KIN Gelar Aksi Desak Penegakan Hukum Dugaan Korupsi Proyek Islamic Center dan RS Mandalika

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Kamis, 29 Januari 2026 - 12:46 WIB

50848 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta — Sorotan tajam kembali mengarah ke Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) setelah dua proyek besar yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dinyatakan mangkrak. Dewan Pimpinan Pusat Komite Investigasi Nusantara (KIN) menyatakan sikap dan akan menggelar aksi demonstrasi pada Senin, 2 Februari 2026, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Dalam unjuk rasa yang akan dimulai pukul 13.00 WIB tersebut, KIN mendesak agar penyelidikan hukum atas kasus ini segera dilakukan secara menyeluruh dan transparan.

Proyek yang menjadi sorotan adalah pembangunan Revitalisasi Islamic Center (IC) Mataram dan Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah. Kedua proyek ini hingga kini belum rampung dan belum pula diserahterimakan kepada Pemerintah Provinsi NTB, meskipun masa kontrak kerja telah berakhir pada akhir 2024. KIN menilai lambannya penyelesaian proyek-proyek ini mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran daerah dan ketidakseriusan aparat pelaksana dalam menuntaskan tanggung jawabnya kepada publik.

Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2025, denda keterlambatan pelaksanaan proyek tercatat mencapai Rp 3,1 miliar. Rinciannya, proyek Revitalisasi Islamic Center menyumbang denda sebesar Rp 1,6 miliar dan proyek pembangunan Ruang Rawat Inap RS Mandalika sebesar Rp 1,4 miliar. Fakta tersebut mengundang tanda tanya besar terhadap pengelolaan keuangan daerah di lingkup Pemerintah Provinsi NTB, mulai dari proses lelang, pelaksanaan proyek, hingga pengawasan internal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam pernyataannya, KIN mengungkapkan dugaan kuat adanya persekongkolan antara pihak kontraktor pelaksana dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek yang dituding berupaya mencari keuntungan pribadi dengan cara menyalahgunakan wewenang. KIN menyatakan bahwa tindakan seperti ini tidak semata menyalahi etika pelayanan publik, tetapi juga merupakan pelanggaran hukum yang harus diproses hingga tuntas oleh institusi penegak hukum.

Baca Juga :  Karena Ujaran Kebencian di Media Elektronik Masruroh Amalia Liradya Disomasi Lena Muhammad Nasir

KIN menuntut agar Kejaksaan Agung RI dan KPK segera melakukan penyelidikan maupun penyidikan terhadap dugaan praktik korupsi yang melibatkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB. Organisasi ini juga meminta agar lembaga penegak hukum memanggil dan memeriksa semua pihak yang terlibat dalam proyek tersebut, menegakkan hukum tanpa diskriminasi, serta menyampaikan hasil penyelidikan kepada publik dalam semangat transparansi dan akuntabilitas.

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, KIN juga mendesak agar Pemerintah Provinsi NTB segera menyelesaikan dan menyerahkan hasil pembangunan proyek kepada publik sesuai dengan ketentuan kontraktual untuk menghindari kerugian yang lebih besar terhadap uang negara. Selain itu, KIN juga mengecam segala bentuk penyimpangan dan penyalahgunaan APBD yang bertentangan dengan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.

Dalam rilis resminya, KIN menyampaikan bahwa uang negara yang bersumber dari APBD adalah amanah rakyat yang harus dikelola secara jujur, transparan, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas. Di tengah tuntutan akan pelayanan publik yang semakin baik, mangkraknya proyek-proyek strategis daerah justru menjadi potret buram manajemen pemerintahan yang menghambat pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

KIN juga mengingatkan bahwa dasar hukum pelaksanaan aksi mereka merujuk pada berbagai undang-undang, termasuk Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang KPK, serta Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Baca Juga :  PMAKI Gelar Bimbingan Teknis Pencegahan Korupsi, KPK dan Komisi II DPR RI Tekankan Penguatan Integritas Pendidikan serta Kepemimpinan Berintegritas

Adapun dalam tuntutan aksi yang akan digelar di Jakarta, KIN menyampaikan empat poin tegas. Pertama, meminta Kejaksaan Agung dan KPK untuk memulai penyelidikan dan penyidikan atas dugaan korupsi di tubuh PUPR NTB. Kedua, menuntut pemanggilan dan pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait dalam proyek IC dan RS Mandalika. Ketiga, mendesak aparat penegak hukum menjalankan proses hukum secara profesional dan objektif tanpa intervensi. Keempat, meminta Kejaksaan Agung untuk memerintahkan Kejati NTB melakukan langkah hukum yang konkret terkait perkara ini.

Aksi ini rencananya akan diikuti oleh lebih dari 100 massa, dilengkapi dengan alat peraga seperti mobil komando, spanduk, dan ban sebagai simbol perlawanan terhadap praktik ketidakadilan dan pembiaran korupsi. KIN berharap aksi ini dapat menjadi desakan moral yang kuat untuk membangkitkan kesadaran publik bahwa pengawasan terhadap penggunaan APBD bukan hanya tanggung jawab auditor negara, tetapi juga masyarakat sipil secara keseluruhan.

Dengan menegaskan bahwa supremasi hukum harus berlaku tanpa tebang pilih, KIN berharap aparat penegak hukum menanggapi serius permasalahan ini demi kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum dan demi perbaikan tata kelola pemerintahan di tingkat daerah. Dalam pernyataan penutupnya, KIN menyerukan bahwa gerakan ini merupakan langkah untuk menyelamatkan pembangunan daerah dari lingkaran korupsi yang menggerogoti keberlangsungan kemajuan daerah dan kesejahteraan rakyat. (*)

Berita Terkait

Transparansi Anggaran Seleksi PT SPRH Disorot AMRJ
Pengamat Apresiasi Polres Cimahi Bongkar Home Industry Tembakau Sintetis, Ratusan Ribu Jiwa Diselamatkan
Sekjen PP GP AL Washliyah: Pernyataan AHY Adalah Edukasi Demokrasi, Jangan Diartikan Sebagai Ambisi Politik 2029
Inalum Perkuat Penanganan Karhutla di Mempawah-Kalimantan Barat, 60 Relawan Grup MIND ID Diterjunkan ke Sekitar Wilayah Operasional BAI
Aksi di Depan KPK, GMPB Soroti Dugaan Pemotongan Insentif Bappenda Bogor
Inalum Naik Kelas ke idAA/Stable, Tegaskan Ketangguhan Fundamental di Tengah Ketidakpastian Global
Aktivis Nasional Dedi Siregar: Bendera Identitas di Samarinda Bukan Serta-Merta Simbol Separatisme, Apresiasi Respons Cepat Pangdam VI/Mulawarman
BNN dan Polri Bekuk Gembong Narkoba Kampung Bahari, PW GP Al Washliyah Bukti Kolaborasi BNN Tak Beri Ruang untuk Bandar Narkoba

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:57 WIB

Bersatu dalam Semangat Kemerdekaan, Muspika Sungai Mas, Masyarakat dan RAPI Gelar Pawai Bendera

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:13 WIB

Bakti Brimob untuk Negeri, Jembatan Penghubung Desa Sikundo Mulai Dibangun

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:01 WIB

​​Perkuat Silaturahmi, Unsur Muspika Sungai Mas Gelar Temu Ramah dengan Kapolsek Baru

Sabtu, 6 Juni 2026 - 16:05 WIB

Menwa UTU Gelar Latihan Menembak di Lapangan Tembak Yonif 116/GS. Guna Untuk Asah Ketangkasan Dan Kedisiplinan

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:53 WIB

TMMD Ke-128 Kodim Abdya Rampung, Infrastruktur dan Ketahanan Pangan Jadi Prioritas

Jumat, 8 Mei 2026 - 17:36 WIB

Brimob Polda Aceh Batalyon C Pelopor bersama Tem Gabungan Temukan Senjata Tajam dan HP Lapas Kelas IIB Meulaboh,

Jumat, 8 Mei 2026 - 08:28 WIB

Jamaluddin Idham Anggota DPR RI Komisi IV Sidak Gudang Perum Bulog Meulaboh

Selasa, 10 Maret 2026 - 22:04 WIB

DPD LPSA Aceh Barat Gelar Buka Puasa Bersama Dan Pembagian Takjil

Berita Terbaru

PRINGSEWU

Pemkab Pringsewu Gelar Lomba Pariwara Antikorupsi

Jumat, 11 Sep 2026 - 09:05 WIB

BANDA ACEH

MBG Jangan Jadi Eksperimen: SPPG Ditinggalkan, Kantin Dipaksakan

Kamis, 10 Sep 2026 - 22:45 WIB