Proyek Jembatan Mbarung–Kedataran Mandek di Angka 49,1 Persen, Anggaran Rp 7,8 Miliar Dipertanyakan, BPK RI Turun Pantau Pengembalian Dana dan Dugaan Kegagalan Pengawasan

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Minggu, 17 Mei 2026 - 06:14 WIB

50198 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WASPADA INDONESIA, KUTACAN,17/05/2026 | Polemik Jembatan Mbarung–Kedataran kembali memanas, kali ini dengan data yang lebih terang dan pernyataan resmi dari pejabat terkait. Di tengah kecemasan masyarakat yang sudah bertahun-tahun menunggu akses penghubung layak, proyek senilai Rp 7,8 miliar itu justru menyisakan jejak pengerjaan yang hanya mencapai 49,1 persen. Angka itu disampaikan langsung oleh Penanggung Jawab Teknis Kegiatan (PPTK), Jarno, yang mengakui bahwa kontraktor sudah tidak sanggup lagi melanjutkan pekerjaan dan sisa anggaran terpaksa dikembalikan ke kas negara. Ucapan itu menguatkan dugaan bahwa proyek ini benar-benar tersangkut di tengah jalan, baik secara fisik maupun administratif.

Fakta bahwa progres macet di bawah 50 persen memang menghantam logika publik. Bagaimana mungkin proyek dengan nilai miliaran rupiah hanya menghasilkan setengah jembatan, sementara kebutuhan masyarakat tak pernah menunggu? Pernyataan Jarno juga menegaskan bahwa persoalan ini telah dipantau langsung oleh BPK RI, sebuah petunjuk bahwa masalahnya bukan sekadar teknis di lapangan, tetapi juga berkaitan dengan pertanggungjawaban penggunaan anggaran. Jika lembaga audit negara sudah turun tangan, itu berarti ada indikasi yang cukup kuat bahwa tata kelola proyek layak dipertanyakan.

Masalah konstruksi itu tambah pelik setelah banjir bandang menggulung area proyek pada 26 November 2025. Banjir menghantam bagian struktur yang belum selesai, membuat pekerjaan semakin sulit dilanjutkan. Tak sampai di situ, jembatan darurat yang dibangun sebagai akses sementara justru terbakar di tengah malam—sebuah insiden yang membuka bab baru pertanyaan soal keamanan, potensi sabotase, atau konflik sosial yang tak kunjung tuntas. Force majeure memang menjadi alasan yang berulang disebut, tetapi publik tahu bahwa bencana bukan satu-satunya penyebab proyek tersendat.

Baca Juga :  Empat Rumah Terdampak Kebakaran di Aceh Tenggara, Api Diduga Berasal dari Dapur Warga

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di balik bencana dan cerita teknis lainnya, ada pertanyaan yang lebih substansial: berapa besar dana yang sudah dicairkan? Pernyataan PPTK soal pengembalian sisa anggaran memang memberikan sedikit terang, namun tidak serta-merta menjelaskan pola pencairan sebelum pekerjaan terhenti. Progres fisik 49,1 persen semestinya hanya berbanding lurus dengan pencairan dana sesuai mekanisme termin. Artinya, tidak ada ruang bagi pencairan mendekati penuh ketika jembatan bahkan belum mencapai separuh. Ketentuan keuangan negara sangat jelas: uang rakyat keluar berdasarkan kerja nyata di lapangan, bukan berdasarkan laporan yang ditulis rapi.

Ini yang membuat publik semakin menajamkan pengamatan. Bila pencairan dana sebelumnya berjalan melebihi progres fisik, maka persoalan akan masuk wilayah serius: dari pelanggaran administrasi, kelemahan pengawasan, hingga potensi kerugian negara. Pengembalian sisa anggaran, meski penting, tidak otomatis menjawab bagaimana proses pencairan berlangsung dan apakah setiap rupiah telah dipertanggungjawabkan sesuai aturan. BPK memang memantau, tetapi transparansi kepada publik adalah kewajiban moral yang belum sepenuhnya dijalankan oleh pihak terkait.

Sementara itu, di lapangan, ketidakpastian terus menghantui warga. Akses mereka bergantung pada jembatan darurat yang sudah rusak, sementara jembatan permanen tak kunjung berdiri. Mereka yang bekerja, anak sekolah, pedagang kecil hingga petani, semuanya merasakan dampak langsung dari proyek yang mandek ini. Ketika pemerintah daerah berbicara soal prosedur dan mekanisme anggaran, yang warga lihat hanyalah satu hal: jembatan yang tak jadi-jadi.

Baca Juga :  8.500 Peserta Siap Meriahkan Jalan Santai HUT ke-51 Pemkab Aceh Tenggara, Hadiah Utama 2 Sepeda Motor

Kasus Jembatan Mbarung–Kedataran kini menjadi cermin besar tata kelola pembangunan daerah. Banjir bandang memang memukul fisik proyek, tetapi bukan itu satu-satunya gelombang yang menghantam. Gelombang lain datang dari lemahnya pengawasan, lambatnya pengambilan keputusan, dan minimnya transparansi anggaran. Pernyataan Jarno mengenai pengembalian sisa dana ke negara seharusnya menjadi pintu masuk untuk mengurai lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi sejak awal proyek ini dimulai.

Jika proyek ini hanya berhenti sebagai cerita tentang kontraktor yang menyerah dan anggaran yang dikembalikan sebagian, maka kita kehilangan kesempatan untuk memperbaiki sistem yang rusak. Masyarakat tidak butuh dalih panjang; mereka butuh jembatan yang berdiri dan penjelasan yang jujur. Di tengah sungai yang pernah mengamuk dan merobek akses warga, kini muncul arus lain yang tak kalah deras: derasnya tuntutan akan kejelasan, tanggung jawab, dan langkah tegas agar jembatan itu tidak selamanya menjadi simbol kebijakan yang terhenti di tengah jalan.

Laporan: Salihan Beruh

Berita Terkait

Ngaku Senang Buron Ketemu, Kalapas Kutacane Sebut Sudah Siapkan Ambulans, Ical Malah Meninggal di RSUD
Relawan Prabowo Ikut Menanggung Malu, Jalan Nasional Kutacane–Medan Berulang Kali Terendam, Jembatan Kuning I Didesak Dibongkar
Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Dua Pria di Ketambe, 10 Paket Sabu Disita
18 Alat Berat Bantuan Pusat untuk Aceh Tenggara Rusak, Bupati Ngamuk: Jalan Baru Ditimbun Sudah Amblas Lagi
Banjir Kembali Rendam Desa Kuning I, Tanggul Menipis Warga Khawatir Gagal Panen dan Rumah Terendam
Tak Hujan Pun Banjir, Warga Desa Kuning 1 Kecewa Berat ke Pemerintah Aceh dan Titip Harapan ke Gubernur Jawa Barat KDM
Dari Persembunyian di Desa Simpang Semadam Hingga Meninggal di Rumah Sakit, Ada Apa Dalam 24 Jam Terakhir Hidupnya Ical
Buron 19 Bulan, Narapidana Lapas Kutacane Ditangkap di Rumahnya di Simpang Semadam

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 23:39 WIB

Prof DR Sutan Nasomal : Jangan Tidak Peka Presiden RI Dengan Air Mata Rakyat Akibat Di Bakarnya Hutan

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Rakerwil GPA Sultra Perkuat Kaderisasi, Gerakan Sosial, Dan Kemandirian Ekonomi Pemuda Konawe Utara

Jumat, 23 Oktober 2026 - 00:47 WIB

Prof. Dr. Sutan Nasomal Bela Pemkab Siak di Tengah Tekanan APBD: Jangan Terburu-buru Salahkan Bupati Afni, Rakyat Harus Tetap Jadi Prioritas!

Jumat, 23 Oktober 2026 - 00:27 WIB

Petugas Rutan Jakarta Pusat Gagalkan Upaya Penyelundupan Barang Terlarang Dduga ETOMIDATE

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Suryadi Djamil Apresiasi Kapolri Suyudi Ario Seto, Minta Sikat Narkoba hingga ke Pabrik

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:59 WIB

PPD: Pentingnya Pemerataan Kualitas Pendidikan di Berbagai wilayah Indonesia

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Dari Energi Air ke Pasar Dunia, Inalum Perkenalkan Low Carbon Aluminium Indonesia

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:44 WIB

Ketum Golkar Segera Pecat Ahmad Doli Kurnia dan PAW Dari Senayan

Berita Terbaru