Wali Nanggroe: Saya Tidak Akan Tinggal Diam, Bantuan Harus Masuk, Alam Harus Dipulihkan

REDAKSI BANDA ACEH

- Redaksi

Minggu, 21 Desember 2025 - 23:13 WIB

50350 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Waspadaindonesia.com | Kuala Simpang — Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al-Haythar, menyampaikan pernyataan tegas untuk memastikan seluruh bantuan bencana dapat masuk ke Aceh tanpa hambatan. Ia menekankan bahwa pemulihan pascabencana harus berjalan seiring dengan restorasi ekosistem hutan serta perlindungan satwa liar secara ketat.

Pernyataan tersebut disampaikan saat penyerahan 15 ton bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang. Bantuan diterima oleh Bupati Aceh Tamiang dan Ketua DPRK Aceh Tamiang, serta disaksikan Wakil Gubernur Aceh, di halaman Kantor Bupati Aceh Tamiang, Minggu, 21 Desember 2025.

Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Wali Nanggroe, Zulfikar Idris, yang turut langsung ke lapangan, menyampaikan bahwa logistik bantuan merupakan hasil penggalangan dari Sekretariat Wali Nanggroe, Majelis Syura Wali Nanggroe, komunitas Hakka Aceh, serta pimpinan Rumah Sakit Putri Bidadari, dengan total mencapai 15 ton.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegiatan tersebut turut dihadiri Staf Khusus Wali Nanggroe, Dr. Muhammad Raviq, serta Khatibul Wali, Abdullah Hasbullah.

Baca Juga :  Pemerintah Terus Berbuat, Pemulihan Pascabencana Dikebut dari Sumur Bor hingga Padat Karya Rakyat

“Dengan bencana ini, kita orang Aceh harus bersabar dan kuat. Kita harus membangun negeri kita sendiri. Saya tidak akan tinggal diam. Banyak negara ingin membantu, tetapi belum sepenuhnya bisa masuk. Saya akan terus mencari jalan agar semua bantuan itu dapat masuk,” tegas Wali Nanggroe.

Wali Nanggroe menyebut bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh sebagai “tsunami kedua bagi Aceh”, sebuah peringatan ekologis yang lahir dari kerusakan hutan dan lemahnya tata kelola lingkungan.

“Tsunami pertama air laut naik dan tidak membawa material. Tsunami kedua, air turun dari daratan dan membawa kayu-kayu. Ini pelajaran besar bagi kita semua. Hutan jangan ditebang, dan jangan terlalu banyak menanam sawit,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa hutan Aceh bukan semata isu lokal, melainkan penyangga kehidupan, iklim, dan keanekaragaman hayati yang kepentingannya bersifat lintas generasi.

Dalam perspektif pemulihan pascabencana, Wali Nanggroe menekankan bahwa pembangunan Aceh tidak boleh berhenti pada aspek fisik semata, melainkan harus mencakup langkah-langkah ekologis strategis, antara lain rehabilitasi hutan di wilayah hulu dan daerah aliran sungai (DAS), perlindungan hukum yang kuat terhadap hutan alam yang tersisa, pemulihan koridor satwa liar untuk mencegah fragmentasi habitat, perlindungan spesies endemik dan terancam punah, serta penegakan hukum lingkungan yang konsisten dan transparan.

Baca Juga :  UKM PRAMUKA UNIGHA: MASYARAKAT ACEH UTARA BUTUH TENDA YANG LAYAK.

“Aceh bisa maju tanpa menghancurkan hutannya. Investasi industri hijau dan pembangunan berkelanjutan adalah masa depan Aceh,” tegas Wali Nanggroe.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu bersama Pemerintah Aceh dalam menghadapi dampak bencana, baik dari sisi kemanusiaan maupun lingkungan.

“Kita harus berdiri bersama, saling membantu dan saling mendoakan, agar para pemimpin kita dikuatkan dalam memimpin Aceh keluar dari ujian ini,” kata Wali Nanggroe.

Selain itu, Wali Nanggroe menegaskan akan mengawal komitmen Pemerintah Pusat terkait pemulihan pascabencana, termasuk janji Presiden Republik Indonesia untuk membangun kembali rumah warga, jalan, serta fasilitas umum yang rusak. Ia menekankan bahwa seluruh proses rekonstruksi harus dilakukan secara tangguh bencana, ramah lingkungan, dan berpihak pada masa depan Aceh. []

Berita Terkait

Ketua L CAPA Provinsi Aceh Minta Konsultan Pengawasan SD Drin Tujoh Nagan Raya Bersama Kita Buktikan Pernyataan Kepsek di Media Online
Surat Wali Kota,Untuk CV.Lae Saga,Dianggap Angin Lalu
“Ketika Rasa Hilang dari Kekuasaan” “Pemimpin dan Empati yang Retak” “Kontroversi yang Lahir dari Sunyinya Kepekaan”
Ketua PWM Aceh A. Malik Musa Berikan Arahan pada Kegiatan Dukungan Psikososial Korban Banjir dan Longsor di SMA Unggul Pidie Jaya
KASAD KIRIM ALAT BERAT, SURYADI DJAMIL ANGKAT SUARA
Diyakini Publik dan Akademisi, Salim Fakhry: Pemimpin yang Hadir di Titik Lelah Rakyat, Bekerja dengan Hati untuk Aceh Tenggara
Ketua DPRK Aceh Singkil Bersilaturahmi dan Ngopi Bareng Pemerhati Sosial Aceh
Kak Na Apresiasi Sumbangsih Relawan Pada Masa Tanggap Darurat Banjir Aceh

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Hari Kedua Ops Patuh Toba 2026, Satlantas Polres Karo Edukasi Pengendara Lewat Radio dan Turun ke Jalan

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Pererat Silaturahmi, Bupati dan Wabup Karo Hadiri Kerja Tahun di Sejumlah Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Hadiri Rakornas TPAKD Bersama Presiden Prabowo, Bupati Karo Perkuat Akses Keuangan Warga

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Akhirnya! Jalan Rusak Puluhan Tahun Kutabuluh – Kutamale Mulai Diperbaiki

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:05 WIB

Pemkab Karo Raih Predikat INFORMATIF di KI Sumut Award 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:32 WIB

Bupati Karo dan Kajari Perkuat Perlindungan Guru Lewat Program Jaksa Sahabat Pendidik

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:49 WIB

Pemkab Karo Diundang Tampilkan Potensi Wisata dan UMKM di FLEI 2026 Jakarta

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:30 WIB

BUPATI KARO USULKAN 19 RANPERDA DI PARIPURNA DPRD, BAHAS PENDIDIKAN HINGGA KETAHANAN PANGAN

Berita Terbaru