsung bagaimana rumah-rumah rusak, harta benda hanyut, dan masyarakat kehilangan sumber penghidupan. Ini bukan sekadar bencana alam, ini adalah tragedi kemanusiaan yang membutuhkan perhatian serius,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Lebih lanjut, Heri Safrijal menegaskan bahwa dampak banjir dan longsor kali ini sangat besar bagi masyarakat Aceh.
“Bencana ini meninggalkan luka yang dalam, bahkan bagi sebagian warga terasa seperti mengulang kembali trauma besar Aceh pada tsunami 2004 silam. Kami berharap pemerintah pusat dapat melihat kondisi ini secara nyata dan menetapkan bencana banjir dan longsor di Aceh sebagai bencana nasional, agar penanganan dan pemulihan pascabencana dapat dilakukan lebih cepat, terarah, dan menyeluruh,” pungkasnya.



































