Musyawarah Desa Lawe Stul Tanpa Hasil, Ke Mana Arah Pengelolaan Desa dan Di Mana Letak Kepedulian Aparat?

Waspada Indonesia

- Redaksi

Senin, 3 November 2025 - 22:30 WIB

50360 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Tenggara , (03/1-/2025)  Musyawarah desa yang digelar di Desa Lawe Stul, Kecamatan Darul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara, berakhir tanpa hasil. Warga pulang dengan tangan hampa, kecewa karena forum yang seharusnya menjadi tempat penyampaian aspirasi justru berubah menjadi ajang pembelaan diri aparat desa. Tak ada keputusan, tak ada solusi. Yang tersisa hanyalah kemarahan dan ketidakpercayaan.

Sejak awal, forum tersebut sudah berjalan tidak ideal. Agenda penting seperti transparansi dana desa, rencana pembangunan infrastruktur dasar, hingga keluhan tentang ketidakadilan dalam distribusi bantuan sosial hanya disentuh di permukaan. Beberapa perangkat desa memilih bicara dengan bahasa aman, berputar-putar, tanpa memberikan klarifikasi yang tegas.

Pertanyaan tajam dari warga kerap dibalas dengan jawaban normatif. Ketika tokoh pemuda menyuarakan dugaan ketidakterbukaan dalam penggunaan dana desa, tanggapan yang diberikan hanya berupa janji akan “ditindaklanjuti”. Tak ada angka, tak ada data, hanya kalimat pengalihan. “Kami diminta bicara, tapi apa gunanya kalau pendapat kami tak digubris?” ujar seorang warga yang hadir dalam forum, dengan nada kesal.

Baca Juga :  8.500 Peserta Siap Meriahkan Jalan Santai HUT ke-51 Pemkab Aceh Tenggara, Hadiah Utama 2 Sepeda Motor

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Musyawarah ini seharusnya menjadi sarana kontrol publik terhadap kinerja pemerintah desa. Namun yang terjadi justru sebaliknya: warga merasa dikontrol, dibatasi dalam mengungkapkan keluhan. Beberapa warga bahkan mengaku diminta “meredam suasana” agar forum tidak ricuh, padahal yang mereka suarakan adalah hak dasar: hak untuk tahu dan hak untuk didengar.

Kondisi ini memperlihatkan kebekuan komunikasi antara dua kutub utama di desa: rakyat dan penguasa lokal. Musyawarah desa yang mestinya menjadi jantung partisipasi demokratis berubah menjadi formalitas tahunan. Panggung birokrasi yang sekadar menggugurkan kewajiban.

Tidak ada iktikad baik dari pihak aparat desa untuk membuka pintu transparansi. Sikap defensif menjadi tembok besar yang memisahkan warga dari proses pengambilan keputusan. Kepercayaan pun kian tergerus. Warga mulai meragukan niat baik pemerintah desa yang sebelumnya mereka beri mandat untuk mengelola anggaran dan menjalankan roda pemerintahan.

Persoalan kian pelik ketika dugaan ketimpangan dalam alokasi bantuan untuk kelompok masyarakat tertentu juga mencuat. Namun lagi-lagi, tak ada penyelidikan lebih dalam, hanya pembelaan dan janji evaluasi. Dalam forum yang berlarut-larut tanpa ujung ini, solusi seperti sengaja dihindari. Tak pelak, suasana memanas dan beberapa warga memilih meninggalkan ruangan sebelum musyawarah berakhir.

Baca Juga :  Menu MBG Aceh Tenggara Diprotes, LIRA Desak Evaluasi dan Pencopotan Korwil

Apa yang terjadi di Lawe Stul hanyalah satu contoh dari banyak persoalan serupa di desa-desa lain. Ketika pemerintah desa mulai kikuk dalam menghadapi pertanyaan warga, dan lebih memilih bertahan dalam zona nyaman, maka wajar jika masyarakat mulai apatis. Demokrasi lokal yang stagnan sering kali lahir dari kepemimpinan yang enggan dikritik.

Masyarakat Desa Lawe Stul kini menunggu perbaikan, tapi mereka juga tak ingin terus menunggu dalam ketidakpastian. Jika aparatur desa tetap menutup mata dan telinga, bukan tidak mungkin kepercayaan yang telah lama dibangun akan benar-benar runtuh. Desa adalah milik bersama — dan saat suara rakyat tak lagi punya tempat, maka musyawarah hanya akan menjadi panggung kosong.

Laporan : Salihan Beruh

Berita Terkait

Jumat Berkah, Polres Aceh Tenggara Tebar Kepedulian untuk Sesama
BGN Hentikan Sementara 17 Dapur MBG di Aceh Tenggara dan Gayo Lues, Warga Harap Kepastian Layanan
H. Ran Bantah Tudingan Penjualan Aset Mobil PDAM Tirta Agara
Jaksa Agung Tunjuk Eddy Samrah, Putra Aceh Tenggara, Menjabat Aspidum Kejati Aceh
Delapan Penghargaan Nasional, Aceh Tenggara Kukuhkan Komitmen Bangun Keluarga Berkualitas dan Percepat Penurunan Stunting
Aset PDAM Tirta Agara Diduga Dijual Diam-diam, Penegak Hukum Mandek
Kinerja Polres Aceh Tenggara Diapresiasi, Yahdi Hasan Ramud Soroti Perlindungan Generasi Muda
Bupati HM Salim Fakhry Lepas 145 Mahasiswa KKN, Dorong Kemandirian dan Pemulihan Masyarakat Pascabencana di Aceh Tenggara

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 06:19 WIB

Ketua Umum DePA-RI Minta Menteri Haji Tidak Ceroboh Soal War Tiket Haji

Selasa, 14 April 2026 - 20:40 WIB

Tolak Gerakan BEM SI Jawabarat, Kasus Andri Yunus Jangan Dijadikan Alibi untuk Aksi Provokatif dan Cederai Simbol Negara

Minggu, 12 April 2026 - 13:08 WIB

PJT Provinsi Lampung Hadiri Halal Bihalal di Jakarta, Pererat Tali Silaturahmi Lintas Wilayah

Minggu, 12 April 2026 - 11:03 WIB

Presiden Prabowo Saksikan Penyerahan Rp11,42 Triliun dan Ratusan Ribu Hektare Lahan Hasil Penyelamatan ke Negara

Jumat, 10 April 2026 - 19:38 WIB

Disdukcapil Riau Dilanda Kontroversi: Ros Diblokir Setelah Tolong Warga, Bunga Ditolak Karena Aturan Baju

Kamis, 9 April 2026 - 17:10 WIB

PA-Malut Desak DPP Demokrat Beri Perlindungan Hukum Terkait Kasus Aksandri Kitong

Rabu, 8 April 2026 - 20:06 WIB

PW GP Al Washliyah DKI Jakarta Dukung Usulan Kepala BNN Larang Vape dalam RUU Narkotika

Rabu, 8 April 2026 - 17:04 WIB

Organisasi Kepemudaan Kecam Keras Pernyataan Saiful Mujani, Tegaskan Mengarah pada Makar dan Ancam Stabilitas Negara

Berita Terbaru

PRINGSEWU

Wabup Pringsewu Umi Laila Lantik Pj Kapekon Gumuk Rejo

Jumat, 17 Apr 2026 - 20:15 WIB

ACEH TENGGARA

Jumat Berkah, Polres Aceh Tenggara Tebar Kepedulian untuk Sesama

Jumat, 17 Apr 2026 - 18:53 WIB