KUTACANE, WASPADA INDONESIA | Hingga awal tahun 2026 ini, warga Desa Tanjung, Kecamatan Darul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara, masih harus berjuang menghadapi dampak dari bencana banjir besar yang melanda wilayah mereka pada tahun 2025 lalu. Kerusakan parah akibat banjir tersebut menyebabkan jembatan gantung Lawe Mamas yang menghubungkan desa dengan lahan perkebunan di seberang sungai terputus total. Belum adanya perbaikan hingga kini membuat aktivitas pertanian warga lumpuh dan menimbulkan beban ekonomi dan logistik yang berat bagi masyarakat setempat.
Jembatan gantung yang kini tinggal sisa-sisa kerangkanya itu sebelumnya memegang peran krusial bagi ratusan kepala keluarga yang sebagian besar menggantungkan hidup dari hasil kebun. Di seberang sungai terdapat lahan pertanian rakyat yang luas, ditanami kakao, karet, durian, manggis, langsat, jagung, serta berbagai jenis sayuran. Sebelum putus, jembatan itu menjadi satu-satunya sarana untuk mengangkut hasil panen ke desa, lalu dilanjutkan ke pasar-pasar di Kutacane dan sekitarnya.
Hasbi, salah seorang petani yang memiliki lahan di seberang sungai, saat ditemui di lokasi pada Selasa, 27 Januari 2026, menyampaikan keluhannya atas kondisi yang belum berubah sejak bencana terjadi. Menurutnya, sejak jembatan ambrol pada akhir 2025, warga kehilangan akses utama ke lahan pertanian. Hasil kebun yang sebelumnya mudah dibawa pulang kini menumpuk dan membusuk karena tidak bisa disebrangkan. Ia mengungkapkan harapan besar warga agar pemerintah segera mengambil langkah nyata membangun kembali jembatan tersebut. Ia menekankan bahwa tanpa keberadaan jembatan, kegiatan pertanian dan ekonomi warga nyaris lumpuh total.
Kesulitan serupa dirasakan oleh Animah, ibu rumah tangga sekaligus petani pekebun yang setiap musim buah mengandalkan hasil durian, langsat, dan manggis untuk menambah penghasilan keluarga. Ia mengisahkan bahwa sejak jembatan putus, biaya operasional meningkat tajam. Jika sebelumnya cukup membayar upah pemanjat buah, kini harus membayar lebih hanya untuk sekadar menyebrangkan hasil panen ke desa. Dalam beberapa kasus, warga bahkan harus menyewa perahu atau membuat rakit darurat dengan risiko keselamatan tinggi demi mempertahankan hasil tani mereka.
Sebagai langkah darurat, warga secara swadaya membangun jembatan sementara menggunakan tali kawat dan kayu sederhana. Namun, jembatan ini sangat terbatas dari segi kapasitas dan keamanan. Hanya bisa dilewati satu orang dalam satu waktu, bahkan tidak memungkinkan untuk membawa muatan berat seperti karung buah atau tumpukan kayu. Ketika arus sungai meninggi akibat hujan, warga tidak berani melintas karena takut terbawa arus.
Kondisi ini tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga menyulitkan mobilitas sehari-hari warga, termasuk urusan pendidikan dan kesehatan. Beberapa anak sekolah yang berasal dari arah kebun kini harus menginap di rumah kerabat di desa karena tidak memungkinkan menyeberang setiap hari. Bagi petani, keterpaksaan meninggalkan kebun dalam waktu lama juga mengancam produksi berkelanjutan, terutama tanaman seperti karet dan cokelat yang memerlukan pemeliharaan rutin.
Masyarakat berharap agar penanganan terhadap kerusakan infrastruktur vital seperti jembatan gantung Lawe Mamas segera menjadi perhatian utama pemerintah daerah dan pusat. Berbagai upaya telah dilakukan warga agar aspirasi mereka tersampaikan, termasuk menyampaikan laporan kepada aparatur desa yang diteruskan ke pemerintah kecamatan dan kabupaten. Namun hingga kini, belum ada kejelasan mengenai rencana pembangunan kembali jembatan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, warga Desa Tanjung terus berusaha mempertahankan semangat gotong royong. Namun mereka juga menyadari bahwa kemandirian masyarakat memiliki keterbatasan jika tidak disokong kebijakan dan perhatian serius dari pemerintah. Jika dalam waktu dekat tidak ada tindak lanjut pembangunan jembatan yang rusak, bukan tidak mungkin dampaknya akan meluas ke sektor lain, termasuk ancaman kerawanan pangan lokal dan kemiskinan struktural di kawasan tersebut.
Warga berharap agar tanggap darurat tidak hanya berhenti pada pemberian bantuan pascabencana, tetapi juga menyentuh pemulihan infrastruktur yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran negara melalui program pembangunan menjadi sangat dinantikan masyarakat pedalaman Aceh Tenggara yang hingga hari ini masih berjuang bertahan menghadapi dampak bencana tahun lalu.
Laporan : Salihan Beruh

































