Mengendus Bau Busuk di Tepi Sungai Gunung Kasih: Proyek APBD Provinsi, Kualitas Nol, Dugaan Korupsinya Maksimal

hayat

- Redaksi

Jumat, 21 November 2025 - 21:46 WIB

50146 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TANGGAMUS—Di Kabupaten Tanggamus, di mana alam masih menyimpan rona hijaunya, sebuah proyek APBD dengan nilai fantastis Rp 2,2 miliar sedang mempertontonkan sebuah masterpiece ironi. Proyek perkuatan tebing sungai di Pekon Gunung Kasih, Kecamatan Pugung, yang didanai dari kantong rakyat melalui APBD Provinsi 2025, tak hanya diduga sarat penyimpangan material, tetapi juga secara kasatmata mengabaikan “kemewahan” bernama Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi para pekerjanya.

​Seolah-olah anggaran dua koma dua miliar hanya cukup untuk membangun tembok beton, tetapi tidak mampu membeli helm dan rompi pelindung yang harganya mungkin tak sampai 0,001% dari nilai proyek.

*​Tembok Ambisi dan Nafas Sungai yang Terampas*

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Proyek yang dikerjakan oleh CV. Angkatan Sepuluh dengan waktu pengerjaan yang amat santai 120 hari kalender ini, secara heroik sedang memaksa sungai untuk “beradab” dengan memagarinya. Alih-alih mencari solusi ekologis yang ramah, yang tentu saja terlalu merepotkan, pilihan jatuh pada tembok kaku. Ini adalah tindakan elegan dalam merampas hak sungai untuk bernapas dan bergerak secara alami—demi sebuah janji palsu tentang pencegahan erosi.

*​Menjual Nyawa Murah di Bawah Pengawasan Nol*

​Pemandangan paling menggugah adalah para pekerja. Terpantau di lokasi, nampak jelas para punggawa proyek ini dengan gagah berani mempertaruhkan nyawa tanpa satu pun alat pelindung diri standar. Helm, rompi reflektor, sepatu pelindung? Barang-barang “primitif” itu seolah dianggap sebagai aksesori yang tidak perlu oleh kontraktor.

Baca Juga :  Polres Tanggamus Perketat Pengamanan Objek Wisata Selama Libur Lebaran 2025

Ketika nilai proyek mencapai miliaran, keselamatan satu nyawa pekerja tampaknya dihargai lebih murah daripada satu karung semen. Ini adalah cara cerdas untuk menghemat anggaran—mengorbankan potensi cedera atau nyawa demi efisiensi keuntungan.

​Ironisnya, di tengah tontonan kerja yang mengabaikan K3 ini, justru sosok-sosok penting yang seharusnya bertanggung jawab malah memilih untuk berlibur. Ketika pewarta turun gunung untuk meninjau lokasi, pelaksana dan pengawas pekerjaan sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Jum’at (21/11/2025)

​”Yang punya pekerjaan orang Talang Padang, tapi orangnya tidak pernah turun ke lapangan,” ungkap salah satu pekerja.

Ini adalah manajemen proyek kelas dewa: menyerahkan pekerjaan vital bernilai miliaran sepenuhnya pada nasib dan tangan pekerja, tanpa perlu repot-repot melakukan pengawasan lapangan.

*​Dugaan Penyimpangan: Semen Misterius dan Batu Putih Pilihan*

​Kondisi proyek semakin “menarik” dengan munculnya bisikan-bisikan nakal tentang kualitas material. Pemasangan batu talud yang dilakukan di tengah genangan air, yang berisiko merusak kekuatan pondasi, tampaknya dianggap sebagai teknik konstruksi inovatif. Berhembus kabar bahwa semen yang digunakan bukanlah standar mutu, melainkan semen “misterius”, dan batu yang dipakai adalah batu putih yang diduga tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang seharusnya.

*​Akuntabilitas yang Menguap dan “Apresiasi” dari Preman*

​Ketika rantai pertanggungjawaban mulai dicari, yang muncul hanyalah lempar tanggung jawab yang apik. Kepala Pekon, yang rumahnya didatangi pewarta untuk dimintai keterangan, tidak banyak memberikan kontribusi informasi, melainkan hanya sebuah pengakuan pasif:

Baca Juga :  Wartawan Ungkap Dugaan Korupsi di Tanggamus, Respons Grup WA: Dikeluarkan, Upaya Pembungkaman???

“Proyek ini dari gubernur, kita hanya mengusul aja untuk pembangunan penanggulangan sungai, itu pun sudah sering kita ajukan baru ini realisasi,” paparnya.

​Singkat kata: “Kami hanya pengusul, bukan penanggung jawab.”

​Namun, sesi wawancara yang santai itu mendadak mendapatkan “apresiasi” tak terduga. Di tengah perbincangan, muncul beberapa orang yang diduga preman, yang diklaim sebagai pengamanan proyek. Mereka tidak terima dengan kehadiran pewarta, lantas melontarkan ucapan dan gaya preman yang memancing dan mengintimidasi.

​Luar biasa! Proyek ini bukan hanya minim pengawasan teknis dan kualitas, tetapi juga dilengkapi dengan ‘tim pengamanan’ yang siap menjamin ketidaktransparanan dengan cara-cara yang paling klasik dan mengancam. Jika pembangunan infrastruktur harus ‘diamankan’ dengan ancaman, ini bukan lagi proyek masyarakat, tapi proyek yang memiliki banyak hal untuk disembunyikan.

*Solusi atau Masalah Baru?*

​Pada akhirnya, proyek perkuatan tebing di Gunung Kasih ini berdiri sebagai monumen yang mengingatkan kita: pembangunan yang sejati bukanlah sekadar membangun tembok, melainkan menjamin keseimbangan alam, menghormati hak pekerja, dan—terutama—menjaga transparansi anggaran.

​Pertanyaan yang menggantung adalah: Apakah ini benar-benar solusi atas erosi, atau hanya masalah baru yang sengaja kita tanam dan biarkan tumbuh subur di bawah naungan anggaran daerah? Masyarakat Tanggamus layak mendapatkan jawaban, dan kemewahan transparansi yang telah mereka bayar mahal melalui pajak.

(Hayat)

Berita Terkait

Revitalisasi Rp.638 Juta, Kepala Sekolah dan Dinas Sembunyikan Apa? Hak Tanah Juga Misteri
LSM TRINUSA Cium Dugaan Korupsi Dana Desa di Pekon Suka Banjar Kecamatan Cukuh Balak Tanggamus, Desak Aparat Penegak Hukum Usut Tuntas
LSM JATI: Ditemukan Dugaan Penyimpangan Anggaran Pekon Gedung Kecamatan Cukuh Balak Kabupaten Tanggamus
Kesigapan Polsek Kota Agung Dibantu Warga, Anak Tunarungu yang Sempat Hilang di Berhasil Ditemukan dengan Selamat
Konferensi Pers Rilis Akhir Tahun 2025, Polres Tanggamus Paparkan Capaian Kinerja dan Strategi Kamtibmas
Dibantu Warga dan Tekab 308, Polsek Kota Agung Amankan Dua Pelaku Curanmor
LSM TRINUSA Cium Aroma Kuat Dugaan Korupsi Dana Desa di Pekon Tanjung Betuah, Tanggamus
Terjunkan Personel Pengamanan Pilkakon PAW Sinar Jawa dan Tiuh Memon, Ini Pesan Kapolres Tanggamus

Berita Terkait

Jumat, 16 Januari 2026 - 04:47 WIB

Kapolda Riau Silaturahmi dengan Komisi III DPRD Provinsi Riau, Bahas Tumpang Tindih Aplikasi 

Jumat, 16 Januari 2026 - 03:37 WIB

Lapas Pekanbaru Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Ikuti Panen Raya Serentak Kemenimipas

Jumat, 16 Januari 2026 - 02:26 WIB

SD 149 Rumbai Bangga Bersama Polda Riau Ajarkan Ekolinguistik Melalui THH kepada Generasi Muda, Seperti Apa Yah?

Jumat, 16 Januari 2026 - 01:26 WIB

Ketua Panitia Natal Agung Fany Jossy Kusumo: Kapolda Hadir Berpesan Jaga Alam Jaga Masa Depan

Rabu, 14 Januari 2026 - 18:48 WIB

Pastikan Hak Terpenuhi, Lapas Pekanbaru Bagikan Perlengkapan Dasar di Blok Mapenaling

Rabu, 14 Januari 2026 - 14:33 WIB

Kapolda Riau Pimpin Sertijab, Wakapolda Resmi Dijabat Brigjen Hengki Haryadi

Rabu, 14 Januari 2026 - 11:31 WIB

Visi ‘Hijau’ Irjen Herry Heryawan Mengubah Stigma ‘Riau Penghasil Asap’

Selasa, 13 Januari 2026 - 21:21 WIB

Bupati Meranti Minta Layanan Paspor Dipermudah, Imigrasi Siap Bangun Pos Pelayanan

Berita Terbaru