NAGAN RAYA — Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, memiliki kekayaan alam yang tidak hanya bernilai secara ekonomi, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai identitas dan daya tarik wisata daerah. Salah satunya adalah batu giok Nagan Raya yang selama ini dikenal berasal dari kawasan Beutong.
Batu giok Nagan Raya memiliki keunikan tersendiri.
Batu alam tersebut hadir dalam beragam warna, corak, karakter dan jenis, sehingga memiliki daya tarik bagi masyarakat maupun para pencinta batu alam.
Potensi tersebut dinilai layak untuk terus diperkenalkan, bukan hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga hingga ke kancah internasional. Dengan promosi dan pengelolaan yang baik, batu giok dapat menjadi salah satu ikon yang memperkuat citra Kabupaten Nagan Raya.
Salah seorang tokoh muda Beutong, Mahmudi mengatakan kepada media ini di salah satu warkop usai Shalat Jum’at 4/9/2026, bahwa sudah saatnya keberadaan batu giok Nagan Raya mendapatkan perhatian lebih serius dari berbagai pihak.
Menurutnya, selama ini masyarakat mengetahui bahwa batu giok tersebut berasal dari kawasan Beutong. Namun, untuk memperkuat identitas sekaligus menjadi simbol kebanggaan daerah, ia mengusulkan agar Tugu Batu Giok Nagan Raya dibangun di kawasan Keude Seumot (Ule Jalan).
“Batu giok merupakan salah satu potensi dan kekayaan alam yang dimiliki Nagan Raya”.
Karena itu, menurut saya keberadaannya perlu diperkenalkan secara lebih luas. Salah satunya melalui pembangunan Tugu Batu Giok di Keude Seumot sebagai pintu masuk atau salah satu titik strategis menuju kawasan Beutong,” ujar Mahmudi
Tugu Giok Bisa Menjadi Ikon Daerah
Pembangunan Tugu Batu Giok tidak semata-mata dipandang sebagai pembangunan sebuah monumen.
Lebih jauh, tugu tersebut dapat menjadi ikon dan penanda identitas Kabupaten Nagan Raya, sekaligus sarana promosi potensi batu giok kepada masyarakat yang melintas maupun wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.
Keude Seumot yang berada di kawasan strategis dinilai memiliki peluang untuk menjadi lokasi yang tepat.
Setiap orang yang melintas dapat melihat langsung simbol batu giok Nagan Raya, sehingga rasa ingin tahu masyarakat dari luar daerah terhadap batu giok Beutong pun dapat tumbuh.
Jika dikembangkan secara terpadu, kawasan tersebut juga berpotensi menjadi tempat promosi produk batu giok, kerajinan masyarakat, UMKM, serta berbagai potensi wisata dan ekonomi kreatif Nagan Raya.
Dari Kekayaan Alam Menjadi Kebanggaan Bersama
Sudah saatnya potensi daerah tidak hanya dikenal oleh masyarakat setempat. Kekayaan alam seperti batu giok harus mampu diangkat menjadi bagian dari cerita besar tentang Nagan Raya.
Batu Giok Nagan Raya dapat menjadi salah satu brand daerah yang membedakan Nagan Raya dengan kabupaten lainnya di Aceh.
Tentu, upaya tersebut membutuhkan dukungan pemerintah daerah, masyarakat, pelaku UMKM, pengrajin, pemuda, serta seluruh elemen terkait. Promosi melalui media massa dan media sosial juga dapat menjadi bagian penting untuk memperkenalkan batu giok Nagan Raya kepada masyarakat luas.
Mahmudin berharap Pemerintah Kabupaten Nagan Raya dapat mempertimbangkan gagasan pembangunan Tugu Batu Giok Nagan Raya di Keude Seumot (Ule Jalan).
“Harapan kami, pemerintah dapat melihat ini sebagai sebuah peluang. Bukan hanya membangun tugu, tetapi membangun identitas daerah.
Kita ingin ketika orang menyebut batu giok, salah satu yang terlintas adalah Nagan Raya, Aceh,” harapnya.
Dengan semangat bersama dan pengelolaan yang tepat, bukan tidak mungkin Batu Giok Nagan Raya semakin dikenal dari Aceh, Indonesia, hingga ke dunia internasional.
Kini saatnya kekayaan alam Nagan Raya tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Beutong, tetapi menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Nagan Raya. (*)



































