JAKARTA | Pada pagi yang hangat di Jakarta, Kamis (23/4/2026), Bupati Aceh Tenggara, HM Salim Fakhry, SE, MM, bersama Kepala Dinas Sosial Bahagia Wati melangkah pasti menuju gedung Kementerian Sosial. Kedatangan mereka bukan sekadar urusan dinas, melainkan mengusung misi besar: menyiapkan masa depan generasi muda Aceh Tenggara melalui pembangunan Sekolah Rakyat, sebuah sekolah berasrama gratis sebagai program prioritas nasional.
Audiensi berlangsung di hadapan Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial, Robben Rico. Dalam pertemuan itu, Bupati Salim Fakhry menyerahkan langsung laporan kesiapan lahan, menandai komitmen serius pemerintah daerah. Tak sekadar formalitas, audiensi yang turut dihadiri anggota DPRK Agara itu merupakan tonggak penting dalam upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi—persoalan klasik yang masih melingkupi banyak wilayah, termasuk Aceh Tenggara.
Dari ruang pertemuan, semangat itu mengalir deras. “Kami Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara sangat mendukung penuh gagasan cerdas Bapak Presiden Prabowo Subianto, untuk memuliakan warga kurang mampu melalui jalur pendidikan dengan konsep pendidikan gratis dan boarding school,” ujar Bupati Salim. Baginya, Sekolah Rakyat adalah lebih dari sekadar bangunan, melainkan wujud nyata kehadiran negara bagi rakyat yang kerap tertinggal. Harapannya sederhana namun menyentuh: program ini akan membuka peluang emas untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara nasional, Sekolah Rakyat merupakan bagian dari strategi pemerintah pusat menghadirkan pendidikan unggulan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Menurut data Badan Pusat Statistik, Aceh Tenggara masih tercatat sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan cukup tinggi. Keterbatasan akses pendidikan, minimnya sarana, dan tingginya angka putus sekolah terus menjadi tantangan. Dengan hadirnya Sekolah Rakyat, pemerintah berupaya memutus hambatan itu sehingga tidak ada lagi anak-anak yang gagal menempuh pendidikan karena kendala ekonomi.
Dukungan dari Kementerian Sosial juga tidak setengah hati. Sekjen Robben Rico menegaskan, “Pemerintah pusat membutuhkan komitmen daerah. Kesiapan lahan, tenaga pengajar, dan lingkungan sekolah yang kondusif sangat penting untuk menjamin keberhasilan program ini.” Untuk itu, laporan kesiapan lahan dan rencana sarana pendukung dari pemerintah Aceh Tenggara menjadi kabar baik yang disambut positif.
Aceh Tenggara telah menyiapkan lahan yang strategis, mudah diakses, dan memenuhi kriteria untuk mendukung seluruh proses belajar-mengajar serta asrama. Selain itu, perencanaan pembangunan ruang kelas, asrama, fasilitas olahraga hingga dapur sehat juga sudah ikut dipaparkan dalam pertemuan tersebut.
Kehadiran Sekolah Rakyat ditunggu banyak pihak, terutama keluarga prasejahtera. Program ini menjanjikan pembebasan biaya sekolah, asrama, makan, transportasi, hingga kebutuhan seragam. Anak-anak dari keluarga kurang mampu kini semakin leluasa bermimpi dan membangun masa depan. Pemerintah menargetkan dalam waktu dekat, tidak ada lagi anak Aceh Tenggara yang berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi.
Audiensi kali itu menghasilkan satu keputusan penting: pembahasan teknis pembangunan Sekolah Rakyat di Aceh Tenggara segera dilakukan. Tim gabungan dari kementerian dan kabupaten akan merumuskan langkah-langkah detail rancangan pelaksanaan.
Langkah Bupati Aceh Tenggara ini terbukti menjadi mata rantai utama dalam pemutusan kemiskinan sejak hulu. Di tengah keterbatasan dan tantangan yang tak ringan, sebuah harapan baru benar-benar menyala. Melalui Sekolah Rakyat, Aceh Tenggara kini menapaki jalan untuk mewujudkan generasi muda yang cerdas, mandiri, dan mampu mengangkat derajat keluarganya menuju masa depan yang terang.
Laporan : Salihan Beruh



































