Hukum Rimba di Polda Metro Jaya: Keterlibatan Anggota DPR RI Ranny Fadh Arafiq dan Tuntutan Tegas Publik

hayat

- Redaksi

Senin, 30 Maret 2026 - 06:43 WIB

5073 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Dunia hukum Indonesia kembali diguncang oleh kasus pengeroyokan terhadap Faisal di ruang penyidik Polda Metro Jaya. Peristiwa yang melibatkan lebih dari 20 orang ini semakin menghebohkan publik setelah muncul dugaan keterlibatan Ranny Fadh Arafiq, anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Golkar.

Keterlibatan seorang wakil rakyat dalam aksi brutal di ruang penyidik kepolisian bukan hanya mencederai rasa keadilan, tetapi juga merusak marwah lembaga legislatif. Publik menilai bahwa tindakan ini adalah bentuk nyata penyalahgunaan kekuasaan, sekaligus penghinaan terhadap prinsip dasar negara hukum: semua orang sama di hadapan hukum.

Kasus bermula ketika Faisal menghadiri konfrontir atas undangan penyidik di lantai 2 RPK PPA Polda Metro Jaya pada Rabu, 25 Maret 2025. Sebelum proses resmi dimulai, tiba-tiba sekelompok orang yang berjumlah sekitar 20 orang masuk menerobos ke ruang penyidik dan menyerang Faisal. Korban dipukul, ditendang, bahkan hampir dihantam dengan kursi. Akibatnya, Faisal mengalami luka memar di bagian kepala.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yang mengejutkan, dugaan kuat menyebutkan bahwa salah satu aktor penting di balik pengeroyokan ini adalah Ranny Fadh Arafiq, seorang anggota DPR RI aktif. Kehadiran dan keterlibatan seorang legislator dalam aksi kekerasan di ruang penyidik kepolisian menimbulkan pertanyaan besar tentang integritas wakil rakyat dan komitmen mereka terhadap hukum.

Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (Ketum PPWI), Wilson Lalengke, menyampaikan kecaman keras atas keterlibatan anggota DPR RI dalam kasus ini. “Keterlibatan Ranny Fadh Arafiq dalam pengeroyokan terhadap Faisal adalah tindakan yang sangat memalukan. Golkar harus segera bertindak tegas dengan memberhentikan yang bersangkutan dari keanggotaan partai. Tidak ada ruang bagi pelaku kekerasan, apalagi seorang wakil rakyat, untuk tetap berada dalam partai politik yang mengaku menjunjung tinggi demokrasi dan keadilan,” tegas alumni PPA-48 Lemhannas RI tahun 2012 ini, Minggu, 29 Maret 2026.

Baca Juga :  Ajak Insan Pers Perkuat Iman dan Integritas di Bulan Suci Ramadhan, Ketua Umum dan Sekjen AKPERSI Sampaikan Ucapan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 H

Tidak hanya itu, Wilson Lalengke juga mendesak Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI untuk segera memproses dugaan pelanggaran kode etik. Menurutnya, DPR tidak boleh menutup mata terhadap perilaku anggotanya yang mencoreng nama baik lembaga.

Selain mendesak Golkar dan DPR RI, Wilson Lalengke juga menyerukan kepada Kapolri untuk segera mengambil langkah hukum. “Kapolri jangan tidur saja kau! Segera tangkap anggota dhewan bejat Ranny Fadh Arafiq dan memprosesnya sesuai hukum yang berlaku. Prinsip equality before the law harus ditegakkan. Tidak boleh ada diskriminasi hukum hanya karena pelaku adalah anggota DPR. Jika rakyat biasa bisa langsung ditangkap, maka wakil rakyat pun harus diperlakukan sama,” ujarnya dengan lantang sambil menekankan bahwa jika aparat penegak hukum gagal bertindak, maka kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian akan semakin runtuh.

Kasus ini menjadi simbol betapa rapuhnya demokrasi ketika wakil rakyat justru terlibat dalam tindak kekerasan. Demokrasi bukan hanya soal pemilu, tetapi juga soal perlindungan hak-hak dasar warga negara. Ketika seorang anggota DPR RI terlibat dalam pengeroyokan dan tidak segera diproses hukum, maka demokrasi kehilangan maknanya.

Baca Juga :  Kejaksaan RI Raih Juara 1 Kategori Pemohon Lelang Eksekusi pada Anugerah Reksa Bandha Tahun 2025

Keterlibatan legislator dalam tindak pidana juga merusak prinsip checks and balances. Wakil rakyat seharusnya menjadi pengawas jalannya pemerintahan, bukan pelaku pelanggaran hukum.

Para filsuf dunia telah lama mengingatkan bahwa keadilan adalah fondasi masyarakat beradab. Plato menyebut keadilan sebagai harmoni dalam masyarakat. Keterlibatan wakil rakyat dalam kekerasan adalah bentuk disharmoni yang merusak tatanan sosial.

John Locke menekankan bahwa negara dibentuk untuk melindungi hak-hak dasar warga. Jika wakil rakyat justru melanggar hak warga, maka kontrak sosial antara rakyat dan negara telah dikhianati. Sejalan dengan Locke, Jean-Jacques Rousseau mengingatkan bahwa kehendak umum rakyat harus dijaga. Wakil rakyat yang melakukan kekerasan jelas bertentangan dengan kehendak umum rakyat yang mendambakan keadilan.

Kasus pengeroyokan terhadap Faisal di ruang penyidik Polda Metro Jaya menjadi ujian besar bagi integritas hukum dan demokrasi Indonesia. Dugaan keterlibatan anggota DPR RI, Ranny Fadh Arafiq, memperburuk keadaan dan menimbulkan krisis kepercayaan publik.

Wilson Lalengke dengan tegas menyerukan agar Golkar segera memberhentikan yang bersangkutan dari keanggotaan partai, MKD DPR RI segera memproses pelanggaran kode etik, dan Kapolri segera menangkap serta memproses hukum tanpa pandang bulu.

Sejarah akan mencatat apakah Indonesia memilih untuk menutup mata terhadap pelanggaran hukum oleh wakil rakyat, atau berdiri tegak membela keadilan.

Berita Terkait

Inalum Buka Program Magang 2026, Ajak Talenta Muda Belajar Langsung di Industri Strategis Nasional
Inalum Dorong Jurnalisme Lingkungan melalui IN-Journal Chapter II, Hadirkan 65 Karya Bertema Konservasi
Presiden GANTARA Menyampaikan Ucapan Selamat Dan Sukses Dilantiknya Kepada Dr Sudaryono B. Eng. M.M MBA Sebagai Kepala BGN
Fahd El Fouz Arafiq: Siapa Pun yang Serang Ketum Bahlil Akan Berhadapan dengan saya dan ormas Golkar!
Aktivis Nasional Nilai Pencekalan Eks Jampidsus 20 Hari Sudah Tepat dan Sesuai Prosedur, : Jangan Digiring Menjadi Polemik Baru
Jaksa Agung Perintahkan Penghentian Pengumpulan Data MBG : Jika Oknum Polri yang Masalah Maka Siapa yang Akan Proses Hukum
Pansus DPRD Pringsewu Konsultasi ke Kemendagri, Cari Formula Terbaik Perubahan Struktur OPD yang Efisien
Presiden GANTARA Sandi Febri Wijaya Sampaikan Ucapan Menyentuh di Hari Koperasi Nasional ke-79: “Koperasi Adalah Rumah Gotong Royong Melawan Pengangguran”

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 19:11 WIB

Nyalip di Tikungan, Pemotor di Pringsewu Tewas Usai Tabrak Truk Pengangkut Pasir

Senin, 27 Juli 2026 - 18:24 WIB

Bupati Pringsewu Sampaikan Rancangan Perubahan KUA-PPAS 2026

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:05 WIB

Wabup Umi Laila Pringsewu Sampaikan Pesan Moral Pada Pengajian Triwulan PAC NU Pagelaran

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:48 WIB

Pansus DPRD Pringsewu Dorong Restrukturisasi OPD yang Efisien dan Tepat Fungsi

Selasa, 14 Juli 2026 - 18:41 WIB

Kejari Pringsewu Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Pendataan SPPT PBB-P2, Kerugian Negara Rp1,1 Miliar

Senin, 13 Juli 2026 - 13:18 WIB

Pemkab & Kantah Pringsewu Gelar Rakor Reforma Agraria 2026

Minggu, 12 Juli 2026 - 07:32 WIB

Wakil Bupati Pringsewu Umi Laila Ajak Umat Islam Jaga Persatuan

Sabtu, 11 Juli 2026 - 20:38 WIB

Ratusan Pembalap Mobil Serbu Sirkuit Non Permamen Komplek Pemkab Pringsewu

Berita Terbaru