Menyoroti Kelalaian Galian di Bekasi: Ketika Rakyat Harus Bertaruh Nyawa Akibat Lemahnya K3

hayat

- Redaksi

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:54 WIB

50170 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis: Mandor Baya Pemerhati Kebijakan Publik / Pengamat Pemerintahan Daerah_

​BEKASI – Insiden bocornya pipa gas milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN) akibat dihantam mata ekskavator pada proyek saluran air di Bekasi beberapa waktu lalu bukanlah sekadar kecelakaan teknis biasa. Peristiwa ini adalah alarm keras yang menelanjangi rapuhnya sistem pengawasan lapangan, lemahnya mitigasi risiko, serta ego sektoral yang masih mengakar kuat di tubuh birokrasi pemerintahan daerah.

​Publik Kota Bekasi sempat disuguhkan pemandangan yang mencekam: semburan gas membubung ke udara di tengah pemukiman akibat kelalaian alat berat. Beruntung tidak ada percikan api yang memicu bencana ledakan yang lebih masif. Namun, dampak sosial-ekonominya nyata—kemacetan mengular, kepanikan warga, hingga terhentinya pasokan energi ke sektor industri dan rumah tangga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Melihat dinamika ini dari kacamata tata kelola pemerintahan daerah, sangat keliru jika kita menyederhanakan persoalan ini sebagai human error atau kelalaian sekadar operator beko. Ini adalah kegagalan pengawasan yang bersifat sistemik. Ada rantai SOP yang sengaja dilangkahi, dan ada komunikasi antarinstansi yang berjalan secara ‘buta’.

*​Sorotan LSM Trinusa: Refleksi Keresahan Publik yang Objektif*

​Langkah taktis yang diambil oleh LSM Trinusa DPC Kota Bekasi di bawah komando Mandor Baya (Maksum Alfarizi) yang langsung mengkritisi insiden ini patut diacungi jempol. Kritik mereka bukan sekadar bumbu penyedap dalam dinamika politik lokal, melainkan fungsi kontrol sosial (social control) yang sangat absah dan objektif. Ketika Mandor Baya mempersoalkan mengapa proyek daerah bisa berjalan tanpa koordinasi matang hingga merusak utilitas vital, ia sedang menyuarakan hak keselamatan jutaan warga Bekasi.

Baca Juga :  Kemenangan Keadilan: Ketua Umum LSM Trinusa Dinyatakan Bebas, Loyalitas Anggota Terbukti

​Bagaimana mungkin, sebuah proyek infrastruktur kedinasan yang didanai oleh APBD dikerjakan tanpa memegang peta utilitas bawah tanah (as-built drawing) yang valid? Di era modern dengan teknologi pemetaan digital yang melimpah, membiarkan alat berat mengeruk tanah tanpa pendampingan tim teknis dari pemilik utilitas (PGN) adalah bentuk kecerobohan birokrasi yang tak bisa ditoleransi.

​Miskomunikasi dalam sebuah proyek publik senilai ratusan juta atau miliaran rupiah bukanlah sebuah pembenaran. Dalam terminologi good governance, istilah “miskomunikasi” sering kali hanya menjadi tameng pelindung dari ketidakkompetenan pengawasan.

*​Di Mana Fungsi Konsultan Pengawas dan Dinas Terkait?*

​Dalam aturan main proyek fisik daerah, pemerintah telah membentuk sistem pengamanan berlapis. Ada kontraktor pelaksana yang wajib menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Ada Konsultan Pengawas yang dibayar mahal oleh negara untuk memelototi setiap jengkal pekerjaan di lapangan. Serta ada Pengawas Lapangan dari Dinas terkait selaku pemilik proyek.

Baca Juga :  TRINUSA GERUDUK KEJARI DAN BAPENDA KOTA BEKASI, DESAK KEJELASAN TINDAK LANJUT TEMUAN BPK SOAL PAJAK HOTEL

​Pertanyaannya sederhana, ke mana mereka semua saat ekskavator itu mulai mengayunkan kuku bajanya di atas jalur pipa gas bertekanan tinggi?

​Absennya pengawas di lokasi membuat kontraktor kerap memotong kompas demi mengejar target waktu, tanpa memedulikan keselamatan lingkungan.

Kehadiran tim pengawas dinas disinyalir sering kali hanya formalitas administratif di atas kertas laporan bulanan, bukan kehadiran substantif yang menjaga keselamatan publik di lapangan.

​Penyakit Menahun: ‘Silo Mentality’ Birokrasi
​Penyakit menahun di birokrasi kita adalah silo mentality—pola pikir tersekat-sekat di mana setiap instansi merasa berdaulat di kamarnya masing-masing tanpa mau melihat sebelah rumah. Dinas pengampu proyek merasa urusan galian saluran air adalah mutlak otoritas mereka, sementara urusan pipa bawah tanah adalah urusan PGN semata.

​Padahal, ruang bawah tanah di ruang publik adalah ruang bersama. Sebelum roda ekskavator berputar, wajib hukumnya dilakukan koordinasi pra-konstruksi yang matang. Jika ego sektoral ini terus dipelihara, jangan heran jika besok atau lusa, bukan hanya pipa gas yang jebol, melainkan kabel serat optik internet, pipa PDAM, atau kabel tegangan tinggi PLN yang akan menjadi korban berikutnya.

Berita Terkait

TRINUSA GERUDUK KEJARI DAN BAPENDA KOTA BEKASI, DESAK KEJELASAN TINDAK LANJUT TEMUAN BPK SOAL PAJAK HOTEL
​Relawan Cahaya Bekasi Sambut Hangat Asep Surya Atmaja Jadi Bupati Definitif: Momentum Tancap Gas Pembangunan
Bekasi Student Futsal Cup 2026 Diikuti 22 Tim, Prasetyo Ajak Pelajar Jauhi Tawuran dan Raih Prestasi
Jaga Independensi, AKPERSI Jalin Komunikasi dengan Bawaslu Bekasi
Fasilitas Publik Jadi Ladang Bisnis Pejabat, Mandor Baya Desak Kejari Bekasi Usut Aliran Duit Haram MCK Pasar
Menakar Keabsahan WTP Kota Bekasi – Jangan Jadikan Opini BPK Sebagai Tameng Penyimpangan
Di Balik Klaim 100% LHKPN Pemkot Bekasi: Oknum Disdagperin “R” Diseret ke Kejagung dan KPK Atas Dugaan Korupsi Aset Pasar
Ada Apa dengan Kasus Tersangka DLH Bekasi? Usai Surati BPPHLHK, TRIGA Nusantara Siap Bawa Persoalan ke Kejagung dan KPK

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 23:46 WIB

Penanganan Sumbatan di Jembatan Kuning I Aceh Tenggara Dinilai Lamban, Kalaksa BPBD Keluhkan Koordinasi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 23:37 WIB

Polemik Penugasan PPPK Paruh Waktu di Dinkes Aceh Tenggara Berbuntut Desakan Pencopotan Kadinkes

Jumat, 30 Oktober 2026 - 23:32 WIB

Proyek Irigasi Rp9,28 Miliar di Aceh Tenggara Pertanyakan, Pengawas dan Pelaksana Tak Terlihat di Lokasi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 23:18 WIB

Di Tengah Kepungan Banjir Desa Kuning, Kehadiran Kapolres Jadi Penguat yang Tak Ternilai

Jumat, 30 Oktober 2026 - 22:47 WIB

Wakil Bupati Aceh Tenggara Hadiri Kenduri Tolak Bala di Lokasi Tanggul Jembatan Natam

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:37 WIB

Merajut Kebersamaan, Waka Polres Aceh Tenggara Turun Langsung Ajak Warga Perapat Hulu Perangi Narkoba dan Maling

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:35 WIB

Bupati Aceh Tenggara Ingatkan Warga: Jangan Pilih Calon Pengulu Pemakai Narkoba dan Penjudi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:14 WIB

Penjelasan Lengkap Lapas Kutacane Soal Meninggalnya Ishak Alias Ical Sehari Setelah Diamankan dari Pelarian

Berita Terbaru