Dorongan PPA Kepada Presiden Agar Pengelolaan Dana Rehap Rekon Bencana Diserahkan ke Aceh, Bukan Pusat

REDAKSI BANDA ACEH

- Redaksi

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:26 WIB

50157 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Waspadaindonesia.com | Banda Aceh — Partai Perjuangan Aceh (PPA) secara tegas meminta Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto agar menyerahkan pengelolaan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir dan longsor di Aceh kepada Pemerintah Aceh melalui pembentukan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh. Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum PPA, Prof. Adjunct Dr. Marniati, dalam konferensi pers terkait penanganan pascabencana yang melanda belasan kabupaten dan kota di Aceh sejak November 2025 lalu.

Dalam keterangannya, Prof. Marniati menegaskan bahwa bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi merupakan bencana daerah, sehingga sudah semestinya pengelolaan anggaran pemulihan dipercayakan kepada pemerintah daerah. PPA menilai, secara historis dan ilmiah Aceh pernah berhasil bangkit melalui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) pascatsunami, sehingga tidak ada alasan untuk tidak kembali mempercayakan pengelolaan dana besar pemulihan kepada Pemerintah Aceh. “Kami mempertanyakan, apakah Presiden tidak mempercayai Pemerintah Aceh dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf dalam mengelola pemulihan daerahnya sendiri?” ujar Prof. Marniati.

PPA juga menyoroti berbagai persoalan di lapangan yang hingga kini masih dirasakan masyarakat terdampak, mulai dari keterbatasan logistik pangan dan sandang, hunian sementara yang belum layak, hingga fasilitas pendidikan yang rusak dan menghambat proses belajar anak-anak korban bencana. Menurut PPA, penanganan pascabencana di sejumlah wilayah masih belum tepat sasaran dan belum menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat, padahal masa tanggap darurat akan segera berakhir dan Aceh memasuki fase rehabilitasi serta pemulihan layanan dasar.

Baca Juga :  Nasir Djamil Desak Pemerintah Usut Kelangkaan Semen di Aceh Pasca Bencana

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam konferensi pers tersebut, PPA turut mengkritisi pengerahan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan lebih dari 1.000 Praja IPDN ke lokasi bencana yang dinilai tidak efektif. Prof. Marniati menyebut anggaran besar justru habis untuk biaya transportasi, konsumsi, peralatan, dan ongkos pesawat, sementara dampak langsung bagi masyarakat sangat minim. “ASN sudah dua kali turun, anggaran habis untuk makan dan transportasi. Ini tidak efektif. Yang paling efektif adalah memberdayakan masyarakat lokal bekerja untuk masyarakat. Dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat,” tegasnya.

Selain itu, PPA mendorong kebijakan yang berpihak kepada pelaku UMKM dan pengusaha lokal Aceh, termasuk pelonggaran persyaratan e-katalog dalam pengadaan barang dan jasa yang bersumber dari dana pusat. PPA mengingatkan agar proses pemulihan tidak justru menyingkirkan pelaku usaha lokal di daerahnya sendiri, sejalan dengan filosofi Aceh “buya krueng teudong-dong, buya tamong meuraseki”.

Baca Juga :  Di Depan Gubernur Mualem, Mentan Tegaskan Segera Pulihkan Sawah Terdampak Banjir di Aceh

Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan politik, PPA juga menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Presiden, antara lain percepatan pemulihan sektor pendidikan, kesehatan, perumahan, dan ekonomi; keringanan biaya PDAM dan PLN; restrukturisasi kredit; percepatan pencairan BLT; serta jaminan keamanan selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Di sisi lain, PPA meminta Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Muzakir Manaf untuk lebih proaktif, membangun koordinasi kuat dengan seluruh pemangku kepentingan, serta menyajikan data valid dan berbasis bukti agar pemulihan berjalan cepat, tepat sasaran, dan berdampak nyata bagi rakyat Aceh.

Menutup konferensi pers, Prof. Marniati menegaskan bahwa seluruh sikap dan kritik PPA diarahkan sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat Aceh. “Bencana telah merenggut banyak hal dari rakyat Aceh. Jangan sampai anggaran pemulihan ikut habis untuk hal-hal yang tidak efektif. Keselamatan, kemanusiaan, dan masa depan generasi Aceh harus menjadi prioritas utama,” pungkasnya.[Redaksi]

Berita Terkait

“Ketika Rasa Hilang dari Kekuasaan” “Pemimpin dan Empati yang Retak” “Kontroversi yang Lahir dari Sunyinya Kepekaan”
Ketua PWM Aceh A. Malik Musa Berikan Arahan pada Kegiatan Dukungan Psikososial Korban Banjir dan Longsor di SMA Unggul Pidie Jaya
KASAD KIRIM ALAT BERAT, SURYADI DJAMIL ANGKAT SUARA
Diyakini Publik dan Akademisi, Salim Fakhry: Pemimpin yang Hadir di Titik Lelah Rakyat, Bekerja dengan Hati untuk Aceh Tenggara
Ketua DPRK Aceh Singkil Bersilaturahmi dan Ngopi Bareng Pemerhati Sosial Aceh
Kak Na Apresiasi Sumbangsih Relawan Pada Masa Tanggap Darurat Banjir Aceh
Relawan ASN Bersihkan Fasilitas Pendidikan di Tamiang, Sekda Pantau Langsung ke Lapangan
DPD PBN ACEH Ajak Masyarakat Jadi Pelita bagi Korban Banjir dan Longsor

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 08:04 WIB

Wabup Pringsewu Umi Laila saat mendampingi tim KONI Pusat di Bendungan Way Sekampung

Jumat, 17 April 2026 - 05:54 WIB

PANTASTIS! Anggaran Bimtek Rp 1,67 Miliar dan Jasa Tenaga Ahli Sekretariat DPRD Pringsewu Dipertanyakan

Kamis, 16 April 2026 - 20:53 WIB

Didampingi Wabup, KONI Pusat Survei Venue Olahraga Dayung dan Ski Air PON 2032 Di Kabupaten Pringsewu

Kamis, 16 April 2026 - 13:08 WIB

DPC ASWIN PRINGSEWU: JAWABAN KABAG UMUM DAN KEUANGAN SEKRETARIAT DPRD PRINGSEWU MEMBINGUNGKAN, PUBLIK BERHAK TAHU DATA ANGGARAN

Kamis, 16 April 2026 - 10:35 WIB

DPC ASWIN Pringsewu Desak Sekretariat DPRD Tegakkan Transparansi

Kamis, 16 April 2026 - 07:22 WIB

DATA TERUNGKAP: ANGGARAN MAKAN MINUM DPRD PRINGSEWU TAHUN 2025 MENCAPAI RP1,35 MILIAR, DINILAI TIDAK WAJAR DAN MEMBOROSKAN

Selasa, 14 April 2026 - 20:23 WIB

Wabup Pringsewu Umi Laila Hadiri Pengajian Akbar Harlah Ke-50 Ponpes Yasmida Ambarawa

Selasa, 14 April 2026 - 18:49 WIB

Bupati Pringsewu Buka Sosialisasi Literasi & Inklusi Keuangan Sicantiks

Berita Terbaru