Kutacane – Anuar Ramut, S.P., M.Si, dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Gunung Leuser (UGL), memperoleh hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tingkat nasional dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi. Melalui dukungan hibah tersebut, ia bersama tim tengah memberdayakan kelompok tani dalam pengembangan herbisida dan insektisida nabati sekaligus biofertilizer berbasis jamur Trichoderma di Aceh Tenggara.
Program yang dijalankan sejak 2024–2025 itu berangkat dari hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) yang diraih Anuar Ramut di tingkat nasional. Pada 2026, hasil dan pengalaman riset tersebut kemudian dihilirkan menjadi kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dengan sasaran sektor pertanian, khususnya pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dan rehabilitasi lahan pascabencana banjir.
Kegiatan PKM ini mengacu pada skema resmi DPPM yang berada di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang menyediakan dana hibah untuk penelitian dan pengabdian di berbagai perguruan tinggi. Dalam program ini, Anuar Ramut bertindak sebagai ketua, dibantu dua anggota tim, yakni Deden Sumoharjo, S.P., M.P., dan Habibul Akram, S.Pd., M.Si. Mereka bermitra dengan Kelompok Tani Syari’at Bersama di Desa Kuta Tengah dan Leuser Group Agrofarm.
Fokus utama kegiatan adalah pemberdayaan petani dalam memanfaatkan bahan-bahan nabati lokal untuk meramu herbisida dan insektisida, serta penggunaan biofertilizer Trichoderma sebagai agen hayati. Teknologi ini diharapkan mampu membantu petani mengendalikan OPT sekaligus mempercepat pemulihan kesuburan lahan yang terdampak banjir di Aceh Tenggara, tanpa terlalu bergantung pada input kimia sintetis yang mahal.
Menurut Anuar Ramut, peran dosen tidak berhenti pada aktivitas mengajar di ruang kelas. Ia menilai riset dan pengabdian kepada masyarakat adalah dua pilar penting yang harus berjalan beriringan. “Seorang dosen harus paham hal-hal krusial, yaitu riset dan pengabdian, serta menulis buku dan jurnal sebagai pengembang pengetahuan. Apa yang diriset oleh dosen itulah yang seharusnya diajarkan di kampus kepada mahasiswa,” ujarnya.
Ia menambahkan, kurikulum seorang pengajar pada dasarnya melekat pada penelitian yang dilakukan. “Saya memandang bahwa kurikulum seorang dosen berada pada risetnya sendiri, sehingga dosen harus terus melakukan penelitian agar ilmu yang diajarkan tetap aktual. Hasil riset tersebut juga harus diabdikan kepada masyarakat,” kata Anuar Ramut.
Anuar menjelaskan, pada 2024 dan 2025 ia mendapatkan hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) tingkat nasional dari DPPM. Pengalaman tersebut kemudian menjadi landasan bagi program pengabdian yang kini dijalankan. “Pada tahun 2026 ini, hasil dan pengalaman dari riset tersebut saya hilirkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.

Ke depan, Anuar Ramut berharap ada penguatan ekosistem riset lokal, khususnya di Kabupaten Aceh Tenggara. Ia menilai perlu dibentuk lembaga yang secara khusus mewadahi penelitian di bidang agroteknologi sekaligus menyediakan skema hibah penelitian tingkat daerah. Dengan demikian, dosen dan peneliti lokal memiliki ruang lebih luas untuk mengkaji persoalan pertanian yang sangat spesifik di wilayah tersebut.
Ia menegaskan, ilmu pengetahuan di bidang agroteknologi bersifat sangat dinamis dan spesifik lokasi. Perbedaan ketinggian tempat, karakteristik tanah, kemiringan lahan, iklim, suhu, kelembapan, keberadaan mikroorganisme serta OPT, membuat kebutuhan dan respons tanaman bisa berbeda di setiap daerah. “Kebutuhan dan teknologi budidaya kakao di Sulawesi belum tentu sama dengan kakao di Aceh Tenggara, begitu juga pada padi dan komoditas lainnya. Karena itu kita membutuhkan riset yang dilakukan di daerah sendiri agar teknologi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi agroekosistem dan kebutuhan di Aceh Tenggara,” harapnya.
Dengan dukungan hibah nasional yang diterimanya, Anuar Ramut menilai ini momentum untuk menguatkan penelitian terapan dan pengabdian yang berakar pada persoalan nyata di lapangan. Ia berharap semakin banyak dosen dan peneliti muda di Aceh Tenggara terlibat aktif dalam riset-riset lokal yang langsung dirasakan manfaatnya oleh petani dan masyarakat.
Laporan Salihan Beruh



































