Nasir Djamil Desak Pemerintah Usut Kelangkaan Semen di Aceh Pasca Bencana

REDAKSI BANDA ACEH

- Redaksi

Minggu, 21 Desember 2025 - 12:44 WIB

50239 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Waspadaindonesia.com | BANDA ACEH — Anggota Komisi III DPR RI daerah pemilihan Aceh, H.M. Nasir Djamil, mendesak kementerian yang membidangi sektor industri segera turun tangan menindaklanjuti informasi kelangkaan semen di Aceh pasca bencana hidrometeorologi yang melanda provinsi tersebut.

Menurut Nasir, kelangkaan semen di tengah situasi darurat bencana merupakan persoalan serius yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ia juga berharap komisi di DPR RI yang membidangi sektor industri ikut mempertanyakan penyebab tersendatnya pasokan barang strategis yang sangat dibutuhkan masyarakat dalam masa pemulihan.

“Saya berharap komisi yang membidangi industri di DPR RI mempertanyakan secara serius penyebab kelangkaan barang yang sangat dibutuhkan masyarakat di tengah duka bencana Aceh,” ujar Nasir Djamil saat dihubungi dari Banda Aceh, Sabtu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menegaskan, peran aktif instansi terkait dan pelaku industri semen menjadi sangat krusial untuk meredam keresahan publik sekaligus mengembalikan kondisi ke situasi normal. Pasalnya, semen merupakan material utama dalam upaya perbaikan dan pembangunan kembali infrastruktur yang rusak akibat bencana.

Baca Juga :  Kak Na Antar Bantuan Masa Panik ke Blang Seunong

Ironisnya, Nasir mengungkapkan, Aceh sejatinya memiliki pabrik semen, yakni PT Solusi Bangunan Andalas (SBA) yang berlokasi di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan kelangkaan semen terjadi di Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Saya gusar dan kecewa ketika mendapat informasi semen langka di Banda Aceh dan Aceh Besar, padahal pabriknya ada di Lhoknga. Ini jelas sangat merugikan Aceh, baik secara material maupun immaterial,” tegasnya.

Nasir menyoroti alasan tidak beroperasinya PT SBA yang disebut-sebut akibat terganggunya pasokan listrik dari PT PLN. Menurutnya, alasan tersebut terkesan menempatkan Aceh sebagai wilayah yang tidak dianggap penting, padahal daerah ini sedang berada dalam masa pemulihan pasca bencana.

Ia memahami bahwa bencana hidrometeorologi yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh telah menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur publik, termasuk robohnya sejumlah menara listrik milik PLN yang berdampak pada terganggunya suplai energi. Namun demikian, Nasir menilai perusahaan sebesar PT SBA seharusnya telah memiliki langkah antisipatif.

“Seharusnya PT SBA memiliki genset atau sistem cadangan listrik agar operasional tetap berjalan saat suplai PLN terganggu. Apalagi PT SBA merupakan bagian dari holding Semen Indonesia Grup,” katanya.

Baca Juga :  Di Depan Gubernur Mualem, Mentan Tegaskan Segera Pulihkan Sawah Terdampak Banjir di Aceh

Lebih lanjut, Nasir menekankan pentingnya manajemen kebencanaan di tubuh perusahaan, mengingat Aceh merupakan wilayah yang rawan bencana.

“Perusahaan semen sebesar itu semestinya sudah diperkuat dengan manajemen bencana yang matang, karena Aceh adalah daerah bencana,” tambahnya.

Sebelumnya, kelangkaan semen telah dikeluhkan masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar sejak sepekan terakhir. Kondisi tersebut berdampak langsung pada terhentinya berbagai proyek pembangunan, termasuk sektor perumahan.

Seorang pengusaha properti di Banda Aceh, Putra, mengaku terpaksa menghentikan sementara pembangunan rumah akibat sulitnya memperoleh semen di pasaran.

“Saya sudah menghentikan pembangunan rumah. Para pekerja juga saya minta berhenti dulu sampai ada kepastian ketersediaan semen di pasar,” ujarnya.

Kelangkaan semen di tengah upaya pemulihan pasca bencana ini pun diharapkan segera mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat dan seluruh pemangku kepentingan, agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh tidak semakin terhambat. [Redaksi]

Berita Terkait

Ketua L CAPA Provinsi Aceh Minta Konsultan Pengawasan SD Drin Tujoh Nagan Raya Bersama Kita Buktikan Pernyataan Kepsek di Media Online
Surat Wali Kota,Untuk CV.Lae Saga,Dianggap Angin Lalu
“Ketika Rasa Hilang dari Kekuasaan” “Pemimpin dan Empati yang Retak” “Kontroversi yang Lahir dari Sunyinya Kepekaan”
Ketua PWM Aceh A. Malik Musa Berikan Arahan pada Kegiatan Dukungan Psikososial Korban Banjir dan Longsor di SMA Unggul Pidie Jaya
KASAD KIRIM ALAT BERAT, SURYADI DJAMIL ANGKAT SUARA
Diyakini Publik dan Akademisi, Salim Fakhry: Pemimpin yang Hadir di Titik Lelah Rakyat, Bekerja dengan Hati untuk Aceh Tenggara
Ketua DPRK Aceh Singkil Bersilaturahmi dan Ngopi Bareng Pemerhati Sosial Aceh
Kak Na Apresiasi Sumbangsih Relawan Pada Masa Tanggap Darurat Banjir Aceh

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 22:27 WIB

Pelajar 16 Tahun Diamankan Polisi, Diduga Terlibat Kasus Persetubuhan terhadap Anak di Pringsewu

Rabu, 9 September 2026 - 17:57 WIB

Pemkab Pringsewu Salurkan Bantuan 21,63 Ton Beras Kepada Masyarakat Banyuwangi

Selasa, 8 September 2026 - 13:41 WIB

Bupati Pringsewu Jawab Pemandangan Umum Fraksi-fraksi DPRD Terkait Rancangan Perubahan APBD 2O26

Senin, 7 September 2026 - 20:23 WIB

Bupati Pringsewu Sampaikan Rancangan Perubahan APBD

Jumat, 4 September 2026 - 13:36 WIB

Mantan Kabag Humas Pringsewu Dwi Murniati Fitri Meninggal Dunia di Usia 66 Tahun

Kamis, 3 September 2026 - 14:17 WIB

Wabup Pringsewu Turun Langsung ke Pasar Pagelaran, Sapa Warga & Kendalikan Harga Pangan

Rabu, 2 September 2026 - 20:05 WIB

Si Jago Merah Lalap Satu Hektar Lahan Perkebunan Jati di Ambarawa, Pringsewu

Selasa, 1 September 2026 - 19:47 WIB

Pemkab Pringsewu Adakan Pembinaan SPIP Terintegrasi 2026

Berita Terbaru

BANDA ACEH

MBG Jangan Jadi Eksperimen: SPPG Ditinggalkan, Kantin Dipaksakan

Kamis, 10 Sep 2026 - 22:45 WIB