Oknum Kepala Desa di Aceh Tenggara Ditahan dalam Kasus Dugaan Korupsi Dana Desa Rp 476 Juta

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Jumat, 10 Oktober 2025 - 22:02 WIB

50457 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kutacane, Waspada Indonesia — Kejaksaan Negeri Aceh Tenggara menahan seorang kepala desa di Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, berinisial HM, pada Kamis malam, 9 Oktober 2025. HM yang menjabat sebagai Pengulu Kute di Desa Lembah Haji ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi dana desa tahun anggaran 2022–2023 dengan total nilai kerugian negara mencapai Rp 476.692.348.

HM digiring ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kutacane setelah menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik Kejari Aceh Tenggara. Saat keluar dari kantor kejaksaan, HM terlihat mengenakan rompi tahanan berwarna oranye, tanda resmi bahwa ia kini berstatus tersangka.

Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Tenggara, Lilik Setiyawan, menyampaikan bahwa penetapan tersangka terhadap HM didasarkan pada hasil penyidikan yang dilakukan sejak Mei 2025 lalu. Tim penyidik telah menemukan cukup bukti atas indikasi penyimpangan dalam pengelolaan dana desa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Penetapan tersangka berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor Print-01/L.1.20/Fd.1/05/2025 yang kemudian diperbarui pada 10 Juni 2025, dan dikuatkan melalui Surat Penetapan Tersangka Nomor R-16/L.1.20/Fd.1/10/2025 tanggal 9 Oktober 2025,” kata Lilik dalam konferensi pers di Kantor Kejari Aceh Tenggara.

Baca Juga :  Warga Tanjung Gabungan Gelar Gotong Royong Bangun Tanggul Darurat Jembatan Natam Pascabencana

Kejaksaan juga merujuk pada Laporan Hasil Perhitungan Kerugian Keuangan Negara (LHP-KKN) dari Inspektorat Kabupaten Aceh Tenggara, dengan nomor 700/225/LHP-KKN/IK/2025, yang menyatakan bahwa negara mengalami kerugian lebih dari Rp 476 juta akibat pengelolaan dana desa yang diduga tidak sesuai ketentuan.

Dalam pelaksanaan anggaran tersebut, tersangka HM bersama seorang aparatur desa lain berinisial ZP yang menjabat sebagai Kaur Keuangan, menarik dana desa secara tunai dari Bank Aceh Syariah. Dana sebagian digunakan sesuai peruntukannya, namun sebagian besar digunakan untuk kepentingan pribadi.

“HM melakukan pencairan dan penggunaan dana secara sepihak, tanpa melibatkan perangkat desa seperti Badan Permusyawaratan Kute (BPK), dan tidak melalui prosedur musyawarah desa,” ujar Lilik.

Dalam beberapa kegiatan, HM bahkan memaksa aparatur desa untuk menandatangani laporan pertanggungjawaban, termasuk untuk kegiatan yang tidak pernah dilaksanakan. Beberapa perangkat desa yang menolak disebut mendapat ancaman pemecatan dari yang bersangkutan.

Baca Juga :  Dugaan Pengurangan Volume pada Proyek Bronjong Rp6,9 Miliar di Aceh Tenggara Kian Menguat

Penyidik juga menemukan sejumlah kegiatan yang tidak terdapat dalam dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Kute (APBK) 2022 dan 2023, serta tidak disertai bukti pertanggungjawaban belanja yang sah. Hal ini menguatkan dugaan bahwa pelaksanaan kegiatan tidak dilandasi mekanisme dan administrasi yang berlaku.

Atas perbuatannya, HM disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

HM ditahan selama 20 hari ke depan di Lapas Kelas IIB Kutacane untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut. Pihak Kejaksaan menyampaikan bahwa proses hukum akan terus dikembangkan, sambil mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang turut terlibat dalam kasus ini.

Langkah Kejari Aceh Tenggara ini mendapat perhatian luas dari masyarakat dan menjadi pengingat pentingnya transparansi dalam pengelolaan dana desa, yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat paling bawah pemerintahan.

Laporan : Salihan Beruh

Berita Terkait

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Dua Pria di Ketambe, 10 Paket Sabu Disita
18 Alat Berat Bantuan Pusat untuk Aceh Tenggara Rusak, Bupati Ngamuk: Jalan Baru Ditimbun Sudah Amblas Lagi
Banjir Kembali Rendam Desa Kuning I, Tanggul Menipis Warga Khawatir Gagal Panen dan Rumah Terendam
Tak Hujan Pun Banjir, Warga Desa Kuning 1 Kecewa Berat ke Pemerintah Aceh dan Titip Harapan ke Gubernur Jawa Barat KDM
Dari Persembunyian di Desa Simpang Semadam Hingga Meninggal di Rumah Sakit, Ada Apa Dalam 24 Jam Terakhir Hidupnya Ical
Buron 19 Bulan, Narapidana Lapas Kutacane Ditangkap di Rumahnya di Simpang Semadam
Yahdi Hasan Kawal Langsung Pemulangan Jenazah Warga Asal Aceh Tenggara dari Malaysia hingga Tiba di Kualanamu
Sidang Kedua Dugaan Korupsi Proyek Jembatan Silayakh Jilid II Agara Digelar, Jaksa Agendakan Pemeriksaan Saksi

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Progres Pembangunan Lima Unit RTLH Program TMMD ke-130 di Kodim 0113/Gayo Lues Capai 27 Persen

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:42 WIB

Jalan TMMD, Obat Luka Trauma Para Korban Bencana Alam

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Satgas TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Mulai Sasar Rehab MCK

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:10 WIB

PPPK Paruh Waktu Gayo Lues Sampaikan Dua Tuntutan Utama ke DPRK: Kepastian Mekanisme Peralihan PPPK Penuh Waktu serta Dorongan Kenaikan Gaji 50–100 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria 61 Tahun Bersama 63 Gram Ganja

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:01 WIB

Pembangunan Gorong-gorong Titik 1 Siap 90 Persen

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:38 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria Diduga Kurir Sabu di Durin

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:27 WIB

TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Kebut Pembangunan Jalan Huntara

Berita Terbaru