KUTACANE – WASPADA INDONESIA– Ada sebuah pesan yang tak terucap namun terasa sangat kental saat kaki melangkah di pelataran Mapolres Aceh Tenggara, Rabu (18/3/2026). Di tengah hiruk-pikuk persiapan pengamanan menjelang Idul Fitri, sebuah momen sederhana justru menjadi oase yang menyejukkan.
Kapolres Aceh Tenggara, AKBP Yulhendri, S.H., S.I.K., M.I.K., memilih berhenti sejenak dari tumpukan berkas operasional untuk merajut kembali simpul-simpul kemanusiaan bersama para pencari berita.
Pertemuan sore itu bukan sekadar seremoni serah terima bingkisan. Di atas meja yang tertata rapi, deretan paket sirup berdiri bukan hanya sebagai komoditas, melainkan sebagai simbol “pemanis” silaturahmi yang telah lama mengakar di Bumi Sepakat Segenap.
Bagi AKBP Yulhendri, wartawan adalah detak nadi informasi yang tak terpisahkan dari institusi Polri. Di balik seragam cokelat yang gagah, ia menunjukkan sisi seorang sahabat yang memahami bahwa perjuangan rekan-rekan media di lapangan seringkali melampaui batas waktu dan tenaga.

Khusus untuk rekan-rekan wartawan, memang ada sedikit paket lebaran yang saya bagikan. Jangan dilihat dari nilainya, namun lihatlah ini sebagai simbol bahwa kita adalah keluarga yang saling menguatkan. Kepedulian ini adalah bentuk rasa sayang kami kepada mitra kerja yang tak kenal lelah membantu mempublikasikan
kebaikan untuk masyarakat,” ungkap Yulhendri dengan sorot mata yang tulus.
Kalimat tersebut bukan sekadar basa-basi pejabat. Ada pengakuan mendalam terhadap profesi jurnalis sebagai penjaga gawang kebenaran. Di tengah dinamika wilayah yang menuntut transparansi, kedekatan personal seperti ini menjadi fondasi agar komunikasi antara penegak hukum dan publik tetap mengalir jernih, sejernih sirup yang dibagikan.
Suasana kaku yang biasanya menyelimuti markas kepolisian seketika luruh, berganti dengan diskusi hangat dan tawa renyah. Paket-paket yang berpindah tangan itu menjadi pengikat moral bahwa di Aceh Tenggara, sinergitas bukan sekadar slogan di baliho, melainkan aksi nyata yang menyentuh ruang-ruang privat di meja makan keluarga para wartawan saat lebaran nanti.
Ketika mentari mulai condong ke barat, para kuli tinta pun berpamitan. Mereka pulang tidak hanya membawa tentengan bingkisan, tetapi membawa sebuah narasi besar: bahwa keamanan daerah tidak hanya dibangun dengan senjata dan patroli, tetapi juga dengan segelas rasa hormat dan kepedulian terhadap sesama manusia yang berjuang di jalan yang sama. ( junaidi sekian)





































