Desakan Global: Hentikan Pendanaan dan Pembelian Nikel dari Harita Group

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Sabtu, 20 Desember 2025 - 22:19 WIB

50299 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta — Tekanan global terhadap Harita Group kini bergerak dari sekadar kritik biasa menuju tudingan serius yang mengarah pada dugaan kejahatan korporasi terstruktur.

Operasi industri nikel raksasa tersebut di Pulau Obi, Maluku Utara, tidak lagi dipandang sebagai persoalan lingkungan semata, melainkan sebagai rangkaian tindakan sistematis yang diduga melanggar hukum lingkungan, hak asasi manusia, prinsip tata kelola yang baik, serta merusak sendi-sendi demokrasi dan kedaulatan ekonomi lokal.

Yohanes Masudede, Koordinator Perkumpulan Aktivis Maluku Utara, menyatakan bahwa apa yang terjadi di Pulau Obi telah memenuhi unsur kehancuran ekologis yang disengaja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menilai perubahan drastis lanskap pulau, pencemaran air, serta konflik sosial yang meluas bukanlah dampak tak terhindarkan dari pembangunan, melainkan konsekuensi langsung dari model bisnis ekstraktif yang mengabaikan hukum dan hak rakyat.

“Pulau Obi dulunya ruang hidup, sekarang menjadi zona korban. Air tercemar, tanah dirampas, dan masyarakat dipaksa menanggung biaya dari keuntungan yang mereka tidak pernah nikmati,” ujar Yohanes di Jakarta, (20/12/2025).

Menurutnya, proses penguasaan lahan dan ekspansi tambang dilakukan dengan mengabaikan hak warga dan prinsip persetujuan bebas, didahulukan, dan diinformasikan, yang secara hukum internasional merupakan pelanggaran serius.

Ia menegaskan bahwa Harita Group tidak bisa lagi berlindung di balik narasi pembangunan dan hilirisasi.

“Jika sebuah korporasi secara sadar terus beroperasi meski mengetahui dampak destruktif terhadap lingkungan dan manusia, maka itu bukan kelalaian, melainkan pembiaran yang patut diduga sebagai kejahatan korporasi,” tegasnya.

Dimensi hukum persoalan ini semakin tajam ketika isu lingkungan bertemu dengan unsur korupsi dan cacat tata kelola. Direktur Indonesia Anti-Corruption Network (IACN), Igrissa Majid, menyebut Harita Group sebagai bagian dari problem struktural sektor nikel Indonesia yang sarat dengan praktik perizinan bermasalah, konflik kepentingan, serta dugaan aliran dana non-transparan.

“Industri nikel kita dibangun bukan di atas supremasi hukum, tetapi di atas kompromi, pembiaran, dan dugaan suap, bahkan soal sendiri sudah terbukti di pengadilan terkait kasus Mantan Gubernur Maluku Utara, dan Harita Group adalah salah satu aktor dominan dalam sistem ini,” kata Igrissa.

Baca Juga :  PPWI Adakan Kunjungan Kehormatan ke Duta Besar Maroko

Ia merujuk pada berbagai laporan investigatif lembaga antikorupsi yang mengungkap bagaimana izin-izin tambang dan smelter kerap terbit tanpa kepatuhan penuh terhadap aturan lingkungan dan fiskal.
Menurutnya, dampak dari praktik tersebut bukan hanya kerugian ekologis, tetapi juga kerugian negara dan rakyat.

“Ketika pajak diduga tidak optimal, izin bermasalah dibiarkan, dan dampak lingkungan tidak dipulihkan, maka ada potensi kerugian keuangan negara yang nyata. Ini wilayah hukum pidana, bukan lagi sekadar kritik kebijakan,” paparnya.

Igrissa juga menyoroti peran lembaga keuangan nasional dan internasional yang terus mendanai ekspansi Harita Group.

Ia menilai bank-bank tersebut berpotensi ikut bertanggung jawab secara etik, bahkan hukum, apabila tetap membiayai proyek yang diduga melanggar hukum dan HAM.

“Pendanaan bukan tindakan netral. Jika bank mengetahui atau seharusnya mengetahui adanya pelanggaran, maka pembiayaan itu bisa dianggap sebagai kontribusi terhadap kejahatan,” tegas alumnus Anti-Corruption Academy ini.

Tekanan terhadap sektor keuangan ini telah meluas secara global. Kampanye internasional #StopDirtyNickel yang digerakkan Kpop4planet secara terbuka menargetkan bank-bank besar seperti Hana Bank, Maybank, MUFG, dan BNI.

Aksi-aksi protes kreatif digelar untuk menunjukkan bahwa dana yang diklaim mendukung transisi energi justru menopang industri nikel dengan jejak karbon tinggi dan dampak sosial-ekologis berat.

Laporan Market Forces dan The Prakarsa memperkuat tudingan tersebut dengan mengungkap bagaimana pembiayaan Harita Group mengalir melalui celah kebijakan perbankan ke proyek PLTU batubara industri yang menyuplai smelter nikel.

Fakta ini memperlihatkan kontradiksi mendasar antara klaim energi hijau dan praktik nyata di lapangan, sekaligus menempatkan industri nikel Indonesia sebagai salah satu penyumbang emisi karbon industri tertinggi.

Dari sisi lingkungan, temuan Global Witness, The Gecko Project, serta investigasi media internasional menggambarkan situasi yang mengkhawatirkan.

Operasi Harita di Pulau Obi dituding menyebabkan pencemaran berat air laut dan air tanah oleh logam berbahaya, termasuk Kromium Heksavalen yang bersifat karsinogenik.

Investigasi media internasional The Guardian yang melibatkan aktivis lingkungan Erin Brockovich bahkan mengungkap indikasi risiko kesehatan jangka panjang bagi masyarakat sekitar.

Kebocoran laporan internal perusahaan yang dilaporkan media internasional turut mengakui adanya kontaminasi jangka panjang di area tambang dan tailing.

Baca Juga :  Fashion Ecosystem Summit, Yeri: Kembangkan Fashion Industri Lokal

Di saat yang sama, wilayah perairan Halmahera yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia kini menghadapi ancaman serius akibat sedimentasi dan polusi dari aktivitas tambang dan pengapalan nikel.

Ironinya, di pasar global, Harita Nickel berusaha meyakinkan calon pembeli dengan menjalani audit standar IRMA (Initiative for Responsible Mining Assurance). Namun, para kritikus melihat ini sebagai upaya pencucian citra (whitewashing) semata, mengingat temuan pelanggaran berat yang sistematis.

“Jadi di tengah tekanan ini, Laporan Keberlanjutan Harita Nickel dan partisipasi perusahaan dalam audit IRMA harus dipandang sebagai upaya greenwashing dan whitewashing,” ujarnya.

Klaim kepatuhan terhadap standar internasional dinilai tidak sebanding dengan temuan pelanggaran berat dan sistematis yang terus muncul dari lapangan.

Koalisi aktivis nasional dan internasional kini mengarahkan seruan langsung kepada para pembeli nikel, khususnya perusahaan kendaraan listrik dan baterai global.

Mereka menuntut penghentian pembelian dari Harita Group hingga seluruh dugaan pelanggaran diselidiki secara independen dan tuntas.

“Setiap nikel yang keluar dari Obi membawa jejak penderitaan manusia dan kehancuran alam, jadi kalau membelinya berarti ikut menopang sistem yang melanggar hukum dan HAM,” kata Igrissa.

Ia menambahkan bahwa ekspansi agresif industri nikel Indonesia, dengan dukungan modal dan teknologi asing, telah menciptakan distorsi pasar global sekaligus ketergantungan baru yang berbahaya.

Menurutnya, ini adalah ujian nyata bagi komitmen dunia terhadap transisi energi yang adil.

“Jika energi bersih dibangun di atas kotoran kejahatan lingkungan dan korupsi, maka itu bukan transisi, melainkan pengulangan skandal korporasi,” jelasnya.

Ditemui di Jakarta Selatan, Igrissa menegaskan bahwa penghentian pendanaan dan pembelian dari Harita Group merupakan keharusan moral sekaligus langkah preventif untuk mencegah kejahatan yang lebih besar.

Ia menutup dengan peringatan bahwa koalisi global kini memantau secara ketat sikap bank dan pembeli.

“Publik internasional sedang memberi atensi serius, siapa yang tetap mendanai dan membeli, harus siap dicatat sebagai bagian dari kejahatan yang mereka biayai sendiri,” tutup Igrissa.

Berita Terkait

Transparansi Anggaran Seleksi PT SPRH Disorot AMRJ
Pengamat Apresiasi Polres Cimahi Bongkar Home Industry Tembakau Sintetis, Ratusan Ribu Jiwa Diselamatkan
Sekjen PP GP AL Washliyah: Pernyataan AHY Adalah Edukasi Demokrasi, Jangan Diartikan Sebagai Ambisi Politik 2029
Inalum Perkuat Penanganan Karhutla di Mempawah-Kalimantan Barat, 60 Relawan Grup MIND ID Diterjunkan ke Sekitar Wilayah Operasional BAI
Aksi di Depan KPK, GMPB Soroti Dugaan Pemotongan Insentif Bappenda Bogor
Inalum Naik Kelas ke idAA/Stable, Tegaskan Ketangguhan Fundamental di Tengah Ketidakpastian Global
Aktivis Nasional Dedi Siregar: Bendera Identitas di Samarinda Bukan Serta-Merta Simbol Separatisme, Apresiasi Respons Cepat Pangdam VI/Mulawarman
BNN dan Polri Bekuk Gembong Narkoba Kampung Bahari, PW GP Al Washliyah Bukti Kolaborasi BNN Tak Beri Ruang untuk Bandar Narkoba

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 09:05 WIB

Pemkab Pringsewu Gelar Lomba Pariwara Antikorupsi

Kamis, 10 September 2026 - 18:24 WIB

Pemkab dan Kantah Pringsewu Jalin Kerjasama Penguatan Sinergi Pelayanan Pertanahan dan Tata Ruang

Rabu, 9 September 2026 - 22:27 WIB

Pelajar 16 Tahun Diamankan Polisi, Diduga Terlibat Kasus Persetubuhan terhadap Anak di Pringsewu

Rabu, 9 September 2026 - 17:57 WIB

Pemkab Pringsewu Salurkan Bantuan 21,63 Ton Beras Kepada Masyarakat Banyuwangi

Selasa, 8 September 2026 - 13:41 WIB

Bupati Pringsewu Jawab Pemandangan Umum Fraksi-fraksi DPRD Terkait Rancangan Perubahan APBD 2O26

Senin, 7 September 2026 - 20:23 WIB

Bupati Pringsewu Sampaikan Rancangan Perubahan APBD

Jumat, 4 September 2026 - 13:36 WIB

Mantan Kabag Humas Pringsewu Dwi Murniati Fitri Meninggal Dunia di Usia 66 Tahun

Kamis, 3 September 2026 - 14:17 WIB

Wabup Pringsewu Turun Langsung ke Pasar Pagelaran, Sapa Warga & Kendalikan Harga Pangan

Berita Terbaru

PEKANBARU

Drama dan Puisi Musikal SMAN Plus Riau Juara di Literasi UIR

Jumat, 11 Sep 2026 - 16:36 WIB