Video Pria Asal Aceh Diduga Hina Nabi Muhammad Viral, GP Ansor: Ini Cermin Krisis Moral dan Pemahaman Agama

Waspada Indonesia

- Redaksi

Kamis, 9 Oktober 2025 - 17:01 WIB

50463 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

https://www.instagram.com/p/DPk_Am1j7_O/

BANDA ACEH  — Sebuah video yang diunggah di media sosial TikTok memicu kontroversi nasional setelah seorang pria asal Aceh mengaku berpindah agama dari Islam ke Kristen dan menyampaikan pernyataan yang diduga menghina Nabi Muhammad dan para mualaf. Video tersebut mengundang reaksi luas, terutama dari kalangan tokoh keagamaan di Aceh, yang mengecam keras isi konten tersebut.

Video berdurasi singkat yang diunggah melalui akun TikTok @tersadarkan5758 itu hingga Kamis (9/10/2025) telah ditonton sebanyak 1,9 juta kali. Dalam video tersebut, pria itu menjelaskan alasannya keluar dari Islam, namun disampaikan dengan narasi yang diduga melecehkan simbol-simbol suci umat Islam. Video itu dengan cepat menyebar di media sosial, dan kolom komentarnya dibanjiri kecaman dari berbagai kalangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Banda Aceh, Saiful Amri, menilai konten tersebut sebagai bentuk krisis moral dan pemahaman keagamaan yang semakin meresahkan. Ia menyebut, Aceh sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam seharusnya tidak menjadi tempat lahirnya narasi-narasi kebencian terhadap agama.

“Fenomena ini sangat memprihatinkan. Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah, tapi justru dari sini muncul konten yang menistakan agama dan mempermainkan simbol-simbol keislaman. Ini bukan hanya soal pelanggaran hukum, tapi juga cermin krisis moral dan pemahaman agama yang serius,” ujar Saiful dalam keterangan tertulis.

Baca Juga :  Dana Otsus Dipangkas, SAPA Minta Pemerintah Pusat Tidak Khianati Aceh

Ia menilai bahwa kebebasan berekspresi di ruang digital saat ini sering kali disalahartikan, sehingga melahirkan konten-konten yang melanggar nilai-nilai keberagaman dan etika bermedia. Menurutnya, tindakan pelaku bukan saja bertentangan dengan norma sosial dan hukum, tetapi juga bisa memicu perpecahan di tengah masyarakat.

“Kami mendukung kebebasan berpendapat, tapi bukan kebebasan untuk menghina agama. Jika dibiarkan, hal seperti ini akan menciptakan efek domino. Generasi muda bisa melihat ini sebagai hal normal untuk memperolok sesuatu yang sakral,” ucapnya.

GP Ansor mendesak aparat kepolisian, khususnya Polda Aceh, agar segera melakukan penelusuran dan proses hukum terhadap kasus tersebut. Penegakan hukum yang tegas, menurut Saiful, sangat dibutuhkan untuk memberikan efek jera dan menjadi pelajaran bagi pengguna media sosial lainnya.

“Kami minta Polda Aceh bertindak cepat. Jangan sampai keresahan masyarakat semakin meluas. Penegakan hukum yang tegas akan menjadi pembelajaran dan efek jera bagi siapa pun yang mencoba menistakan agama,” kata Saiful.

Baca Juga :  Dinsos Aceh Dan Kemenag Jalin Kerjasama Pembinaan Rohani Anak

Meski begitu, ia meminta masyarakat tetap menjaga ketenangan dan tidak terpancing provokasi. Menurutnya, tindakan main hakim sendiri sangat berbahaya dan bisa memperluas dampak negatif dari isu yang ada. Ia juga mengajak masyarakat untuk memperkuat literasi digital dan memperdalam pemahaman agama yang moderat dan inklusif.

“Kita harus introspeksi. Mengapa dari Aceh, yang dikenal dengan Syariat Islam-nya, bisa muncul konten seperti ini? Ini sinyal bahwa kita perlu memperkuat pendidikan agama dan karakter, terutama di kalangan anak muda,” ujarnya.

Hingga saat ini, pihak Kepolisian Daerah Aceh belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait perkembangan kasus tersebut. Namun, sejumlah laporan masyarakat dipastikan telah masuk dan sedang diproses.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa ruang digital saat ini tak hanya menjadi tempat berinteraksi, tetapi juga ruang pembentukan opini publik yang dapat berdampak luas. Literasi digital yang rendah dan pemahaman agama yang sempit dapat melahirkan konten-konten yang merusak sendi-sendi kebersamaan dan toleransi.

Berita Terkait

Syahbudin Padang: Jangan Diskriminasi Media yang Belum Terverifikasi Dewan Pers
Kekompakan Forkopimda Aceh Kunci Pemulihan dan Pembangunan
Putra Aceh Pemersatu! Kapolda Marzuki Rangkul Mualem, Sekda dan Ketua DPRA di Momen Haru Pelepasan Haji
IWOI Aceh Desak Evaluasi Dana Pokir, Minta APH Perketat Pengawasan
TEROR TERHADAP WARTAWAN FRN ACEH MAKIN BRUTAL! Agus Suriadi Minta Kapolda Perintahkan Kapolres Subulussalam Ringkus Semua Pelaku, Dari OTK Hingga Dalang Intimidasi di Kantor Desa
Transformasi ‘Asabiyyah’ di Era Algoritmik dan Dampaknya Terhadap Polarisasi Sosial-Politik Indonesia
Aktivis Kritik Pengelolaan Anggaran Pemkot Banda Aceh, Soroti Pemborosan hingga Desak Penyelidikan
SEKDA Aceh Jebak Muallem dengan Kebijakan JKA

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 19:39 WIB

Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80, Polres Tanggamus Gelar Berbagai Perlombaan untuk Masyarakat

Selasa, 2 Juni 2026 - 14:20 WIB

Kasus Penyerobotan Tanah di Bulok : Sudah Setahun Diproses, Belum Ada Titik Terang, Polres Sampaikan Jadwal Tahap Berikutnya

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:40 WIB

Wakil Bupati Tanggamus Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:38 WIB

Sempat Tersesat di Gunung Tanggang, Kapolsek Limau Pastikan Pendaki Asal Bandar Lampung Ditemukan Selamat

Senin, 1 Juni 2026 - 19:34 WIB

DPC LSM Trinusa Tanggamus Soroti Lambannya Inspektorat Tangani Dugaan Penyimpangan Anggaran DD dan BUMDes 2024 Di Pekon Taman Sari

Senin, 1 Juni 2026 - 09:47 WIB

Pancasila Bukan Sekadar Dasar Negara, Melainkan Jiwa Bangsa

Senin, 1 Juni 2026 - 09:42 WIB

Pancasila Bukan Sekadar Dasar Negara, Melainkan Jiwa Bangsa

Sabtu, 30 Mei 2026 - 12:35 WIB

LSM JATI Desak Transparansi Anggaran MAN 1 Kota Agung, Soroti DIPA 2025 dan Dugaan Anomali LHKPN Kepala Sekolah

Berita Terbaru

LAMPUNG UTARA

PANGDAM XXI/RI : PERKUAT SILATURAHMI DAN KEBERSAMAAN

Minggu, 7 Jun 2026 - 09:47 WIB