Waspadaindonesia.com | Pameu – Insiden rakit darurat terbalik yang menimpa rombongan Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, saat mendistribusikan bantuan sembako kepada warga Pameu, Aceh Tengah, hari ini, menjadi sorotan tajam di tengah upaya pemulihan pasca-banjir gelondongan kayu dan longsor yang melanda Aceh. Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh, Isa Alima, menyebut kejadian ini sebagai tamparan keras bagi pembangunan Aceh yang belum merata, khususnya di wilayah yang terdampak bencana.
“Di tengah duka akibat banjir dan longsor, insiden rakit terbalik ini menunjukkan betapa rentannya infrastruktur kita. Ini momentum untuk evaluasi total pembangunan Aceh, utamanya di wilayah hulu dan daerah terdampak bencana,” tegas mantan Ketua Komisi C DPRK Pidie.
Menurutnya, banjir gelondongan kayu dan longsor yang memutus jembatan dan akses jalan seharusnya menjadi wake-up call. Negara, kata Isa, belum hadir sepenuhnya di wilayah hulu, memaksa warga dan pejabat menggunakan rakit darurat sebagai akses.
“Ini bukan hanya soal Wagub tercebur, tapi soal mengapa rakyat Pameu harus terisolasi pasca-bencana, hingga Wagub pun terpaksa naik rakit berisiko demi mengantarkan bantuan?”
Isa menilai, jika pejabat saja harus mempertaruhkan nyawa, bagaimana dengan nasib warga yang setiap hari menghadapi risiko serupa? Ini adalah kejahatan struktural yang tak boleh dinormalisasi. Bantuan sembako penting, tapi perbaikan infrastruktur yang rusak jauh lebih mendesak.
“Keberanian pemimpin tak boleh menutupi kelalaian sistemik! Evaluasi total, transparansi anggaran, dan percepatan pembangunan infrastruktur adalah kunci,” tegas Isa.
Ia mendesak agar pemerintah pusat dan daerah bersinergi memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang tahan bencana di wilayah rawan. “Aceh tidak butuh simpati musiman, tapi solusi permanen agar rakit darurat tak lagi jadi pilihan!”
Banjir boleh menerjang, jembatan boleh putus, tapi tanggung jawab negara tak boleh ikut hanyut! pungkas Isa Alima. [Redaksi]

































