Aceh Tenggara — Seorang kepala sekolah di Aceh Tenggara berinisial MW (47) menyerahkan dirinya pada realitas pahit setelah melaporkan dugaan perselingkuhan istrinya sendiri, ES, dengan seorang guru sekolah dasar berstatus aparatur sipil negara (ASN) berinisial NK. Tak kuat menanggung beban hati dan rasa malu, MW akhirnya mendatangi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Aceh Tenggara untuk membuat laporan pada Rabu (12/8/2026).
Perkara ini berawal dari kecurigaan MW terhadap perubahan sikap istrinya yang juga berstatus ASN di salah satu dinas. ES disebut kerap bolak-balik ke Kota Medan dengan dalih menjalankan usaha makanan ringan di Pasar Kutacane. Kekhawatiran MW semakin tajam setelah suatu malam menelpon video call dengan istrinya yang berada di ruang gelap dan berpindah tempat saat percakapan berlangsung. Ia menduga ada upaya menutupi keberadaan sebenarnya.
Konfrontasi terjadi ketika MW meminta istrinya pulang ke Kutacane demi keluarga dan anak-anak mereka yang telah dibina selama dua dekade. Namun, ES justru memperpanjang kunjungan di Medan selama beberapa hari. Kecurigaan ini makin kuat setelah MW mendapat informasi dari rekan istrinya yang menduga ES memiliki kedekatan khusus dengan NK, seorang guru yang juga telah berkeluarga.
MW kemudian memberanikan diri menghubungi istri NK. Dari percakapan itulah kepingan dugaan kian menyatu, sebab istri NK justru mengakui sudah mengetahui hubungan suaminya dengan perempuan lain dan mengungkapkan kekecewaannya. MW akhirnya memutuskan membawa kasus ini ke ranah hukum dengan berharap agar penyidik dapat mengusut secara objektif sesuai aturan yang berlaku.
Laporan MW telah tercatat dengan nomor Reg/367/VIII/Satreskrim. Ia menegaskan, meskipun aib rumah tangga telah terbuka lebar ke publik, seluruh proses diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum untuk mencari titik kebenaran dan menegakkan keadilan.
Hingga saat ini, kasus tersebut masih berstatus laporan, dengan kebenaran dan unsur pidana yang akan dibuktikan di tangan penyidik. Sementara itu, baik MW maupun istri NK menjalani hari-hari dalam bayang-bayang ketidakpastian rumah tangga yang terguncang akibat badai persoalan yang menimpa keluarga mereka.
Laporan ; Salihan Beruh


































