Pelaku Penyembelihan Ustad Diduga Ulangi Aksi Kekerasan di Aceh Tenggara, Wartawan Jadi Sasaran

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:09 WIB

50187 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUTACANE — Tindak kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi di Kabupaten Aceh Tenggara. Seorang wartawan yang menjabat sebagai kepala biro media daring berinisial S menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh pria berinisial Az. Peristiwa itu terjadi di sebuah warung kopi di Desa Lawe Sagu Hulu, Kecamatan Lawe Bulan, pada Jumat, 1 Mei 2026, sekitar pukul 10.00 WIB.

Insiden ini tidak hanya menjadi catatan kelam bagi kebebasan pers di daerah, tetapi juga memunculkan kekhawatiran publik yang lebih luas. Pasalnya, terduga pelaku Az (40) disebut-sebut memiliki rekam jejak kriminal berat di masa lalu. Pelaku penyembelihan ustad dulu, kini diduga kembali melakukan kekerasan dengan menganiaya seorang wartawan. Keberulangan tindakan ini memicu keresahan masyarakat sekaligus mempertanyakan efektivitas pengawasan terhadap mantan pelaku tindak pidana berat.

Saat kejadian, korban tengah duduk seorang diri di Warung R, menikmati kopi sambil memeriksa telepon genggam. Suasana warung relatif sepi, berbeda dengan kedai di sebelah yang ramai pengunjung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut keterangan korban, pelaku datang dengan sepeda motor lalu langsung menghampiri dan melontarkan teguran keras bernada intimidatif, melarang korban berada di lokasi tersebut. Korban yang terkejut mencoba merespons secara tenang dengan meminta maaf dan menanyakan alasan pelaku.

Namun, respons tersebut tidak meredakan situasi. Pelaku justru bertindak agresif. Gelas kaca dan piring yang berada di atas meja diraih lalu dihantamkan ke arah wajah korban hingga mengenai rahang kanan. Serangan berlanjut ketika pelaku mengambil batu dan memukulkannya ke bagian belakang telinga serta bahu korban.

Dalam kondisi terdesak, korban berusaha menghindar dan sempat melakukan perlawanan dengan merebut batu dari tangan pelaku. Pelaku sempat terjatuh, tetapi kembali bangkit dalam kondisi emosi yang tidak terkendali.

Baca Juga :  Ruangan Staf Dan Ruangan Arsip di Kantor KUA Babussalam Sangat butuh Untuk Drenopasi

Keributan tersebut memancing perhatian warga sekitar. Sejumlah warga dari warung kopi sebelah, termasuk tokoh adat setempat berinisial R, segera datang melerai. Intervensi warga menjadi faktor penting yang mencegah terjadinya luka yang lebih fatal terhadap korban.

Korban mengaku tidak memahami motif penyerangan tersebut. Ia menyebut sebelumnya telah beberapa kali menerima teror dan larangan dari pelaku untuk tidak berada di warung kopi tertentu di desa tersebut.

“Tidak jelas apa masalahnya. Saya sudah mencoba menghindar dan meminta maaf, tetapi tetap diserang,” ujar korban.

Peristiwa ini kemudian dilaporkan secara resmi ke Kepolisian Resor Aceh Tenggara. Berdasarkan dokumen yang diperoleh, laporan tersebut tercatat dalam Surat Tanda Laporan Pengaduan Nomor Reg/176/V/2026/Satreskrim tertanggal 2 Mei 2026. Dalam laporan itu dijelaskan bahwa korban mengalami pemukulan menggunakan gelas kaca dan piring masing-masing 1 kali ke bagian rahang kanan, serta pukulan menggunakan batu ke bagian belakang telinga dan bahu kanan.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka memar, lecet pada rahang kanan, serta nyeri pada bagian telinga dan bahu. Hal ini diperkuat dengan hasil pemeriksaan medis. Korban telah menjalani visum di fasilitas kesehatan, yang dibuktikan dengan dokumen pembayaran pemeriksaan visum pada 1 Mei 2026 sebesar Rp100.000.

Identitas terlapor dalam laporan tersebut tercatat berinisial Az, laki-laki berusia sekitar 40 tahun, berprofesi sebagai petani dan berdomisili di Desa Lawe Sagu Hulu, Kecamatan Lawe Bulan.

Ironi muncul ketika latar belakang pelaku mulai terungkap. Informasi yang berkembang di tengah masyarakat menyebutkan bahwa pelaku diduga merupakan residivis dalam kasus pembunuhan terhadap seorang ustad di masa lalu. Hal ini menimbulkan kecemasan kolektif serta memicu diskursus serius mengenai potensi berulangnya tindakan kekerasan oleh individu dengan riwayat kriminal berat.

Baca Juga :  Perkuat Sinergi dan Kebersamaan, Kapolres Aceh Tenggara Tatap Muka dan Silaturahmi Bersama Bhayangkari Se-Cabang Aceh Tenggara

Bagi kalangan pers dan pegiat sosial, peristiwa ini tidak hanya dipandang sebagai tindak penganiayaan semata, tetapi juga sebagai ancaman terhadap kebebasan pers. Posisi korban sebagai jurnalis yang aktif di tengah masyarakat dinilai membuat kasus ini memiliki dimensi yang lebih luas dalam konteks perlindungan profesi.

Sejumlah kalangan mendesak Polres Aceh Tenggara untuk segera menangkap dan menahan pelaku. Penahanan dinilai penting guna mencegah potensi kekerasan lanjutan serta memberikan rasa keadilan bagi korban.

Secara hukum, tindakan tersebut telah memenuhi unsur pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan. Selain itu, tindakan kekerasan terhadap jurnalis juga bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang menjamin kemerdekaan pers serta perlindungan terhadap wartawan dalam menjalankan tugasnya.

Pimpinan media tempat korban bekerja turut mendesak aparat kepolisian agar segera bertindak cepat dengan menahan dan memproses pelaku sesuai hukum yang berlaku. Langkah tegas dinilai penting untuk memberikan efek jera serta menjamin keamanan jurnalis di lapangan.

Hingga berita ini diturunkan, pelaku berinisial Az dilaporkan belum diamankan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik terkait keseriusan penegakan hukum, khususnya dalam kasus yang melibatkan individu dengan rekam jejak kekerasan. Kasus ini kini menjadi ujian bagi aparat penegak hukum di Aceh Tenggara untuk memastikan bahwa hukum ditegakkan secara adil dan tegas, serta tidak memberi ruang bagi tindakan kekerasan berulang di tengah masyarakat. (RED)

Berita Terkait

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Dua Pria di Ketambe, 10 Paket Sabu Disita
18 Alat Berat Bantuan Pusat untuk Aceh Tenggara Rusak, Bupati Ngamuk: Jalan Baru Ditimbun Sudah Amblas Lagi
Banjir Kembali Rendam Desa Kuning I, Tanggul Menipis Warga Khawatir Gagal Panen dan Rumah Terendam
Tak Hujan Pun Banjir, Warga Desa Kuning 1 Kecewa Berat ke Pemerintah Aceh dan Titip Harapan ke Gubernur Jawa Barat KDM
Dari Persembunyian di Desa Simpang Semadam Hingga Meninggal di Rumah Sakit, Ada Apa Dalam 24 Jam Terakhir Hidupnya Ical
Buron 19 Bulan, Narapidana Lapas Kutacane Ditangkap di Rumahnya di Simpang Semadam
Yahdi Hasan Kawal Langsung Pemulangan Jenazah Warga Asal Aceh Tenggara dari Malaysia hingga Tiba di Kualanamu
Sidang Kedua Dugaan Korupsi Proyek Jembatan Silayakh Jilid II Agara Digelar, Jaksa Agendakan Pemeriksaan Saksi

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Progres Pembangunan Lima Unit RTLH Program TMMD ke-130 di Kodim 0113/Gayo Lues Capai 27 Persen

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:42 WIB

Jalan TMMD, Obat Luka Trauma Para Korban Bencana Alam

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 12:16 WIB

Satgas TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Mulai Sasar Rehab MCK

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:10 WIB

PPPK Paruh Waktu Gayo Lues Sampaikan Dua Tuntutan Utama ke DPRK: Kepastian Mekanisme Peralihan PPPK Penuh Waktu serta Dorongan Kenaikan Gaji 50–100 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria 61 Tahun Bersama 63 Gram Ganja

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:01 WIB

Pembangunan Gorong-gorong Titik 1 Siap 90 Persen

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:38 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria Diduga Kurir Sabu di Durin

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:27 WIB

TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Kebut Pembangunan Jalan Huntara

Berita Terbaru