Stok Bantuan Bencana Masih Menumpuk di Gudang BPBD Aceh Tenggara, Publik Pertanyakan Transparansi Distribusi

Waspada Indonesia

- Redaksi

Jumat, 16 Januari 2026 - 22:01 WIB

50317 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kutacane,Waspada Indonesia  — Sebuah video yang menunjukkan tumpukan logistik bantuan bencana di gudang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara beredar luas di media sosial dan menimbulkan berbagai pertanyaan dari masyarakat. Dalam video tersebut, terlihat warga sipil bersama petugas BPBD membuka gudang berisi penuh dengan berbagai jenis kebutuhan pokok, yang diduga merupakan bantuan untuk korban bencana banjir yang melanda daerah tersebut beberapa waktu lalu.

Meski kondisi darurat bencana telah berlalu, tampaknya masih ada stok logistik yang belum tersalurkan sepenuhnya. Hal ini menimbulkan keprihatinan dari masyarakat dan pegiat sosial di wilayah tersebut. Menanggapi video yang beredar, sejumlah wartawan mencoba mengonfirmasi langsung kepada Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tenggara, Mohd Asbi. Melalui pesan singkat WhatsApp, ia menyebut sedang berada di Banda Aceh dan menyarankan agar pertemuan dilakukan di lain waktu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Respons lambat dari BPBD menuai kritik dari berbagai kalangan. Barisan Sepuluh Pemuda Aceh Tenggara (BSPAT), melalui ketuanya Dahriansyah, meminta agar instansi tersebut segera memberikan klarifikasi terbuka kepada publik. Menurutnya, perlu dijelaskan secara detail apakah bantuan yang menumpuk itu merupakan logistik untuk tanggap darurat banjir atau untuk keperluan lain. Ia menilai, tanpa penjelasan transparan, kondisi ini dapat menimbulkan asumsi negatif di masyarakat terhadap penanganan bencana oleh pemerintah daerah.

Baca Juga :  Kapolres Agara Dimutasi, Digantkan AKBP Yulhendri

“Kalaksa BPBD harus bicara terbuka. Sampaikan ke publik berapa jumlah logistik yang masuk, bagaimana mekanisme pendistribusiannya, dan kenapa sampai sekarang masih ada tumpukan barang di gudang,” ujarnya, Jumat (16/01/2026).

Ia juga menyoroti pengelolaan dana bantuan dari pusat. Berdasarkan informasi yang diterima BSPAT, Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara telah merealisasikan transfer dana bantuan presiden sekitar Rp 2,4 miliar ke dua instansi, yakni BPBD dan Dinas Sosial. Dari total bantuan sebesar Rp 4 miliar yang diarahkan untuk wilayah terdampak banjir, rincian penggunaan anggaran hingga kini belum dipublikasikan secara luas.

Dahriansyah menilai penting bagi BPBD dan Dinas Sosial untuk memaparkan secara jelas bagaimana dana tersebut digunakan, untuk menghindari salah persepsi publik. Ia mengingatkan bahwa pengelolaan bantuan, baik berupa barang maupun dana, menyangkut kepercayaan masyarakat yang menjadi korban bencana. Ketertutupan data, menurutnya, hanya akan memperburuk citra pemerintah daerah di mata publik.

Baca Juga :  Menjadikan Negeri Aman dan Tentram Dalam Kemajemukan Bermasyarakat di Aceh Tenggara

Di sisi lain, BSPAT juga mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tenggara untuk segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke gudang BPBD. Langkah ini dianggap penting sebagai bentuk pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan penanganan bencana oleh eksekutif daerah.

“Dewan jangan tidur. Video sudah jelas beredar, isinya logistik bantuan yang masih menumpuk. Ini harus segera ditindaklanjuti. Rakyat punya hak untuk tahu kenapa bantuan itu belum disalurkan,” tegas Dahriansyah.

Hingga laporan ini diturunkan, belum ada keterangan resmi tambahan dari pihak BPBD Aceh Tenggara mengenai status logistik yang terlihat di dalam gudang maupun penjelasan teknis terkait distribusinya. Masyarakat, khususnya para korban banjir, berharap agar pemerintah daerah dapat segera memberikan klarifikasi dan menyalurkan sisa bantuan sesuai kebutuhan.

Situasi ini memperlihatkan pentingnya sistem manajemen logistik bencana yang transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan publik. Keterbukaan informasi, serta pengawasan yang efektif, menjadi satu dari sekian banyak aspek penting dalam menangani bencana secara berkeadilan dan profesional, terutama bagi masyarakat yang terdampak langsung.

Laporan : Salihan Beruh

Berita Terkait

LIRA Desak Audit Total PLTMH Lawe Sikap, Soroti Dugaan Kerusakan Lingkungan hingga Minimnya Manfaat bagi Warga
Kadis Disdukcapil Aceh Tenggara Tegaskan Seluruh Pengurusan Dokumen Gratis, Masyarakat Diminta Laporkan Pungli
Pascabanjir di Desa Kuning, Jalur Nasional Kembali Normal Setelah Dibersihkan BPJN Aceh 3.5
Perjuangkan Hak dan Tunjangan Guru di Agara, Ali Basrah: Semua Harus Lewat Prosedur yang Benar
Penantian Bertahun-Tahun Terbayar, Ratusan Warga Leuser Apresiasi Langkah Nyata BPN Aceh Tenggara
Kepala Sekolah SMA/SMK Aceh Tenggara Dipanggil Polda Aceh, Dugaan Gratifikasi Mengemuka
Dewas Baitulmal Klarifikasi Narasi mengatas Namakan Baitul Mal Agara dalam Dugaan Penyalah gunaan Dana Zis Rp 3, 8 Milyar
Jembatan Mbarung–Kedataran Mandek di Tengah Jalan, Progres Baru 49,1 Persen, Anggaran Rp 7,8 Miliar Kini Dipertanyakan

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 18:56 WIB

LIRA Desak Audit Total PLTMH Lawe Sikap, Soroti Dugaan Kerusakan Lingkungan hingga Minimnya Manfaat bagi Warga

Sabtu, 23 Mei 2026 - 18:52 WIB

Kadis Disdukcapil Aceh Tenggara Tegaskan Seluruh Pengurusan Dokumen Gratis, Masyarakat Diminta Laporkan Pungli

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:40 WIB

Perjuangkan Hak dan Tunjangan Guru di Agara, Ali Basrah: Semua Harus Lewat Prosedur yang Benar

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:13 WIB

Penantian Bertahun-Tahun Terbayar, Ratusan Warga Leuser Apresiasi Langkah Nyata BPN Aceh Tenggara

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:51 WIB

Kepala Sekolah SMA/SMK Aceh Tenggara Dipanggil Polda Aceh, Dugaan Gratifikasi Mengemuka

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:00 WIB

Dewas Baitulmal Klarifikasi Narasi mengatas Namakan Baitul Mal Agara dalam Dugaan Penyalah gunaan Dana Zis Rp 3, 8 Milyar

Minggu, 17 Mei 2026 - 06:29 WIB

Jembatan Mbarung–Kedataran Mandek di Tengah Jalan, Progres Baru 49,1 Persen, Anggaran Rp 7,8 Miliar Kini Dipertanyakan

Minggu, 17 Mei 2026 - 06:14 WIB

Proyek Jembatan Mbarung–Kedataran Mandek di Angka 49,1 Persen, Anggaran Rp 7,8 Miliar Dipertanyakan, BPK RI Turun Pantau Pengembalian Dana dan Dugaan Kegagalan Pengawasan

Berita Terbaru