KUTACANE, WASPADA INDONESIA – Warga Kecamatan Darul Hasanah, Aceh Tenggara, bahu-membahu membangun jembatan darurat di Natam setelah jembatan rangka baja yang menjadi penghubung utama antara Kecamatan Badar dan Darul Hasanah putus akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada 10 Januari 2026. Putusnya jembatan ini menyebabkan akses transportasi terputus total bagi puluhan kute di dua kecamatan, memaksa warga dan pelajar menempuh perjalanan memutar puluhan kilometer melalui jembatan Mbarung di Kecamatan Babussalam dan Jembatan Gantung Lawe Pinis Srimuda.
Salah seorang warga Kecamatan Darul Hasanah, Irpansyah Putra, menuturkan bahwa sebelumnya masyarakat telah berinisiatif membangun jembatan darurat secara swadaya. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena hujan deras kembali mengguyur wilayah itu, sehingga jembatan alternatif yang baru dibangun kembali hanyut digerus arus Sungai Alas yang meluap. Tidak putus asa, warga kembali bergotong royong membangun jalan darurat menuju lokasi jembatan agar akses sementara dapat digunakan oleh masyarakat.
Irpansyah menegaskan pentingnya pembangunan jalan alternatif ini, mengingat banyak warga, termasuk anak-anak sekolah dan guru yang bertugas di Kecamatan Darul Hasanah dan Badar, sangat terdampak akibat harus menempuh jarak yang jauh memutar hingga puluhan kilometer. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan aktivitas pendidikan, tetapi juga berdampak pada sektor pertanian. Para petani di Kecamatan Darul Hasanah kini kesulitan membawa hasil bumi ke perkotaan karena harus memutar melalui jembatan Silayakh yang jaraknya sangat jauh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia berharap pemerintah dan Balai Wilayah Sungai dapat segera membangun tanggul pengaman di Sungai Alas serta memperbaiki jembatan rangka baja Natam agar dapat kembali dilalui seperti sediakala. Menurutnya, keberadaan tanggul pengaman yang kokoh sangat penting untuk mencegah jembatan kembali ambruk saat debit air Sungai Alas meningkat dan arus menjadi deras. Irpansyah menilai, pembangunan jembatan rangka baja saja tidak cukup tanpa adanya tanggul pengaman, karena arus sungai yang deras berpotensi kembali menghantam dan merusak jembatan.
Warga berharap upaya gotong royong yang mereka lakukan dapat menjadi perhatian pemerintah agar solusi permanen segera diwujudkan, sehingga aktivitas masyarakat, pendidikan, dan perekonomian di dua kecamatan tersebut dapat kembali berjalan normal.
Laporan : Salihan Beruh


































