Musyawarah Desa Lawe Stul Tanpa Hasil, Ke Mana Arah Pengelolaan Desa dan Di Mana Letak Kepedulian Aparat?

Waspada Indonesia

- Redaksi

Senin, 3 November 2025 - 22:30 WIB

50297 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Tenggara , (03/1-/2025)  Musyawarah desa yang digelar di Desa Lawe Stul, Kecamatan Darul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara, berakhir tanpa hasil. Warga pulang dengan tangan hampa, kecewa karena forum yang seharusnya menjadi tempat penyampaian aspirasi justru berubah menjadi ajang pembelaan diri aparat desa. Tak ada keputusan, tak ada solusi. Yang tersisa hanyalah kemarahan dan ketidakpercayaan.

Sejak awal, forum tersebut sudah berjalan tidak ideal. Agenda penting seperti transparansi dana desa, rencana pembangunan infrastruktur dasar, hingga keluhan tentang ketidakadilan dalam distribusi bantuan sosial hanya disentuh di permukaan. Beberapa perangkat desa memilih bicara dengan bahasa aman, berputar-putar, tanpa memberikan klarifikasi yang tegas.

Pertanyaan tajam dari warga kerap dibalas dengan jawaban normatif. Ketika tokoh pemuda menyuarakan dugaan ketidakterbukaan dalam penggunaan dana desa, tanggapan yang diberikan hanya berupa janji akan “ditindaklanjuti”. Tak ada angka, tak ada data, hanya kalimat pengalihan. “Kami diminta bicara, tapi apa gunanya kalau pendapat kami tak digubris?” ujar seorang warga yang hadir dalam forum, dengan nada kesal.

Baca Juga :  Miliki 92,65 Gram Sabu, Seorang Petani di Desa Amaliah Dibekuk Polisi di Area Perkebunan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Musyawarah ini seharusnya menjadi sarana kontrol publik terhadap kinerja pemerintah desa. Namun yang terjadi justru sebaliknya: warga merasa dikontrol, dibatasi dalam mengungkapkan keluhan. Beberapa warga bahkan mengaku diminta “meredam suasana” agar forum tidak ricuh, padahal yang mereka suarakan adalah hak dasar: hak untuk tahu dan hak untuk didengar.

Kondisi ini memperlihatkan kebekuan komunikasi antara dua kutub utama di desa: rakyat dan penguasa lokal. Musyawarah desa yang mestinya menjadi jantung partisipasi demokratis berubah menjadi formalitas tahunan. Panggung birokrasi yang sekadar menggugurkan kewajiban.

Tidak ada iktikad baik dari pihak aparat desa untuk membuka pintu transparansi. Sikap defensif menjadi tembok besar yang memisahkan warga dari proses pengambilan keputusan. Kepercayaan pun kian tergerus. Warga mulai meragukan niat baik pemerintah desa yang sebelumnya mereka beri mandat untuk mengelola anggaran dan menjalankan roda pemerintahan.

Persoalan kian pelik ketika dugaan ketimpangan dalam alokasi bantuan untuk kelompok masyarakat tertentu juga mencuat. Namun lagi-lagi, tak ada penyelidikan lebih dalam, hanya pembelaan dan janji evaluasi. Dalam forum yang berlarut-larut tanpa ujung ini, solusi seperti sengaja dihindari. Tak pelak, suasana memanas dan beberapa warga memilih meninggalkan ruangan sebelum musyawarah berakhir.

Baca Juga :  8.500 Peserta Siap Meriahkan Jalan Santai HUT ke-51 Pemkab Aceh Tenggara, Hadiah Utama 2 Sepeda Motor

Apa yang terjadi di Lawe Stul hanyalah satu contoh dari banyak persoalan serupa di desa-desa lain. Ketika pemerintah desa mulai kikuk dalam menghadapi pertanyaan warga, dan lebih memilih bertahan dalam zona nyaman, maka wajar jika masyarakat mulai apatis. Demokrasi lokal yang stagnan sering kali lahir dari kepemimpinan yang enggan dikritik.

Masyarakat Desa Lawe Stul kini menunggu perbaikan, tapi mereka juga tak ingin terus menunggu dalam ketidakpastian. Jika aparatur desa tetap menutup mata dan telinga, bukan tidak mungkin kepercayaan yang telah lama dibangun akan benar-benar runtuh. Desa adalah milik bersama — dan saat suara rakyat tak lagi punya tempat, maka musyawarah hanya akan menjadi panggung kosong.

Laporan : Salihan Beruh

Berita Terkait

Protes Warga Desa Lawe Beringin Horas Meningkat, Kejaksaan Didesak Bertindak Tegas Terkait Kasus Dana Publik
Tabligh Akbar Peringati Isra Mi’raj di Aceh Tenggara Berlangsung Khidmat, Wakil Bupati Ajak Masyarakat Teladani Keteladanan Rasulullah SAW
DPRK Aceh Tenggara Akan Panggil BPBD Terkait Dugaan Penumpukan Logistik Bantuan
Kapolda Aceh Serahkan 300 Kasur untuk Korban Banjir Bandang di Ketambe
Menanti Taji APH di Aceh Tenggara: Antara Anggaran “Hantu” dan Pembiaran Sistematis
Respons Cepat Dinsos Agara: Nasi Bungkus untuk Korban Kebakaran Strak Pisang
Wakil Bupati Ajak Masyarakat Jadikan Isra Mi’raj Sebagai Momentum Memperkuat Iman dan Kepedulian Sosial
STKIP Usman Safri Kutacane Wisuda 87 Mahasiswa, Pemkab Apresiasi Kontribusi Dunia Pendidikan bagi Pembangunan Daerah

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 20:38 WIB

LSM LIRA Ungkap Dugaan Pelanggaran oleh Kasat Narkoba dalam Penanganan Bandar di Medan

Rabu, 7 Januari 2026 - 20:23 WIB

Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh mengerahkan 70 Relawan untuk membersihkan SMPN 5 Karang Baru Aceh Tamiang

Selasa, 6 Januari 2026 - 21:04 WIB

Ketum PPA Desak Presiden Ringankan Tagihan PDAM dan PLN bagi Korban Banjir di Aceh

Selasa, 6 Januari 2026 - 20:58 WIB

Aliansi Pers Akan Kawal Rehab Rekon Pasca Banjir Aceh, Sediakan Layanan Keluhan

Selasa, 6 Januari 2026 - 12:15 WIB

Hasil Evaluasi APBA 2026 dari Kemendagri Diterima, TAPA Segera Kaji dan Laporkan ke Gubernur

Rabu, 31 Desember 2025 - 19:23 WIB

Dari Dapil Ke Senayan : Kisah Jamaluddin Idham Mengawal Harapan Rakyat Selama 365 Hari

Selasa, 30 Desember 2025 - 16:55 WIB

Ketua DPRK Banda Aceh Bantu Petani Cabai Aceh Tengah

Jumat, 26 Desember 2025 - 13:22 WIB

Sekjen DPW Fanst Respon Aceh Desak Kapolda Bentuk Tim Lapangan Tangani Kayu Gelondongan Pascabanjir

Berita Terbaru

HUKUM & KRIMINAL

Polisi Bongkar Jual Beli Satwa Dilindungi di Riau, Owa Dijual Rp 10 Juta

Sabtu, 24 Jan 2026 - 00:17 WIB